
Manda dan Seo Jun masih saling berpandangan, bahkan senyum kikuk Manda belum sempat terkatup hingga membuatnya terlihat konyol. Seo Jun menghela napas kemudian meraih ponselnya lalu berkata, “Tunggu di sini, aku
yang masuk sebentar.” Ujar Seo Jun kemudian berbalik hendak meraih gagang pintu mobil.
“Wait!” Seru Manda yang reflek menarik jas Seo Jun dari belakang. Terlalu sulit meraih lengannya hingga terpaksa harus menarik seperti ini. Manda berhasil menghentikan gerak Seo Jun, pintu mobil tak jadi dibuka bahkan Seo Jun membalikkan badan dengan tatapan heran.
Manda berdehem agar tidak canggung ditatap seperti itu, ia pun mengarahkan ponsel ke dekat bibirnya. “Jangan masuk sendirian, aku saja yang selesaikan masalahku.”
Seo Jun tersenyum tipis, tatapannya berubah lebih teduh dan enak dilihat. “Kalau begitu kita masuk berdua saja sekalian lanjutkan minum.” Ujar Seo Jun girang. Ia yang mengajak Manda ke bar untuk minum namun ia belum meneguk sedikitpun minuman yang dipesan dan harus rela diajak pulang begitu saja.
Manda mengernyit kemudian mengucapkan kata-kata sebagai balasan. “Jangan! Aku tidak mau dipermalukan lagi. Lagipula kenapa kamu harus sok bicara bahasa Indonesia kalau tidak tahu artinya!” Kesal Manda, momen
memalukan beberapa menit lalu kembali teringat saat Seo Jun dengan gampangnya memanggil ‘madu’ padanya.
Seo Jun tersenyum bangga, ia salah kaprah mengira itu sebagai pujian atas prestasinya. “Kamu terkejut? Aku hebat kan bisa menghapal secepat itu. Mereka pasti percaya kalau kamu itu pacarku.” Ungkap Seo Jun percaya diri.
Manda nyengir lalu menatapnya kesal, napasnya jadi tak beraturan saking jengkel melihat tingkah Seo Jun yang tidak tahu letak kesalahannya. “Hebat apanya? Kamu membuatku ditertawakan mereka, pasti setelah ini muncul gossip kalau aku jadi simpanan orang.” Teriak Manda kesal, semakin kesal karena hasil terjemahan itu tak bisa mewakili ekspresi marahnya, justru terdengar datar ala robot.
Seo Jun terdiam, ia tengah berpikir salah mengucapkan apa sehingga Manda segitu marah. Niat baiknya ingin menolong Manda justru sebaliknya menambah masalah baru bagi supir cantiknya itu. “I’m sorry… Really sorry.” Lirih Seo Jun, ia sedikit menunduk dengan mata yang menatap ke bawah, menyatakan penyesalan terdalamnya telah mengecewakan Manda.
__ADS_1
Manda bergeming, ia tak punya pendapat apapun untuk diungkapkan saat ini. Keduanya membiarkan suasana jadi hening dengan pikiran masing-masing, Manda bisa merasakan penyesalan Seo Jun yang tulus namun tidak mudah juga baginya untuk langsung menganggap masalah itu sepele. Ia tahu betul mulut jahat Bella yang baru terkuak, hampir pasti akan membuat gosip panas tentangnya di kalangan teman-teman Manda. Jika itu terjadi, habislah sudah kepercaya-dirian Manda untuk kuat menapakkan kaki di tengah kemelut hidupnya kini. Dan Seo Jun tidak tahu beban apa yang dipikul Manda di kedua pundak tipisnya itu.
“Aku hanya ingin bantu kamu, aku nggak bisa biarkan kamu ditindas mantanmu.” Timpal Seo Jun lagi setelah tak betah terus bungkam. Manda perlu tahu alasan dia melakukan hal tadi, bahkan andai Manda tidak menariknya pergi, mungkin Seo Jun bisa ikut lepas kendali dan memukul Jovas. Orang yang menyakiti Manda, tak bisa dibiarkan oleh Seo Jun karena entah mengapa ia pun merasa sakit ketika melihat gadis itu menangis.
Manda tersentak kaget, ia menyipitkan mata menatap Seo Jun seolah mencari penjelasan lebih detil dari sorot mata itu. “Darimana kamu tahu dia mantanku?” Tanya Manda penuh selidik.
