
Manda menggeleng dengan cepat sebagai bentuk penolakan terhadap ayahnya. "Aku mana bisa membiarkan ayah menderita? Ayah satu-satunya orang terdekatku di dunia ini. Aku hanya punya satu orang ayah, bagaimanapun carannya Manda akan menolong ayah." Tegas Manda, tak ia sangka pertemuan kali ini dengan ayahnya harus sedikit adu urat. Padahal ia ingin menghibur dan menguatkan ayahnya, tetapi rasa pesimis pria itu begitu kentara, membuat Manda harus sedikit berkeras hati menghadapinya.
Antonio terlihat sedih, semakin keras Manda bertekad rasanya tidak membuat hati ayahnya senang. "Masalahnya kamu mau dapat uang sebanyak itu buat sewa pengacara dari mana? Ayah sudah tidak punya tabungan lagi, bahkan sekarang ayah tidak tahu kamu tinggal di mana, bagaimana kamu bertahan hidup selama ayah di penjara?" Gumam Antonio sangat sedih, ia merasa gagal sebagai orangtua lantaran tidak memberi kebahagiaan pada putri tunggalnya.
Manda mendekati ayahnya kemudian meraih jemarinya untuk digenggam erat. "Ayah masih ingat dulu waktu aku kecil, ayah pernah cerita kalau orang baik selalu dapat jalan baik, pasti akan ada yang menolong ketika susah." Tanya Manda, ia sengaja menjeda ucapannya agar bisa melihat respon ayahnya.
Antonio mengernyit, ia sudah lupa pernah cerita seperti itu. Manda menghela napas, ia paham maksud ayahnya meskipun hanya dari ekspresi wajah. "Ayah bisa saja lupa, tapi Manda tidak! Aku masih ingat semuanya dan percaya, apalagi setelah aku membuktikan sendiri cerita itu memang benar. Di saat aku kesusahan, ternyata ada orang yang menolongku ayah." Manda tersenyum, belum menyebutkan nama si penolongnya saja sudah membuatnya bahagia.
Antonio tampak cemas, ia takut anak gadisnya justru dimanfaatkan orang dengan kedok menolong, namun justru dipermainkan. "Siapa yang menolongmu? Bagaimana cara dia menolongmu?" Tanya Antonio sedikit mendesak jawaban dari Manda.
Manda tersenyum polos, "Dia... Dia bukan orang sini, ayah. Tapi dia memberiku pekerjaan, tenang saja ayah, aku mencari uang halal kok. Ya walaupun gajinya bernilai nggak masuk akal, tapi sejauh ini aman kok."
"Kerja apa yang gajinya nggak masuk akal?" Selidik Antonio, ia merasa debaran jantungnya semakin kencang. Ia takut mendengar bahwa anak gadisnya menghalalkan segala cara demi bertahan hidup.
Manda nyengir, ia tampaknya paham pikiran negatif ayahnya yang tersorot dari matanya. "Ayah jangan mikir aneh deh, Manda nggak segila itu ngorbanin diri demi uang. Ini kerjaan halal kok, suwer halal. Manda cuman jadi supir seorang turis, dia juga ikut datang ke sini kok. Lagi ke toilet aja, cuman kok lama ya belum balik? Hmm...." Gumam Manda, ia yang menjelaskan, ia pula yang bertanya. Sekarang ia benar-benar ikutan bingung, mengapa seorang pria perlu waktu yang cukup lama hanya untuk ke toilet?
__ADS_1
Manda yakin antrian di toilet rumah sakit tidak akan seramai antrian toilet umum di mall atau bioskop, lalu kenapa Seo Jun tak kunjung kemari? Sembari Manda melamun memikirkan penyebabnya, Antonio membuyarkan lamunannya dengan kembali bertanya.
"Kamu jadi supirnya turis? Berapa dia menggajimu sampai kamu bilang nggak masuk akal?" Tanya Antonio makin penasaran, meskipun ia terbatas fisik dan waktu untuk menjaga Manda, namun ia merasa wajib untuk mengetahui apa yang dilakukan Manda di luar sana, dan bersama siapa saja gadis itu berinteraksi.
Manda menepis sejenak kekhawatirannya pada Seo Jun, ia kembali fokus pada ayahnya. "Ng... Itu... Dia berani bayar aku dua puluh juta untuk tarif sehari, ayah." Ucap Manda agak ragu, ia yakin reaksi ayahnya pasti mendelik bahkan bisa saja menjerit.
