
Nyaris setengah jam Seo Jun duduk tersenyum sendiri, begitu lebar hingga deretan giginya nyaris terlihat semuanya. Satu fakta manis yang membuat suasana hatinya girang, mendapat pengakuan dari Manda yang diwakili dengan ciuman.
"Ehem... Dia menciumku di depan pria itu. Bukankah itu pertanda kalau kami sudah resmi?" Gumam Seo Jun, bertanya pada dirinya sendiri.
Kemudian ia menoleh ke belakang, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bibirnya manyun, tidak afdol jika tidak ada yang menjawabnya. Ia pun berdiri, berjalan keluar kamarnya menuju kamar Manda.
Tangannya mengetuk pintu kamar gadis itu, tidak ada respon apalagi sambutan. Seo Jun mengerutkan dahinya, merogoh ponselnya lalu mengetikkan sesuatu. "Manda, buka pintunya, sambutlah kekasihmu." Ujar google voice dari ponsel pria itu.
Zzzzzzz... Tetap tidak ada respon, mungkin suara ponsel itu tidak bisa diandalkan karena kalah nyaring. Seo Jun pun menghapal beberapa dialog yang dicarinya dari hasil terjemahan. Mengandalkan ingatannya yang begitu cepat menghapal kata-kata, ia boleh berbangga hati sekarang karena kemampuan itu bisa berguna.
Tok tok tok
"Manda... kekasihmu datang, bukakan pintu!" Pekik Seo Jun lantang dan penuh kebanggaan.
Teriakkan yang jelas tembus ke dalam kamar Manda, membuat gadis itu semakin bad mood mendengarnya. Pasca ciuman dadakan itu, Manda segera mengurunh diri di kamar saking malunya.
"Semua gara-gara si Jovas sialan! Geeerrrrr!" Geram Manda. Jika bukan karena didesak untuk pembuktian hubungan, Manda tidak mungkin senekad itu. Sebisa mungkin ingin melepaskan diri dari kejaran Jovas, tetapi sekarang Manda justru merasa sedikit menyesal.
Flashback saat ciuman....
Jovas menyeringai dan semakin panas melihat ciuman di depan matanya.
__ADS_1
"Yaaaaaaak... Manda hentikan!" Jovas menarik tangan Manda hingga ciuman itu berakhir paksa. Ia tak sanggup lagi melihat adegan mesra yang penuh penghayatan itu, hatinya terbakar api cemburu dan ia baru menyadari bahwa perasaannya kepada Manda masih ada. Ia tak rela Manda bersama pria lain.
"Apaan sih? Belum puas lihatnya? Mau dibuktikan lagi?" Tantang Manda kesal, padahal ia mulai menikmati ciuman mendebarkan itu.
Jovas makin kesal, ia mencengkram tangan Manda dengan erat. "Aku masih cinta kamu! Kembalilah bersamaku! Aku akan bantu kamu untuk membebaskan ayahmu sebagai bukti keseriusanku. Manda plis tinggalkan pria itu, ikut bersamaku." Pinta Jovas dengan segala kesungguhannya.
Manda terhentak, mendengar tawaran itu membuatnya berpikir ulang. Di satu sisi ia sangat ingin membebaskan ayahnya, di sisi lain ia sangat kesal dengan pengkhianatan Jovas yang ternyata main belakang dengan sahabatnya.
"Aku nggak perlu bantuanmu! Jangan pernah ganggu aku lagi!" Manda menepis tangannya kemudian segera menggandeng Seo Jun berlalu dari sana.
Flashback off....
"Manda...."
Senyum manis Seo Jun merekah, wajah imutnya pun dipasang sedemikian rupa saat melihat Manda menunjukkan batang hidungnya. "Kekasihku Manda he he...." Gumam Seo Jun, kata-kata yang berhasil ia hapalkan dari modal google translate.