Wajah Seo Jun yang tadinya sendu mulai berbinar, ditambah senyuman yang melekat di bibirnya langsung melunturkan ekspresi sedihnya beberapa detik lalu. “Oh, aku kembali dari toilet dan melihatmu seperti marah
lalu aku tanya pelayan di sana untuk cari tahu masalahmu. Keren kan aku?” Tanya Seo Jun dengan narsis, sikap percaya dirinya itu begitu cepat muncul, menimbulkan kesan seolah pernyataan maaf tadi hanya acting saja.
Manda melongo melihat pria narsis di hadapannya. Ia tak habis pikir Seo Jun bisa sekepo itu, namun di sisi lain hatinya merasa senang dengan perhatian itu. Terlebih Seo Jun telah berusaha menolongnya, walaupun persentase gagalnya lebih besar dan tak sesuai ekspektasi.
Keduanya diam dan saling menatap hingga kemunculan Jovas dan Bella di area parkiran mengalihkan perhatian Manda. Tanpa diminta pun Seo Jun ikut melihat ke arah yang menyita perhatian Manda, tampak pria yang tadi ditampar Manda itu masuk ke dalam mobil dan bersiap meninggalkan bar. Senyum lebar mengembang dari bibir Seo Jun, ternyata kemenangan ada di pihaknya tanpa perlu berbuat lebih. Cukup diam dan sabar menunggu, akhirnya si pengacau itu pergi dengan sendirinya.
Manda nyengir, ia tak menyangka tekad Seo Jun untuk minum begitu kuat. “Sebenarnya kamu simpati padaku atau memang sengaja menyita waktuku agar bisa minum?” Ujar Manda dalam bahasa Indonesia, karena ia memang
tak mengharapkan jawaban dari Seo Jun. Ia hanya ingin mengatakan itu sekedar iseng, karena ia tahu dan merasakan maksud baik Seo Jun padanya.
“What?” Tanya Seo Jun bingung dengan perkataan anda. Ia sudah di luar mobil dan menatap Manda yang ikut turun dari sana. Bahkan ketika mereka berjalan masuk ke dalam bar, Manda masih cuek dan tidak berniat menjelaskan apa yang ia gerutukan tadi meskipun Seo Jun merengeknya.
__ADS_1
***
“Aku pikir kamu mau minum gratis rupanya balik lagi, mau pesan apalagi nih?” Tanya bartender yang sudah mengenal Manda karena memang sudah berlangganan di bar ini.
Manda nyengir saja kemudian memesan ulang minuman, “Seperti yang tadi saja, belum puas kalau belum kelar minumnya.” Gumam Manda tanpa perlu bertanya pada Seo Jun tentang minuman yang ingin dipesan, ia yakin pilihan pria itu masih setia pada Vodka.
Hanya beberapa saat saja bartender sudah menyajikan pesanan Manda, terlihat Seo Jun penuh antusias menuang minuman dalam botol ke gelasnya lalu meneguk dengan lahap seperti orang yang lama kehausan. Manda berdecak
melihat kelakuan oppa itu, sikapnya tak luput dari perhatian si bartender yang sekaligus menjadi saksi keberanian Manda membuat kekacauan sesaat di sana.
“Yang bener saja itu sugar daddy lu? Nggak meyakinkan sih….” Gumam si bartender mengungkapkan penilaiannya.
Manda berdehem keras dan melototi bartender itu, “Gue bukan gadis simpanan, sekere-kerenya gue nggak bakal jual diri. Dia hanya salah ngomong aja tadi, dan lu jangan sembarangan ngomong bahasa Inggris, gue nggak
mau dia tahu apa yang kita bicarakan.” Kecam Manda.
Si bartender mengangkat satu alisnya, “Oh, kayaknya ini cowok kualitas impor. Buatan mana nih? China? Jepang?”
“Korea.” Timpal Manda tegas memotong pertanyaan si bartender. Ada sedikit rasa bangga ketika menjawab itu, dan konyolnya Manda tak mengerti untuk apa ia harus berbangga hati memamerkan asal usul Seo Jun yang hanya berstatus bosnya. Ya, bos sementara selama ia tinggal di Indonesia.
__ADS_1
***
Seperti biasa mohon dukungan dengan like dan komentar, makasih.