
“Woi buka!” Kaca mobil yang jadi sasaran amukan Sofie masih terus menerima hantaman. Gedoran dari gadis yang tengah cemburu itu mungkin bakal memecahkan kaca jika tak segera dihentikan.
Manda masih diam memikirkan tawaran pria yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Menjadikannya supir pribadi dengan keterbatasan komunikasi yang mengandalkan translator? Apa bakal semulus itu kerjasama mereka yang ngadat-ngadat karena bahasa yang berbeda? Dan lagi, Manda baru saja menjadi supir online, apa worth it kalau dapat suspend dari perusahaan gara-gara tidak aktif?
Seo Jun meminjam lagi ponsel Manda, ada yang ingin ia bicarakan lagi. Manda menyodorkan ponselnya yang masih terbuka pada aplikasi translate pada Seo Jun.
“Jadi supirku sampai aku pulang ke Korea, aku bayar kamu berapapun yang kamu minta.” Seo Jun mengucapkan bahasanya dan diterjemahkan oleh aplikasi hingga dimengerti Manda.
Tawaran yang sangat menggiurkan, mata Manda berbinar mendengar iming-iming itu. Berapapun yang dia mau? Hanya dengan menjadi supirnya bisa digaji berapapun yang Manda sebutkan dan pria ini tidak menolak? Ia heran apa masih ada pria seroyal itu, hanya demi disupiri dirinya lantas rela meronggoh kocek tebal. Tawaran fantastis sekaligus menakutkan menurut Manda.
“Gimana?” tanya Seo Jun meminta kepastian. Ia harus dapat jawaban sekarang, atau dibiarkan saja kaca mobil Manda sebentar lagi dipecahkan Sofie.
Seo Jun tahu permintaannya terkesan tak masuk akal, wajar rasanya bila diragukan gadis yang tampak baik dan polos itu. Ia menawarkan kerja pada gadis yang namanya saja belum ia ketahui, dan Seo Jun baru sadar bahwa untuk mendapatkan kepercayaan seorang gadis setidaknya ia harus memperkenalkan diri.
“Aku Lee Seo Jun. Siapa namamu?” Seo Jun menjulurkan tangan, menantikan sebuah jabat persahabatan baru dari gadis itu.
Gedoran yang kian intens, Sofie bahkan sudah memegang sebuah kayu yang entah didapat darimana untuk menakuti penumpang di dalam. Ia mencoba mengayunkan menuju sasaran di pintu kaca tempat Manda duduk. Juluran tangan Seo Jun langsung beralih fokus saat ia melihat kegilaan Sofie yang mulai menjadi-jadi. Seo Jun langsung menarik kepala Manda mendekati dadanya yang sontak mengagetkan Manda yang tak siap didekap paksa orang tak dikenal.
“Sorry.” Ujar Seo Jun singkat. Ia melepaskan Manda yang masih bingung dan untuk tidak memberikannya sebuah tamparan. Seo Jun membuka kaca di sampingnya tanpa berniat keluar untuk bicarakan baik-baik.
__ADS_1
“Bisa kontrol sikapmu? Urusanku sama dia belum selesai dan jangan ganggu jika kau masih mau menunggu. Kalau nggak ya silahkan pergi sekarang, aku tidak mau menyusahkanmu lagi. Ini uang kompensasi buat kamu!” Seo Jun mengeluarkan puluhan lembar uang seratus ribu dan hendak disodorkan ke Sofie.
“Aku nggak mau uangmu! Aku mau kamu segera turun dan kita jalan-jalan! Bentak Sofie, ia enggan menerima uang yang diperkirakan empat juta lebih dari tangan Seo Jun. Meskipun Sofie sendiri bingung bagaimana cara bertahan tanpa memegang uang cash sama sekali. Uang terakhirnya sudah berpindah ke Manda barusan.
Seo Jun menghela napas, mimpi buruk apa ia sampai harus berurusan dengan gadis parasit itu. Andai sikapnya baik, masih mending untuk dipertahankan. Tetapi ini, belum apa-apa ia sudah beberapa kali bertindak seenaknya, seolah Seo Jun adalah miliknya dan harus selalu mendengar perintahnya.
