
Pekikan kencang dalam sebuah kamar mewah hotel bintang lima, sepertinya di pagi buta lantaran seluruh ruangan bernuansa remang-remang karena minimnya pencahayaan. Dua penghuni kamar itu yang masih terkantuk-kantuk pun terpaksa sadar demi adu mulut mempertahankan area kekuasaan.
***
Paska berteriak kencang saat menyadari sepasang kaki penuh bulu menindih kakinya, Manda reflek membuka selimut untuk memeriksa diri. Ia bernapas lega ketika menyadari masih mengenakan pakaian utuh, matanya
mendelik tajam pada sosok pria yang sedang mengucek matanya. Manda langsung memberikan tendangan maut tanpa ampun, namun pria itu hanya bergeser sejengkal karena efek tendangan itu.
“Sejak kapan kamu pindah ke sini?” Teriak Manda setelah meraih ponselnya dan meletakkannya di telinga Seo Jun. Pria itu masih bersembunyi di dalam selimut lalu menepis suara berisik dari indera pendengarnya. Manda mengerjapkan mata, tubuh atas pria itu hanya tertutup separuh, Manda cemas mungkin saja cowok itu keluar dari kamar mandi dan langsung naik ranjang.
“Jangan-jangan ini cowok masih bugil?” Manda bicara sendiri dengan nada geli. Ia mengintip pose tidur pria itu, sepasang bahunya terbuka yang bisa jadi dua kemungkinan antara pria itu hanya telanjang dada atau tanpa sehelai benang. Manda bergegas keuar dari dalam bed cover, ia parno harus berada dalam selimut yang sama dengan seorang pria. Manda kembali melirik Seo Jun yang tidur dengan muka tanpa dosa, disertai paduan suara dari
dengkurannya.
Manda memastikan waktu dari ponselnya, masih jam empat dini hari dan ia masih sangat ingin kembali tidur. Tetapi bagaimana dengan pria itu? Dibangunkan saja susah, apalagi disuruh geser tempat. Seorang gadis yang belum menikah tidak boleh satu ranjang dengan seorang pria, bahkan mereka belum dua puluh empat jam saling kenal. Masih bingung memikirkan solusi, serangan dari kaki Seo Jun kembali menindih. Kali ini tepat mengenai perut
gadis itu, membuat Manda merasa tertohok dan meringis kesakitan.
“Gila, nih cowok psikopat kali?” Manda beringsut, sepertinya ia yang harus menyerah dan tidur di bawah. Ia menarik bantal dan tanpa sengaja sekaligus menarik selimut hingga tubuh seksi Seo Jun terpampang. Manda baru menyadari kelakuannya setelah selimut itu tergeletak sukses di lantai, ia mengerjap dan spontan menoleh pada Seo Jun. Jantungnya nyaris copot melihat potongan tubuh terbuka pria Korea itu, bayangan Manda berimajinasi bahwa tubuh kekar dan berwarna kulit condong putih itu seperti potongan seekor ayah utuh yang sudah dicabuti bulunya – polos tanpa penutup tubuh. Ia mengelus dada dengan lega, karena pikiran kotornya hanya ada dalam khayalan saja. Seo Jun ternyata masih mengenakan celana boxer.
__ADS_1
Manda berdiri di samping ranjang sambil melipat tangan, setelah tak sengaja menyibak fakta bahwa Seo Jun tidak bugil, ia merasa enggan untuk mengalah begitu saja. “Saatnya pembalasan!” Ungkap Manda penuh antusias, ia tak akan memberi ampun pada Seo Jun yang sudah menindihnya dua kali meskipun itu tidak disengaja. Manda lagi-lagi mengeluarkan tendangan, tubuh pria itu yang miring ke kanan memudahkannya untuk menggusurnya. Dua kali tending saja berhasil membuat Seo Jun menggelinding dan ambruk ke bawah.
Bruk! Dentuman suara jatuh itu bergegas membuat Manda mengintip korbannya dengan was-was. Ia tak menyangka akan membuat pria itu terjatuh, niatnya hanya memberi sedikit efek guncangan agar Seo Jun bangun.
Pria itu mengerjap sembari mengusap kepalanya, antara sadar dan separuh mengantuk ia merasa kesakitan. “Apa-apaan ini?” Ujar Seo Jun dalam bahasa ibunya.
“Kamu nggak apa-apa?” Manda menerjemahkan dalam bahasa Korea untuk mengecek keadaan Seo Jun. Ia sedikit merasa bersalah dan membenamkan separuh wajahnya dengan bantal sembari mengintip Seo Jun. Kali ini
ia sudah kembali menguasai ranjang jumbo secara paksa.