Manda sewot, tapi di dalam hatinya berbunga-bunga mendengar kata itu. Hanya saja ada sedikit yang kurang dalam hatinya. Hmm... Apa semudah itu kami jadian? Rasanya kok kurang klop ya? Aku tidak tahu kesungguhannya seperti apa kepadaku. Gumam Manda dalam hatinya.
"Oppa, dengarkan ya! Soal tadi itu tindakan mendesak. Jangan diambil hati, aku minta maaf." Ujar ponsel Manda yang menyuarakan isi hatinya.
Wajah ceria Seo Jun berubah, ia mengucapkan balasan dengan cepat.
__ADS_1
"Apa bagimu ciuman itu hal yang biasa? Bagiku itu hanya boleh dilakukan oleh orang yang sama-sama punya perasaan. Apa bagimu tadi hanya pura-pura?"
Manda tertegun melihat raut kecewa Seo Jun, plus menyudutkan dirinya pada rasa bersalah. "Bukan begitu tapi...." Manda tak bisa menjawab lagi. Apalagi melihat wajah Seo Jun yang sendu, pria itu malah berbalik badan meninggalkan Manda. Kecewa karena hanya jadi alat balas dendam saja.
"Oppa...." Teriak Manda tapi tidak digubris, Manda hanya memandangi kepergian Seo Jun hingga menghilang dalam kamarnya.
Manda semakin serba salah, "Aku benar-benar keterlaluan. Bahkan itu bukan ciuman pertama kami. Tapi tadi sikapnya... Apa dia sudah menyukai aku sejak ciuman pertama kami?"
Memikirkannya saja membuat wajah Manda bersemu merah, ia segera menutup kembali pintu kamarnya lalu bersembunyi di bawah selimut.
Semua kebersamaan dengan Seo Jun terasa membahagiakan, pria itu muncul tepat di saat Manda terpuruk hingga ke dasar jurang. Jika pria itu tidak muncul, entah sedalam apa luka yang Manda rasakan sendiri. Keberadaan si Oppa justru sebagai obat yang tepat dosis sehingga membuat rasa sakit di hatinya beransur menghilang.
"Tapi... Dia bukan orang sini, dia hanya turis. Aku tidak mau jadi cinta sesaatnya." Lirih Manda.
Beberapa detik kemudian, selimut tebal itu tersingkap. Rambut Manda agak berantakan, tapi ia tidak peduli. Yang paling penting sekarang, Manda harus menyampaikan alasan keraguannya agar Seo Jun tidak salah mengartikan penyangkalannya.
Manda berjalan cepat keluar kamar dan menghampiri kamar Seo Jun, melakukan pembalasan dengan mengetuk pintu itu kencang, tanpa jeda, seakan bisa merobohkannya jika tidak segera terbuka. Caranya berhasil, Seo Jun membukakan pintu dengan wajah jengah, masih sakit hati dianggap pelampiasan.
Manda menjulurkan ponselnya kemudian berkata, "Apa kamu yakin tidak mempermainkan aku? Kamu akan pulang kapan saja dan aku harus siap patah hati kapanpun kamu pergi. Aku juga hanya pelampiasanmu kan? Hanya orang yang bisa kamu ajak senang ketika kamu berlibur, dan bisa kamu hempaskan saat kamu kembali ke negaramu. Aku... Aku tidak mau terluka lagi." Gumam Manda lirih, menundukkan wajahnya yang tampak sedih karena ketakutan terbesarnya dilontarkan juga.
Tanpa disadari, Seo Jun malah memberikan jawaban yang tak terduga, sepasang tangannya menarik Manda dalam pelukannya kemudian mendaratkan bibirnya tepat di bibir Manda. Tidak ada kata-kata apapun dari mereka, bahkan Manda tidak menunjukkan respon penolakan. Ciuman itu terjadi begitu apa adanya, dalam dan semakin basah.
__ADS_1
❤️❤️❤️