“Ya udah, kamu sabarlah. Urusanku sama dia belum selesai. Jangan ganggu kami!” Seo Jun memberi ultimatum lalu menutup kembali kaca mobil.
Manda melihat kayu dengan panjang kisaran 1 meter yang dibawa Sofie pasti untuk menyerangnya, dan ia mulai mencerna sikap Seo Jun barusan pasti reflek ingin melindunginya. Apapun alasannya ia tetap kesal pria itu dengan gampang memeluk, dan lagi kekacauan barusan juga gara-gara dia. Gadis di luar itu pasti tak sepaham dengan pria Korea di hadapannya dan Manda hanyalah korban di antara mereka.
“Maaf, aku tidak bisa menerima tawaranmu. Kekasihmu tampaknya tidak setuju. Lebih baik kamu cari orang lain saja.” Dengan berat hati Manda mengucapkan penolakan, kalau mau jujur sebenanrnya ia sudah tergiur dengan bayaran sesuka hati. Kapan lagi bisa mengumpulkan pundi rupiah dengan mudah, setelah itu ia punya tabungan dan uang untuk sewa kos-kosan. Balik lagi ke realita, Manda tak mungkin menerima itu. Harga dirinya mau ditaruh kemana kalau sampai dengan mudahnya tergiur dengan penghasilan yang tak masuk akal dari kerjaan yang mudah.
“Heh? Kau keberatan gara-gara dia? Dia bukan kekasihku, bukan siapa-siapaku. Aku justru mau lepas dari dia yang makin kebangetan gak tahu diri. Plis, bantu aku! kubayar berapapun yang kamu sebut!” Seo Jun mengiba pada Manda. Dari sorot matanya saja bisa terlihat keseriusannya.
***
Petunjuk GPS terus diikuti oleh Reagan yang sedari tadi melacak keberadaan Sofie dari ponsel pintar. Ia duduk dengan gusar di belakang dan terus memberi petunjuk pada supir sesuai arah maps.
“Terus lurus pak dua ratus meter trus belok kanan.” Seru Reagan tanpa mengalihkan perhatian dari maps.
__ADS_1
“Wah ini sih mengarah ke Monas. Yakin nih bang?” Tanya supir taksi yang sejak tadi seperti dikadalin Reagan dengan petunjuk yang kadang menyasarkannya ke jalan sempit.
“Monas? Ngapain dia ke sana?” Celetuk Reagan.
“Ya mana saya tahu, Bang. Jadi gimana? Terusin aja nih?” Tanya supir.
“Iya iya terusin!”
Reagan menelpon nomor Sofie dan masih bernasib sama tidak diangkat seperti jemuran yang kehujanan. Ia makin gusar, mungkin kekasihnya diculik lalu dibawa ke markas penjahat. Pikiran negatifnya segera ia tepis, apa untungnya mencuri Sofie yang bawel dan susah makan itu? Jika hendak meminta tebusanpun, gadis itu bukan anak konglomerat atau terkenal yang bisa mendapatkan tebusan berjumlah fantastis.
Tanda GPS berbunyi lagi, Reagan tersenyum melihat titik di maps yang semakin dekat dengan orang yang ia cari. “Terus Pak, lurus aja nanti belok aja ke kiri.” Perintah Reagan.
“Lah, beneran toh Bang, ini mah ke Monas. Kalau terus ke kiri itu masuk ke dalam loh. Berhenti di luar gerbang aja ya Bang ntar jalan masuk aja.” Ujar si supir menolak diajak masuk ke dalam.
Reagan menyeringai sejenak setelah mendengar nada penolakan, tapi mau apalagi yang penting sudah fix ia menemukan lokasi Sofie. Cepat atau lambat ia pasti mendapatkannya dan mengungkap alasan kaburnya dia dari
bandara. “Yaudah deh pak, stop aja di tepi.”
Pengunjung di siang hari saat jam kerja memang tak seramai ketika akhir pekan, Reagan dapat menghitung jumlah pengunjung yang berpapasan dengannya. Sembari berbekal GPS dari ponsel, Reagan mempercepat langkah menuju titik sasaran. Belum juga selesai pencarian GPS, ia melihat di depan mata sosok yang ia cari sedang berdiri memegang sebuah kayu panjang.
__ADS_1
“Sofie!”
***