Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 28 PERCIKAN CINTA YANG TAK DISADARI


__ADS_3

Pekikan Manda yang memekakkan telinga langsung direspon oleh Seo Jun. Tangan pria itu tertahan di bagian karet perutnya, teriakan gadis di belakang mengurungkan niatnya untuk melorotkan penutup tubuh bagian bawahnya. Tubuhnya masih menghadap kloset, namun Seo Jun memalingkan wajah kepada Manda yang hampir pingsan berdiri saking kagetnya.


“Are you nuts?” Manda mengulang umpatannya sekali lagi, Seo Jun sepertinya hendak menguji kesabarannya. Tampang tak berdosa milik pria itu menyeringai nakal, makin sengaja menggoda Manda. Pria itu berjalan


menghampiri Manda yang masih diam di depan wastafel. Bibir Manda ternganga, ekspresinya mulai tegang lantaran tidak bisa menebak apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.


“Nona, kau berani melawan bosmu? Di sini hanya ada kita berdua dan kamar mandinya hanya satu, apa salahnya joinan sebentar? Kamu di sana, aku hanya pakai klosetnya sebentar.” Ujar Seo Jun dengan senyum liciknya.


Ia berbicara dengan kedekatan setengah meter dari wajah Manda, membuat gadis itu sedikit gemetaran saking canggungnya ditatap sedekat itu. Kedua manusia berlawanan jenis itu mematung dengan bola mata yang nyaris tak berkedip, Manda kehilangan kata-kata, otaknya cuti untuk memikirkan solusi menghadapi penindasan si Oppa.


Gawat, kalau begini terus bisa berakhir ciuman nyasar nih. Manda membatin saking paniknya melihat sorot mata Seo Jun yang tampak menakutkan baginya. Binar mata pria itu begitu menggoda, mempercepat pompa jantung Manda hingga terasa abnormal. Ia jelas tahu bahwa lewat bahasa mata bisa menciptakan kesempatan yang lebih intim, apalagi didukung situasi yang pas – hanya mereka berdua sekamar – mau melakukan apapun bebas asalkan suka sama suka. Dan benar saja kekhawatiran Manda, pria itu mulai mendekatkan bibirnya dengan mata terpejam.


Oh, tidak! Nggak lucu kalau aku terlibat cinta satu hari dengan orang asing ini. Walaupun dia tampan, tapi yang rugi banyak jelas aku. Pekik Manda dalam hati, matanya membulat penuh dan secara reflek ia menahan napas. Sebelum ciuman nyasar Seo Jun mendarat di bibirnya, tangan Manda lebih cepat merespon. Ia menutup bibir dengan satu tangannya yang sontak membuat Seo Jun mengerjap saat tahu bahwa ia berhasil ciuman dengan telapak tangan seorang gadis. Kesadaran pria itu langsung terkumpul, ia terpaku diam lantaran sedikit menyayangkan sikapnya yang kelewatan. Bagaimana bisa ia hampir kebablasan pada gadis yang baru ia kenal satu hari, meskipun ia sedikit suka dengan Manda namun bukan berarti ia boleh bertindak seenaknya.


“Get out from here, please!” Manda membalikkan tubuh tinggi tegap pria itu kemudian mendorongnya ke arah pintu. Seo Jun tidak berontak ketika Manda mendorongnya, ia bisa saja melawan dan pasti gadis itu kalah. Sekuat apapun gadis itu, tentu tak sebanding dengan kerasnya otot seorang pria dan tenaga kuatnya. Manda berhasil mengeluarkan si pengganggu, ia menghela napas lega. Bergegas ia mengunci pintu dan memastikan tak akan


membukanya sampai ia selesai mencuci pakaian kotornya.

__ADS_1


Seo Jun menjatuhkan tubuh di atas ranjang dengan kondisi terlentang dan kaki tangan meregang. Tatapannya lurus menghunus ke langit-langit kamar yang dominasi warna putih, semula wajahnya tampak tegang dan merasa sedikit bersalah, namun sesaat kemudian senyum lebarnya berubah menjadi tawa kecil. Ia terbayang ekspresi wajah Manda yang ketakutan saat ia menggodanya, terlebih saat mereka saling bertatapan dalam jarak dekat, Seo Jun


merasakan betul debaran kencang di dadanya. “Cute!” Seru Seo Jun sembari tersenyum manja, ia meraih sebuah bantal kemudian membenamkan wajah di baliknya.


