Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 58 LUPAKAN SEMUA YANG TERJADI


__ADS_3

Belajar dari kegagalan sebelumnya, Devi akhirnya menemukan cara jitu untuk menutupi penyamarannya. Teringat jelas bagaimana Seo Jun meremehkannya dengan menarik penutup kepala jaketnya, Devi memang bersumpah tidak akan mengenakan jaket lagi untuk menjalankan aksi pengintaian. Ia berganti rupa menjadi seperti ini


seorang intel dengan setelan hitam ketat di sekujur tubuh, rambut dikucir serta mengenakan kacamata hitam. Penampilan luarnya sungguh mengesankan, lebih tepatnya membuat setiap mata yang menatapnya menjadi segan dan ngeri. Ia lebih mirip super hero wanita dan tampak sangat mencolok di kehidupan nyata.


Dina duduk di ruang tunggu hotel dengan posisi menyilangkan kaki serta wajah yang ditutupi koran. Sengaja


ia pasang aksi sok kutu buku agar kedoknya tidak mudah terbongkar. Agak lama menunggu di sana sehingga ia tak sabar lagi diam dan beranjak menuju meja resepsionis. Begitu melihat wajah seorang wanita yang duduk di belakang meja penerima tamu itu, Devi seketika bergidik. Bagaimana tidak? Ia punya pengalaman pahit dengan mbak di hadapannya. Masih ingatkah kalian dengan tingkah konyol antara Devi dan seorang resepsionis? Nah, Devi sekarang kembali berurusan dengan mbak CS itu.


Devi berdehem canggung, “Mbak, apa tamu bernama Lee Seo Jun masih menginap di sini?” Tanya Devi dengan tampang sok dingin serta pura-pura tidak mengenal mbak CS itu. Ia begitu yakin bahwa penyamarannya kali ini berhasil mengelabui siapapun hingga tidak mengenalinya sebagai Devi.


“Maaf, Mbak masih mencari tahu tentang tamu kami?” Ujar si resepsionis menatap dengan ekspresi datar pada


Devi.


Kepercayaan diri Devi terlampau tinggi hingga membuatnya terasa sakit begitu terjatuh di atas kenyataan pahit ini. Begitu mudahnya penyamaran ini diketahui, bahkan oleh seorang pekerja hotel yang hanya sekali bertemu dengannya tapi dalam jangka waktu beberapa jam dan dengan kondisi yang menyebalkan. Devi tersenyum nyengir


lalu berusaha setenang mungkin memberikan jawaban, walaupun harus susah payah menenangkan hati.


“Yup! Dia tidak menjawab panggilanku, mungkin masih tidur atau mungkin ntah di mana. Ah, sudahlah... Tinggal dijawab saja, apa dia jadi menginap di sini?” Kesal Devi yang lelah berpura-pura lagi.


Si resepsionis itu menatapnya tanpa berkedip, suasana hatinya tetap terkontrol tenang dan akhirnya ia pun bersuara. “Tamu atas nama tersebut benar masih menginap di sini, Bu.” Jawabnya singkat jelas padat. Anggap saja melunasi sisa janjinya kemarin yang berniat membantunya.


Devi tersenyum sok keren lagi sembari mempermainkan gagang kacamatanya, “Terimakasih.” Jawabnya tak kalah singkat kemudian melenggang penuh gaya dan kembali duduk di tempat tadi. Tak lupa diambilnya kembali koran yang tadi ia baca kemudian membukanya, ia terlihat serius membaca dengan kacamata hitam dan posisi koran yang terbalik. Inilah efek karena ia terlampau fokus melakukan pengintaian hingga lupa untuk bersikap sewajarnya.


***


“Jadi hari ini mau ke mana bos?” Manda mengelap mulutnya dengan serbet seusai makan bersama. Entah bagaimana ceritanya yang jelas ia dan Seo Jun kembali berbaikan bahkan bisa duduk makan bersama dengan akur.

__ADS_1


Mungkin karena pujian dari Seo Jun yang menyebut Manda cantik, akhirnya meluluhkan hati gadis itu yang ternyata juga menikmati pujian itu. Atau mungkin karena tuntutan profesi yang mengharuskan Manda kembali baik pada bosnya, biar bagaimanapun ia digaji per hari dan gajian harus tetap jalan hari ini. Semua demi dua puluh juta,


mungkin itulah slogan Manda.


Seo Jun mengangkat bahu kemudian meraih ponselnya, “Terserah kamu, aku tidak punya rencana. Apa kamu


bisa merekomendasikan tempat wisata yang menarik di sini?”