"Apa? Supir model apa yang bisa dapat gaji sebesar itu? Manda, kamu nggak bohongi ayah kan? Kamu nggak ngapa-ngapain sama dia kan? Mana orangnya? Katanya dia ikut ke sini? Ayah mau lihat seperti apa orang yang berani bayar kamu mahal hanya buat jadi supir!" Nyolot Antonio, saking tak sabarannya sampai bangsalnya bergoyang karena ia terus bergerak.
Manda menghela napas, dugaan tepat tentang reaksi ayahnya. Tapi apa boleh buat, ia juga tidak bisa tertutup pada ayahnya. "Sabar ayah, sabar... Bentar lagi paling dia nyusul, dia orang Korea, ayah. Tajir melintir mungkin, yaa... Hanya orang tajir yang rela buang uang segitu royalnya demi jalan-jalan sebentar. Ayah nggak usah cemas, Manda bukan selera dia kok, jadi dia nggak bakal macam-macam." Jelas Manda, walau harus sedikit merendahkan dirinya, daripada ayahnya terus berpikir yang tidak-tidak.
Manda mulai gusar lalu berulangkali menatap pintu, "Eh serius nih orang lama bener sih. Apa nyasar lagi ya?" Manda bertanya-tanya sendiri dan didengar ayahnya. Ketika Manda melirik ayahnya yang tampak bingung, ia pun tersenyum canggung lantaran kepergok galau.
"Ayah, aku keluar bentar ya. Mau cari bosku dulu, takut dia nyasar lagi." Pamit Manda pada ayahnya kemudian buru-buru keluar dari sana.
Sebelum Manda sampai di pintu, seseorang yang sejak tadi pasang kuping mengintai serta mendengar percakapan mereka pun lebih dulu ambil langkah seribu. Manda langsung berlari menuju toilet yang ia tunjukkan pada Seo Jun sebelum mereka berpisah di jalan yang berbeda. Hatinya gusar, mengapa Seo Jun tampaknya bermasalah dengan rumah sakit. Dua kali ia datang bersama namun pria itu tetap bertingkah ada ada saja.
__ADS_1
Ketika Manda berlalu, Devi - Si pengintai sekaligus mata-mata kiriman Moon pun bisa bernapas lega, setelah merampingkan tubuh bersembunyi di belakang tiang besar.
"Huft... Nyaris saja." Ucapnya sambil menyeka keringat dingin di dahinya, saking tegangnya tadi. Apa kata dunia kalau ia sampai telat melarikan diri tadi?
Devi mengingat lagi kata-kata Manda yang membuatnya menganga lebar saat mendengarnya. "Gaji dua puluh juta sehari hanya jadi supir? Gila tuh oppa, tajir beneran sih? Lah tapi kok pelit ya sama aku? Masa aku jadi guidenya saja cuman digaji 5 juta sehari? 5 juta dibandingkan dua puluh juta kok berasa kesenjangan sosial banget ya? Aku juga nggak nolak lah digaji segitu buat jadi supir." Geram Devi, ia meremas jemarinya. Rasanya setelah ini ia akan demo kenaikan gaji pada Moon. Setelah mendengar gaji yang Seo Jun berikan pada Manda, ia merasa kurang dihargai jerih payahnya sebagai mata-mata profesional (menurut penilaian subjektif Devi), Moon hanya memberikan tujuh juta perhari. Semula terdengar wow, tapi setelah dibandingkan dengan gaji Manda, itu tidak ada apa-apanya.
***
Manda berlari hingga sampai di depan pintu toilet pria, kesadarannya masih ada untuk tahu batas bahwa ia tidak boleh menerobos masuk. Ia pun terpaksa menunggu di luar sejenak, kakinya terus dihentakkan saking ia tak tenang. Harus berapa lama ia mematung seperti penjaga toilet?
"Seo Jun! Lee Seo Jun...." Terpaksalah Manda harus berteriak dari depan pintu masuk toilet. Tapi, apa ada hasilnya?
***
Yuk vote karya ini ya guys. Sekalian gabung yuk di grup chat author, mari berkumpul dengan penggemar lainnya. Kita bisa ngobrol dan panen poin di sana. Thanks.
__ADS_1