Manda membilas pakaiannya dengan keran air yang terbuka, air yang mengalir itu hingga merembes ke bawah dan ia tidak menyadarinya. Tangannya sibuk mengucek namun pandangannya tertuju pada cermin di hadapannya, Manda masih kesal terlebih ekspresi wajah Seo Jun yang hendak menciumnya terbayang terus. Beberapa kali ia menggelengkan kepala setiap ingatan itu muncul, hingga saat ia merasa kakinya basah, barulah nyawanya


terkumpul lagi dan terkejut mendapati hasil lamunannya yang berantakan.


“Aaarrgghhh!” Pekik Manda dengan napas tak beraturan, ia mempercepat bilasan pada pakaian terakhir yang dikuceknya. Betapa menyebalkannya tingkah pria itu, mentang – mentang ia menggajinya dengan tinggi, bukan berarti harga dirinya diobral pula. Manda menyalakan hair dryer untuk mengeringkan pakaiannya, ia tak peduli tingkahnya konyol yang penting pakaiannya segera kering dan ia harus membuat keputusan penting.


Ponsel milik Manda tergeletak di meja, diraihnya ponsel itu kemudian dengan lantang bersuara.


“Aku mau berhenti kerja, bayarkan uang jaminanku sekarang!”


Seo Jun yang memejamkan mata dengan senyum lebar mendadak bangun ketika mendengar ancaman tegas itu. Mata Manda yang tajam dan air mukanya yang tak bersahabat menandakan bahwa gadis itu serius dengan


gertakannya.

__ADS_1


***


“Gimana, mbak? Orang yang saya cari sudah check in di hotel ini kan?” Devi kembali menghantui resepsionis yang melayaninya tempo hari. Mimik wajahnya lebih terkesan menekan pegawai itu ketimbang sedang memohon pertolongannya.


Resepsionis itu terlihat canggung, ekspresi wajahnya pun sebisa mungkin terlihat tenang walau tidak sepenuhnya berhasil. Apalagi kabar yang akan disampaikan pada Devi sudah dipastikan akan mengecewakan. “Maaf, Bu. Sampai sekarang tamu dengan nama yang ibu tanyakan belum check in.” Jawab resepsionis itu ala kadarnya, kali ini ia tak akan menjanjikan apapun lagi pada Devi.


Mendengar jawaban itu membuat Devi langsung lemas, kepalanya menunduk untuk menyembunyikan gurat kecewanya. Bagaimana ini? Apa Moon benar bahwa sepupunya bersama orang jahat. Kalau terjadi apa-apa sama cowok itu, habislah aku.  Devi mendongak, memamerkan senyum terpaksa pada resepsionis itu. Senyum yang punya maksud erselubung untuk menyusahkannya. “Mbak, coba cek sekali lagi siapa tahu keliru. He He ….”


“Maaf ibu, data kami sudah benar. Mungkin yang bersangkutan memilih hotel lain tanpa membatalkan reservasinya di sini. Maaf ibu, hanya ini yang bisa saya bantu.” Resepsionis itu menolak secara halus untuk terlibat lebih jauh dengan Devi.


Devi pun sadar bahwa pegawai di depannya itu tampak jengah karena direpotkan. Ia juga tak punya alasan lagi untuk ngotot mengganggunya. “Terima kasih.” Devi tersenyum kaku kemudian beranjak dari sana.


“Apa aku harus lapor polisi? Ini sudah lewat dua puluh empat jam dan sudah boleh diproses laporan. Tapi, kalau sampai itu terjadi maka kantorku juga pasti kena imbas. Duh … Gimana ini?” Devi menepuk jidatnya, tampangnya persis orang yang sudah frustasi. Ia menyendiri dalam mobil tanpa tahu kemana harus membawa dirinya pergi. Moon terus mengubernya, dan sekarang Devi kehabisan alasan untuk mengelak. Kemana lagi ia harus mencari


seorang pria Korea yang nyasar di Jakarta?


***

__ADS_1


__ADS_2