Manda tampak serius berpikir, ia mengetukkan jari telunjuk ke bibirnya. “Hmmm... Aku tidak yakin ada, kota ini lebih banyak pusat keramaian. Kecuali... Kalau mencari objek wisata ke luar kota.” Celetuk Manda dengan aplikasi andalannya.


Seo Jun tampak tertarik mendengar usul Manda. “Oh ya? Apa kita ke Bali saja? Jauh tidak dari sini?” Usul Seo Jun secara spontan, ia teringat destinasi menarik dari Indonesia yang begitu dibanggakan oleh turis asal negaranya.


Manda terkejut mendengar usul Seo Jun, Bali memang menarik untuk dikunjungi apalagi bagi turis asing seperti Seo Jun. Namun jaraknya itu yang menjadi kendala, Manda tak yakin bisa pergi menemani perjalanan si oppa ke sana. “Jauh dan harus ditempuh dengan pesawat. Atau kalau mau pakai bis juga bisa tapi lebih lama. Tapi....” Manda terdiam, ragu untuk melanjutkan.


“But?” Jawab Seo Jun penasaran hingga langsung celetuk dengan bahasa Inggris.


Seo Jun mengernyit heran, “Kenapa tidak bisa? Apa bayaranku kurang? Aku bisa menambah pembayaran


untuk trip keluar kota.” Ujar Seo Jun tanpa pikir panjang.


Manda menggeleng pelan, bukan masalah bayaran yang ia persoalkan. Yaa... Meskipun jiwa misqueennya meronta-ronta saking panasnya mendengar kata pembayaran yang ditambah. Tapi apa daya, ada tanggung jawab yang harus ia emban di kota ini. “Aku belum bisa meninggalkan kota ini, ayahku masih belum sehat.” Lirih Manda tampak sedih.


Seo Jun mengangguk paham, kini ia tahu keresahan Manda yang penuh perhatian pada ayahnya. “Bagaimana


kondisi ayahmu sekarang?” Tanya Seo Jun hati-hati.


Manda kembali menggeleng, “Aku belum tahu sebelum menjenguknya lagi.” Desisnya pelan.

__ADS_1


Seo Jun terdiam sejenak, menjenguk berarti ia harus ikut lagi ke rumah sakit. Beberapa menit mereka hening dalam pikiran mereka masing-masing, hingga Seo Jun kembali angkat bicara memecah keheningan.


“Pergilah, jenguk ayahmu dan pastikan ia mendapatkan penanganan terbaik sampai sembuh.”Gumam Seo Jun.


Manda menatap lekat Seo Jun dengan mata berbinar, ia nyaris tak percaya apa yang dikatakan pria itu tetapi semua memang jelas diutarakan, Seo Jun mengijinkannya pergi menemui ayahnya. “Sungguh? Kau membolehkanku pergi? Kau tidak apa-apa ditinggal sendiri? Ah, terimakasih bos.” Jawab Manda begitu bahagia.


Seo Jun mengangguk mantap dan tersenyum smirk, “Tentu saja, tetapi tidak meninggalkanku sendiri. Aku akan ikut bersamamu!” Tegas Seo Jun.


Senyum Manda berubah nyengir, ternyata tidak ada yang bebas syarat dari pria itu. Namun bukan Manda namanya jika menurut begitu saja, “Bos mau ikut? Boleh... Tapi dengan satu syarat.” Ujar Manda tersenyum licik.


Seo Jun mengernyit dahi, Manda rupanya mengajaknya bermain-main dengan persyaratan. “Katakan saja!”


Seru Seo Jun seraya melipat tangan dan duduk menyilangkan kaki di sofa.


Manda menatapnya dengan serius kemudian menyeringai, “Berjanjilah untuk melupakan apa yang terjadi semalam.” Ujar Manda lalu menjeda perkataannya demi melihat respon Seo Jun.


Nyatanya Seo Jun masih terdiam, berusaha tenang tetapi diam-diam mengangkat satu alisnya.


“Lupakan segalanya seolah tidak terjadi apa-apa, okay?” Lanjut Manda tampak serius menyatakan permintaannya.


Seo Jun masih terdiam, sengaja menggantungkan jawaban. Ia begitu menikmati mimik Manda yang tak sabaran digantung kepastian. Dari raut wajah Manda saja terlihat betul ia ingin Seo Jun segera menyetujuinya. Namun apa semudah itu bagi Seo Jun untuk bekerja sama? Menganggap kenangan indah semalam tidak pernah terjadi?


***


Hai, terimakasih sudah membaca episode ini ya. Tinggalkan jejak like dan komentar kalian ya. Oya, plis follow akun author juga dong bagi yang belum follow, caranya mudah : klik profil author kemudian klik ikuti.


Makasiiih... Kita lanjut besok lagi ya ^^

__ADS_1


__ADS_2