Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 38 EKSPEKTASI VERSUS REALITA


__ADS_3

Ekspektasi Seo Jun menyambut kedatangan Manda yang menghampirinya setelah ia meneriakkan nama gadis itu. Langkah Manda terlihat mantap dengan raut wajah yang cool layaknya seorang bodyguard berpengalaman. Rambut


panjangnya yang dikuncir menambah kesan dingin dalam penampilannya, Manda bersiap hadir menolong sang tuan yang sedang dihimpit dua gadis ambisius itu. Seo Jun yakin gadisnya dapat diandalkan karena ia tak pernah salah memilih orang kepercayaan. Si Oppa bahkan tak sabar menunggu adegan di mana Manda akan menyingkirkan


dua gadis merepotkan itu dengan gertakan tegasnya.


Sesampainya Manda di hadapan Seo Jun, ekspresi wajahnya justru membuyarkan segala ekspektasi tinggi Seo Jun padanya. Tampang Manda terlihat tidak meyakinkan, gadis itu lebih terkesan korban babak belur yang minta perlindungan Seo Jun ketimbang hadir sebagai sosok penolongnya. Manda mengaktifkan ponselnya kemudian menggunakan aplikasi yang menjadi satu satunya penghubung komunikasi dengan Seo Jun.


“Bos, apa kamu sudah selesai? Aku mau minta waktu sebentar.” Ujar suara aplikasi penerjemah dari ponsel Manda yang sekaligus mengundang geli dari Devi dan Sofie yang melihatnya.


Jadi ini cara mereka komunikasi … Batin Devi menahan tawa karena menurutnya cukup lucu dan merepotkan. Aneh saja kalau Seo Jun yang notabene Devi ketahui adalah orang berpengaruh di negaranya itu mau saja meladeni cara konyol itu.


Seo Jun melengos, kenyataan kadang memang tidak seindah khayalan. Dan ia harus menerima kenyataan kalau Manda datang bukan sebagai penyelamat. Ia harus mengandalkan ketegasannya untuk mengakhiri keras kepala dua gadis yang ingin menjeratnya. Si Oppa menolak sodoran ponsel dari Manda dengan gelengan kepala ketika Manda menawarkan ponsel sebagai alat bantu seperti biasanya. Kali ini pria itu langsung berjalan mendekati Manda dan langsung menarik tangan gadis itu keluar dari kerumunan. Ajaibnya lagi, langkah mereka mulus berlalu begitu saja dari hadapan Devi dan Sofie yang masih fokus dengan rasa kesal mereka pada Manda. Saat itu juga kerumunan bubar tanpa dikomando karena penonton merasa babak perebutan cinta dengan bahasa rumit itu


dimenangkan oleh gadis lain yang tiba-tiba datang.


Tingkah nekad Seo Jun mengundang tatapan sinis yang kompak dari Devi dan Sofie. Mereka berdua melototi Manda dengan pehuh rasa tidak suka. Drama queen juga tuh cewek. Batin Sofie kesal berat. Ia kemudian melirik Devi yang juga meliriknya, spontak keduanya langsung buang muka. Tidak sudi saling pandang, namun akhirnya Devi yang duluan melunak karena merasa setim dengan Sofie.


“Lu ngapain ikut gandolin dia? Lu tahu siapa dia?” Tanya Devi ketus pada Sofie.

__ADS_1


“Bukan urusan lu, suka suka gue dong mau ngejar siapa.” Jawab Sofie tak kalah ketus.


Beralih pada padangan Manda dan Seo Jun, keduanya berdiri menyandar pada pintu sebuah toko yang tutup. Manda tak bisa menutupi rasa sedihnya, yang memang ia tengah gusar memikirkan ayahnya. Seo Jun peka dan


menangkap ketidak beresan dari raut wajah gadis itu yang biasanya riang dan blak-blakan itu sekarang lebih terlihat murung.


“Ada apa Manda? Aku sudah ambil ponselku, kita bisa pergi sekarang.” Ujar Seo Jun dengan ponselnya. Ia menatap wajah Manda yang sepertinya merona merah, dan tanpa ia sadari memang Manda merasa malu lantaran tangannya


digenggam pria itu sambil berjalan tadi.


