
Mereka menaiki lift menuju lantai tiga, sepanjang bersama tidak ada satupun yang bersedia buka suara. Seo Jun terutama, malam yang kian larut membuatnya ingin segera bertemu ranjang empuk dan melampiaskan seluruh kelelahan tubuh di atas kenyamanan itu. Lain halnya dengan Manda yang lebih perlu mandi ketimbang tidur, full kegiatan seharian di luar membuatnya penat, suntuk, capek dan kulit lengket karena berkeringat. Ia sempat risau barangkali aroma tubuhnya yang berparfum alami – jika tidak mau disebut bau badan – gara-gara keringat bercampur panas matahari akan tercium oleh Oppa itu. Nyatanya setengah hari menghabiskan waktu bersama, pria itu oke-oke saja. Atau mungkin penciumannya yang payah? Entahlah yang pasti Manda bersyukur ia tidak sejorok yang ia kira.
Finally, Seo Jun dan Manda berhenti di depan kamar nomor 318A. Seorang pelayan yang membawakan barang mengambil inisiatif membuka pintu kamar itu untuk tamu VVIP itu. Setelah menghidupkan lampu, pelayan itu
mempersilahkan kedua tamu menempati ruangan tersebut, sedangkan dia membereskan urusan barang.
“Wah ….” Gumam Manda dengan suara kecil, ia berdecak kagum mengamati desain interior dalam kamar mewah itu.
Seo Jun memberikan tip kepada pelayan itu setelah menyelesaikan tugasnya. Senyum sumingrah terpancar dari wajah pelayan itu. “Terima kasih tuan, nikmati malam romantis anda. Selamat beristirahat.” Ujarnya kemudian berlalu, meninggalkan Seo Jun dengan tanda tanya besar lantaran tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Manda yang mendengar jelas ucapan pelayan itu malah tersipu malu, “malam romantis apaan? Dikiranya aku mau begitu?” celetuk Manda sebel.
Seo Jun celingukan antara pintu dan Manda, spontanitas saja memandang ke arah pintu yang barusan ditinggalkan pelayan itu. “What did you say?” tanya Seo Jun bingung.
“Nothing, I want to take a bath. Don’t disturb me!” Pekik Manda. Ia sudah tak sabar bertemu dengan air, sebelumnya Seo Jun menggagalkan niat mandinya padahal kamar mandi sudah di depan mata. Kali ini semestinya tidak ada alasan lagi pria itu melarangnya. Begitu Manda menggeledah tas ransel untuk mengeluarkan seperangkat alat mandi, tiba-tiba Seo Jun berlari cepat melewatinya. Belum sempat menoleh, Manda sudah tahu apa yang Oppa itu lakukan ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
“Woi, aku bilang jangan ganggu aku mandi!” Teriak Manda kesal. Ia tak peduli lagi Seo Jun mengerti bahasanya atau tidak. Sekarang ia benar-benar kesal, pria itu sengaja bikin Manda marah. Semakin dibilangin malah semakin bertingkah bertentangan. Sekarang pria itu memonopoli kamar mandi, dan Manda terpaksa harus menahan diri lagi untuk reuni sama air dan sabun.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, Manda sudah berulang kali menguap saking bosannya menunggu pria itu selesai mandi. Apa yang dilakukan seorang pria hingga punya ritual mandi selama ini? Bahkan hampir mengalahkan rekor Manda yang terbiasa menghabiskan waktu di kamar mandi minimal dua puluh menit. Tapi itu dulu, ketika ia masih seorang nona konglomerat yang punya kamar pribadi yang tak kalah mewah dan berfasilitas lengkap seperti kamar hotel ini. Sekarang jangankan dua puluh menit, lima menit saja dia sudah was-was takut diintip lantaran menggunakan toilet umum.
Manda menyalakan TV Led di depan ranjang, tubuh dan pakaiannya belum diganti hingga ia merasa risih untuk mengotori ranjang. Biarlah setelah mandi, ia akan berpuas tidur di atas ranjang king size yang empuk itu. Bicara soal ranjang, Manda baru sadar bahwa tempat tidur hanya ada satu dan dia tidak mungkin satu ranjang dengan pria yang belum dua puluh empat jam dikenal. Siapa yang bisa menebak hati seorang pria? Ia harus mencari akal
agar tidak berbagi ranjang dengan Seo Jun. Tapi, kenapa pria itu tak kunjung keluar dari kamar mandi?
