Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 13 JADI SUPIR PRIBADI, DEAL!


__ADS_3

“Sepertinya ada yang konslet dengan otakmu, mumpung di rumah sakit mending sekalian suntik biar normal lagi.” Ujar Manda kesal mendapati kekhawatirannya dibalas lawakan garing, ia ditertawakan tanpa tahu alasannya.


Seo Jun terkejut, otomatis tawanya terhenti. “Kita di rumah sakit? Ngapain? Aku hanya tidur, kenapa harus dilarikan ke rumah sakit?” Protes Seo Jun yang tak menyangka tertidur sejenak sudah diboyong ke tempat yang tidak diperlukan.


“Mana kutahu kalau kamu cuman tidur, tahu gitu kubiarin aja ngorok di jalanan asal jangan di mobilku.” Jawab Manda ketus namun ucapannya hanya gertakan, nyatanya ia tak akan tega meninggalkan orang yang lagi susah begitu saja.


Oppa itu membetulkan gaya rambutnya, tidur sejenak plus digangguin terus membuat nilai ketampanannya berkurang. Ia masih dengan santainya berlagak tenang padahal Manda persis kebakaran jenggot. Mata gadis itu terbelalak menatapnya, seolah hendak menelannya saking gemes.


Seo Jun sadar sedang disoroti tajam, ia melirik ke pemilik mata itu lalu menunjuk ponsel di tangan Manda agar dipinjamkan untuknya. “Ada apa? Baru sadar kalau aku tampan?” Ujar Seo Jun penuh percaya diri tapi ngeselin bagi yang dengar.


Ekspresi wajah Manda auto seperti orang menahan muntah, ia rebut kembali ponselnya. “Cih narsis, kau lebih mirip pria cantik daripada tampan. Sekarang turun dari mobilku atau kukenakan tarif buat kompensasi udah ngacauin kerjaanku!”


Seo Jun menarik ponsel Manda, begitu terus yang mereka lakukan karena hanya mengandalkan satu ponsel untuk pelantara. “Kamu sekarang lagi kerja buat aku! Sehari sepuluh juta kubayar jadi supir pribadiku.” Seru Seo Jun setengah maksa dan ia sangat yakin tawaran tinggi itu pasti diterima.


Sepuluh juta sehari? Wow, sepuluh hari aja aku udah punya seratus juta. Uang segitu kalau cuman ngandalin narik online aja setahun belum tentu terkumpul keuntungan bersihnya. Aku bisa nabung buat sewa pengacara buat ayah, tapi … Apa hanya jadi supir saja? Gampang banget cari duit, jangan-jangan dia punya modus lain? Gumam Manda galau dalam hati, ia tergiur nominalnya tapi takut resiko plus-plusnya.


Sikap diam Manda justru disalah-artikan oleh Seo Jun, ia mengira uang sebesar itu terlalu kecil nilainya hingga gadis itu tidak tertarik. “Ehem, gimana kalau lima belas juta?” Belum apa-apa oppa itu sudah menaikkan separuh harga lagi. Mata Manda semakin hijau dibuatnya, mendengar tawaran yang belum direspon namun sudah melenjit angkanya membuat Manda kian getol memanfaatkan kesempatan. Ia makin beracting seolah masih keberatan dengan harga segitu.


“Hmm gimana ya? Lima belas juta masih dipotong uang bensin, uang makan, bukan lima belas juta pendapatan bersih dong?” Ujar Manda jual mahal dan sok perhitungan.


Perhitungan Manda mulai dipertimbangkan Seo Jun, namun uang belasan juta rupiah itu apa masih kekecilan padahal menurut pria itu nilai untuk jasa sewa sudah cukup fantastis. Moon saja hanya mengeluarkan biaya enam juta perhari untuk tarif guide, supirnya jauh lebih mahal hanya karena Seo Jun tertarik pada gadis itu.

__ADS_1


“Tawaran terakhir, dua puluh juta. Kalau masih nggak mau ya lupain aja deh aku cari yang lain.” Ujar Seo Jun mulai ikutan jual mahal, ia tahu sedang ditekan Manda dan ini saatnya menekan balik.


Dua puluh juta yang diserukan Seo Jun terdengar bak nyanyian merdu, hatinya berbunga-bunga mendengarnya. Kerja satu hari saja, ia bisa punya uang banyak dan segera cari kosan yang layak. Manda senyum senyum sendiri membayangkan uang sebanyak itu sudah di tangannya.