Seo Jun agak terheren, kantuk membuatnya linglung dengan keberadaannya. Ia mengira sedang tidur di kamarnya, dan lupa bahwa ia sudah berada di luar negeri. Setelah kesadarannya mulai terkumpul dan melihat Manda, kepingan ingatannya kembali menguat. Ia bergegas bangun dan mengira barusan terjatuh sendiri gara-gara ngelindur.
bawah aja atau di sofa! Aku yang duluan tidur di sini!” Pekik Manda dengan egoisnya.
Seo Jun mengernyitkan dahi, mereka sebelumnya tidur bersama dan gadis itu tidak protes. Kenapa sekarang ia berang dan sok berkuasa? “Geser sana, dari tadi kita barengan nggak ada masalah kok.” Seru Seo Jun setelah menerima operan ponsel untuk bicara.
Manda mendelik, “Mana boleh! Kita bukan pasangan, nggak boleh tidur bersama di sini.”
“Kalau gitu kamu yang di sofa saja!” Tolak Seo Jun dengan cepat. Tubuhnya sudah merasakan kedinginan plus kesakitan akibat terjatuh tadi, lalu sekarang disuruh tidur di tempat yang tidak berkualitas. Mana mungkin bos muda itu mau, seumur-umur dia belum pernah kesusahan sampai harus tidur di sofa.
__ADS_1
Belum sempat Manda membalas, tiba-tiba pria itu menggusarkan hatinya dengan bersin beruntun. Pria itu bahkan menggosok hidungnya yang gatal dan mulai memerah. Manda meringis melihat itu, mereka terdiam lantaran Seo Jun sibuk menggigil dan Manda sibuk melototinya.
Sepertinya dia kena gejala flu, pasti karena tidur di kamar mandi tadi. Duh gimana nih? Batin Manda bertanya-tanya. Di satu sisi ia tidak tega menindas orang sakit, di sisi lain ia pun tidak mau terima disuruh tidur di sofa. Ia kembali berpikir harus ada win-win solution untuk menengahi masalah ini.
“Ya udah kamu tidur aja!” Ujar Manda dengan lembut, ia bergeser memberi tempat bagi pria yang tengah memangku tangan saking kedinginan.
“Udah tahu kedinginan kok tidur nggak pake baju!” Jiwa feminim Manda hanya bertahan sesaat, ia kembali cerewet lantaran pria yang ia yakini akan demam itu masih tak punya inisiatif menutupi tubuh bagian atasnya sebelum kembali tidur.
Seo Jun tidak menjawab, setelah Manda bergeser, ia langsung rebahan dan menarik selimut. Matanya kembali terpejam, lalu ia mulai menggigil. Manda panik dibuatnya, ia mulai menjulurkan tangan dan meraba dahi pria itu untuk memastikan kecurigaannya.
“Tuh kan, apa aku bilang. Jangan panggil aku Amanda Salim kalau kamu nggak demam gara-gara tidur di sana. Eh, demam beneran, trus gimana sekarang?” Manda menatap wajah polos pria itu, sepertinya ia sudah kembali terlelap dengan cepat.
Manda mengingat lagi barang bawaannya mungkin terselip obat-obatan, nyatanya di tasnya tidak satupun perlengkapan medis meskipun itu hanya sebuah minyak angin. Ia mulai menggerutu, kualitas tidurnya sangat terganggu gara-gara pria itu. “Kalau tahu kayak gini mending aku tidur di mobil aja, lebih nyaman nggak ada yang ganggu. Sekarang musti gimana ini? Masa aku harus keluar beli obat jam segini?”
Manda menggigiti bibirnya sembari terus memikirkan solusi, tapi ia kembali melirik Seo Jun yang tertidur dengan damai, bahkan setelah benar-benar terlelap pria itu tidak menggigil lagi. Kondisi itu membuat Manda sedikit tenang dan mulai egois, “Baguslah kalau gitu, ditinggal tidur paling sembuh.”
Niat untuk menjadi suster dadakan pun dibatalkan, kini Manda lebih tergoda untuk memikirkan cara berbagi ranjang tanpa berdempetan. Senyumnya mengembang lebar, sepertinya ia sudah menemukan ide brilian. Manda menjentikkan jarinya kemudian bergegas mewujudkan imajinasinya, ia jamin idenya ini akan membuatnya kembali tidur nyenyak tanpa perlu ditindas pria itu lagi.
***
__ADS_1