Manda meraih ponselnya lalu menghampiri kamar mandi, untung saja desain kamar mandi di kamar elit ini bukan model kaca transparan yang memajang penggunanya seperti ikan dalam akuarium. Gadis itu menempelkan telinga
di dinding, ia yakin tidak mendengar suara air dari dalam. Kalau bukan mandi, lalu apa pria itu bertapa di dalam sana?
“Halo, kamu sedang apa?” Suara aplikasi penerjemah disertai ketukan pintu dari Manda.
“Aaarrgghhh!” pekik Manda seraya menutup mata tetapi tidak sepenuhnya tertutup. Jari manis dan jari tengahnya merenggang sehingga membuat huruf V sebagai celah mengintip. Pria itu berendam dalam bathtub dengan
mata terpejam, memamerkan dada bidangnya yang kekar. Manda menurunkan tangannya, sekarang ia justru ketakutan. Jangan-jangan pria itu pingsan di sana? Ia berjinjit mendekati Seo Jun lalu kembali merasakan hembusan napas dari bawah hidung. Masih ada tanda kehidupan dari pria itu, lalu Manda menghela napas lega.
Sedetik kemudian terdengar suara mendengkur, Manda melongo dibuatnya. Ia sungguh tak habis pikir bagaimana bisa pria itu tertidur sambil berendam dengan bak penuh busa. Untung saja busanya ada, kalau tidak kemungkinan besar Manda akan menodai matanya dengan tontonan di bawah umur. Eh, tapi gadis itu sudah cukup umur sekarang.
__ADS_1
“Hei, bangun! Kau mau tidur di sini sampai kapan?” Gugah Manda, tak luput mengencangkan volume ponsel hingga maksimal. Lain cerita jika Manda sudah mandi dan tidak perlu menggunakan toilet, ia akan membiarkan pria itu terlelap di sana.
Senyap tanpa ada respon selain dengkuran, Manda menarik napas panjang kemudian menghelakannya. Dilihatnya gurat wajah Seo Jun yang tertidur pulas dengan rambut setengah basah, wajah itu memang tampak lelah. “Kau ini kayak hamster bisa tidur di mana saja. Yakin deh besok kalau nggak masuk angin, jangan panggil aku Amanda Salim!”
Manda menggugah lagi Seo Jun lebih kuat, balasannya hanya suara dengkuran serta tangan yang menepis gangguan dari Manda. “Aku gak tega ganggu orang tidur, tapi ini kan bukan tempat yang layak buat tidur. Ya udahlah terserah kamu! Trus, aku harus mandi di mana?” Manda meringis, selain masih perlu mandi, ia jelas punya keperluan pribadi menggunakan kamar mandi yang gabung dengan toilet itu. Meskipun pria itu merem, tidak menjamin keamanan Manda juga. Bagaimana kalau dia tiba-tiba bangun saat Manda sedang di dalam?
“Ya sudahlah, tidur aja aku nggak bakalan ganggu.” Manda menyerah, ia keluar dari kamar mandi dan mengambil alat mandinya. Nasibnya mungkin masih kurang mujur, bisa numpang istirahat di kamar mewah namun masih
harus tergusur di toilet umum hotel.
Saat hendak beranjak dari kamar, Manda tiba-tiba tersenyum lebar bahkan tertawa kecil. Ia baru sadar ada keberuntungan spesial dari kejadian ini, ia tidak perlu adu urat dengan Seo Jun untuk rebutan ranjang. Malam
ini Manda secara eksklusif menguasai ranjang King Size secara gratis.
“Ha ha ha ha …. Ini pilihanmu kan? Jangan salahkan aku tak bersedia berbagi ranjang denganmu.” Manda terkikih, ia penuh semangat mengganjal kertas sebagai pengganti kartu yang akan ia cabut. Sembari bersenandung
riang, Manda berlari mencari tempat mandi dan berniat segera kembali menikmati tidur berkualitasnya malam ini.
__ADS_1
***