“Ehem, so kepastiannya?” Seo Jun enggan dianggurin dengan kepastian yang menggantung, padahal hatinya pun berdebar kencang takut mendengar penolakan.


Manda sadar kembali setelah mendengar todongan itu, ia mendehem sejenak sok garang. “Okay! Tapi dengan syarat wajib DP lima puluh persen di muka dan pembayaran harian dihitung mulai sekarang. Deal?”


Seo Jun mengkerut lagi, ia belum menukar uang sebanyak itu dan lagi hari sudah beranjak sore, itu artinya ia rugi jika dihitung mulai sekarang.


“Ehem… so kepastiannya?” Manda malah meniru omongan Seo Jun untuk balik menekannya.


Manda nyengir kuda, benar juga yang oppa itu sampaikan. Mereka saja baru saling kenal beberapa jam, ia memang perhitungan namun tidak bisa menindas seenaknya. Itu namanya makan gaji buta alias duit haram, pikir Manda.


“Okelah. Deal. Mana uang mukanya?” Manda menyodorkan tangan kanannya, meminta jatah.


Seo Jun geleng-geleng, rasanya ada yang salah dengan dirinya mengapa harus berurusan dengan gadis yang awalnya dikira polos dan imut. Ternyata bicara soal uang, sifat gadis itu mendadak bisa kurang lebih sama seperti Sofie yang menyebalkan. “Uangku belum cukup sekarang, antar aku ke money changer dulu. Ini job pertamamu.” Pinta Seo Jun.


“Oke siap bos!” Seru Manda girang bahkan penuh tawa lepas. Ia mengambil kembali ponselnya namun ditarik oleh Seo Jun, pria itu enggan mengembalikan.


“Biar aku yang pegang aja, kamu fokus nyetri.” Tolak Seo Jun.

__ADS_1


Manda menunjuk mau bicara, namun Seo Jun hanya menyodorkan ponselnya tanpa mengijinkan Manda memegang barangnya sendiri. “Lah, ini hapeku. Pakai punyamu aja.”


“Punyaku lagi diservis beberapa hari lagi baru selesai. Sementara ponselmu pinjam buatku. Orang lagi kerja dilarang main hape.” Ujar Seo Jun merasa bangga bisa menindas supirnya. Mentang-mentang ia membayar mahal lalu merasa seenaknya, sifat bossynya mulai keluar. Ia lupa tengah berlibur sebagai orang biasa dan menanggalkan status bos, nyatanya sifat itu sudah sepaket dengannya tanpa ia sadari.


“Lah bisa gitu? Orang kaya yang berani bayar supir dua puluh juta sehari ternyata rusak satu handphone aja nggak mampu beli. Serius nggak dia bisa bayar aku segitu?" Ujar Manda sengaja bicara sendiri tanpa bantuan alat penerjemah, biar Seo Jun penasaran apa yang ia sindirkan.


“Kamu ngomong apa tadi? Ulangi lagi!” Perintah Seo Jun.


Sayangnya Manda tak tertarik menggubrisnya, ia memilih menyetel radio dengan kencang dan membiarkan Seo Jun gondok dibuatnya. Mobil tetap berjalan menerobos kemacetan, Seo Jun mual dibuatnya. Sesekali ia berekspresi seperti akan muntah, tetapi Manda malah tertawa dan makin sengaja memainkan gas dan rem untuk memperparah kondisi bosnya.


“Kamu bisa nyetir nggak? Apa SIM mu hasil nembak?” teriak Seo Jun kesal, teriakannya seimbang dengan volume suara yang ia setel.


Manda bukan menjawab malah mengikuti nyanyian lagu dari radio, ia harus sedikit protes agar oppa itu mengembalikan ponselnya. Meskipun tidak ada yang menghubunginya, tetapi ia lebih nyaman bila barang pribadinya tidak berada dalam genggaman orang lain.


Merasa sengaja dicuekin, Seo Jun mematikan radio itu dan mengulang kembali pertanyaannya. “Kamu bisa nyetir nggak? Aku mau muntah ini!”


“Nih, muntahin aja.” Dengan selow Manda menyodorkan kantong plastik yang ia ambil dari dalam laci.


Seo Jun meliriknya dengan jengkel, arrggghhhh bisa dibatalin nggak perjanjian kerjanya?


***

__ADS_1


__ADS_2