“Ng, bos … Aku ada urusan mendadak sekarang. Apa kau mau diantar ke suatu tempat dulu sambil menungguku selesaikan urusan itu?” Tanya Manda langsung pada pokok permasalahannya. Semakin lama mengulur waktu, semakin kecil harapan ia menjenguk ayahnya.


Manda menghela napas berat, ia tidak bisa menutupi dari bosnya. Bagaimanapun pria itu adalah orang yang memberinya pekerjaan dengan upah fantastis, Manda punya tanggung jawab juga terhadap pekerjaan itu. “Itu


… Aku harus menjenguk ayahku di rumah sakit sekarang. Waktu besuknya tinggal sebentar lagi.” Ujar Manda sedikit takut hingga suaranya lirih, tetapi sayangnya suara mesin penerjemah hanya menyebutkan dengan nada datar sehingga apa yang disampaikan Manda terkesan tidak memprihatinkan.


Menyebalkan! Mesin perusak mood saja! Gerutu Manda dalam hati mendengar betapa polosnya mesin itu menyampaikan maksud hatinya.


Seo Jun tampak terdiam, ia tengah berpikir. Manda tampak serius dan sepertinya ini memang benar, namun kata rumah sakit dan ayah membuat Seo Jun teringat kenangan tidak menyenangkan dari masa lalunya. Kepalanya terasa berputar putar, ia sungguh belum siap berurusan dengan hal yang bisa mengingatkannya pada masa lalu, tetapi semakin dihindari nyatanya semakin tidak terhindarkan.

__ADS_1


“Bos? Bolehkan?” Manda mengulangi permohonannya, ia harus mendapatkan jawaban secepatnya. Dan tidak mungkin pula meninggalkan Seo Jun begitu saja, di mana letak sopan santunnya kalau demikian.


Seo Jun menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis pikiran buruknya. Namun justru disalah artikan Manda yang mengira gagal mendapatkan ijin darinya. Manda menundukkan kepala, menyembunyikan gurat sedih di wajahnya. Susah payah ia tahan air matanya agar tidak menunjukkan kelemahannya.


“Aku tidak mau ditinggalkan, jadi aku ikut denganmu ke manapun kamu pergi.” Tegas Seo Jun, ia tahu bahwa gadis itu salah paham dengan gestur tubuhnya tadi.


Manda mendongak seketika, senyumpun terbit dari wajah polosnya yang terlihat memesona di mata Seo Jun. Sejenak Seo Jun terpana menatap kegembiraan dari Manda, baru kali ini ia melihat Manda benar-benar bahagia. Tanpa pria itu sadari, ia ikut menarik seulas senyum dari bibirnya.


“Thanks bos. C’mon.” Seru Manda yang reflek menarik tangan Seo Jun pergi dari sana. Manda jelas tidak menyadarinya, yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah segera sampai di rumah sakit dan memastikan ayahnya selamat. Ia tak sadar bahwa Seo jun begitu menikmati pegangan tangannya yang penuh semangat menariknya sembari berjalan. Pria itu tak berhenti tersenyum menatap punggung Manda, dari belakang saja kamu kelihatan cantik. Gumam Seo Jun dalam hati.


Sementara itu ada dua pasang mata yang panas memandangi kedekatan Seo Jun dan Manda. Salah satunya bahkan sudah bergerak hendak membuntuti mereka, dan sayangnya Sofie tidak bisa mengikuti jejak Devi lantaran


Reagan mencegatnya. Meskipun dongkol namun Sofie tak dapat membantah Reagan, batas kesabaran pria itu sudah habis.


Devi tampaknya menambah profesi baru, tak hanya ingin menjadi guide dari tamu yang sudah menolaknya, ia tak akan menyerah begitu saja. Kini Devi bersiap jadi penguntit, apapun demi bisa mendapatkan kepercayaan Seo Jun kembali.


“Aku belum kalah, dan nggak mau kalah!” Geram Devi yang kini sudah sampai di parkiran mobil, siap melajukan mobilnya mengikuti Seo Jun dan Manda.


***

__ADS_1


__ADS_2