
Manda merasa lidahnya kelu, rasa terkejutnya belum juga hilang saking ia tak siap harus bertemu orang yang tak diharapkan ini sekarang. Pria yang dulu pernah dekat dengan Manda, berbagi tawa, suka serta membuat hari-hari Manda penuh warna. Tapi itu dulu, bahagia yang diberikan pria itu tak sebanding dengan luka yang ditinggalkannya. Luka yang masih membekas di hati Manda hingga detik ini.
“Lu masih punya modal buat nongkrong di sini?” Cibir Jovas yang menatap Manda dari atas hingga bawah dengan sorotan yang menyepelekan. Senyum penuh seringai itu terlihat puas melihat tampang Manda yang turun kelas,
pakaian yang dikenakan Manda saat ini menjadi indikator bahwa dia telah jatuh bangkrut dan tak lagi di level gadis keturunan konglomerat.
"Gue nggak ada urusan sama lu, ini bukan tempat lu juga.” Jawab Manda sok cuek, kemudian meneguk cocktail dalam gelasnya.
“Gue prihatin lihat lu, udah jatuh miskin tapi sok maksain diri buat gaul ke tempat yang bukan level lu lagi. Mending lu minggir deh, gue takut aja lu bayarnya pake uang korupsi bokap lu.” Cibiran Jovas sangat pedas di telinga Manda, terlebih sorot matanya yang sangat meremehkan gadis itu. Seakan tak tersisa simpati atau sekedar rasa prihatin pada Manda dengan embel-embel mantan pacarnya.
Manda menyeringai, hatinya mulai panas terlebih pengaruh alkohol mulai menguasai dirinya, memberinya sedikit keberanian untuk bertindak. Manda menatap tajam pada Jovas, kini ia merasa kasihan pada dirinya sendiri karena pernah jatuh cinta bahkan menjadi kekasih pria bermulut tajam seperti itu. Jovas memang tampan, ditunjang penampilannya yang super keren dan tumpangannya yang mahal, tapi tidak dengan attitudenya. Pria itu lebih parah
dari para penggosip yang hanya berani di belakang, Jovas justru menyerang Manda terang-terangan.
“Enyah dari hadapan gue, muka lu bikin enek tahu nggak!” Celetuk Manda, ia kembali meneguk minumannya tapi terlanjur habis. Enggan malu dipelototi meneguk gelas kosong, Manda menuang vodka jatah Seo Jun lalu
meneguknya tanpa ragu.
Jovas bergidik melihat cara minum Manda, terlebih minuman yang dikonsumsinya itu. Setahu Jovas, gadis itu hanya mampu meneguk wine atau cocktail. “Wah … Wah … Kemampuan minum lu sudah meningkat rupanya, gue jadi penasaran siapa yang baik hati pelihara lu sekarang sampai mampu nongkrong di sini.” Sindir Jovas semakin melewati batas.
Telinga bahkan hati Manda tak sanggup lagi menampung hinaan, sindiran serta diremehkan oleh pria itu. Seketika Manda berdiri, tangannya mengepal kemudian melayangkan sebuah tamparan pada Jovas.
“Hei, siapa elu berani nyentuh cowok gue!” Tangan Manda ditangkis oleh seorang wanita yang muncul di sebelah Jovas. Wanita itu terkejut lalu menyeringai saat melihat jelas siapa yang hendak menyentuh prianya.
__ADS_1
Manda tak kalah terkejut, satu orang lagi yang ia kenal baik muncul di depannya dan bersekutu menghinanya. Sungguh momen yang sempurna dan tak pernah terbayangkan oleh Manda. Ia mengerutkan dahi, bingung
melihat rangkulan mesra wanita itu pada tangan Jovas.
“Bella? Lu sama Jovas ….” Desis Manda tak percaya dengan penglihatannya, tanpa ia sadari reflek kepalanya menggeleng.
“Ya, gue tahu lu mau bilang kalau gue dan Jovas pacaran kan. Dugaan lu bener, gue ama Jovas emang udah pacaran sejak bulan lalu.” Jawab Bella dengan senyum penuh kemenangan.
Manda terkesiap, ia merasa matanya mulai menghangat namun sekuat hati ia mencoba menenangkan diri jangan sampai air matanya jatuh di hadapan dua orang tak berperasaan itu. Manda tidak boleh menunjukkan kelemahan pada orang seperti mereka. Bella yang begitu ia sayangi bahkan saking akrabnya sudah dianggap saudara oleh Manda, ternyata di belakang menjadi penikung hubungannya dengan Jovas.
Satu bulan yang lalu Jovas masih jadi pacarku, dan dia udah pacaran juga sama Bella? Keterlaluan! Kesal Manda dalam hatinya. Namun masih ada satu hal yang belum dimengerti Manda, ia ingin mencari tahu segalanya
sekarang.
“Pecowor? Apaan tuh?” Celetuk Bella penasaran.
“Perebut cowok orang! Ya, kali elu mana cocok dipanggil pelakor, secara gue nggak sudi juga nyebut dia laki gue. Amit-amit punya laki mulut comberan, nggak punya etika gitu.” Nyinyir Manda yang punya keberanian level atas berkat pengaruh alkohol.
Bella mendengkus kesal, julukan dari Manda itu membuatnya panas hati meskipun kenyataannya memang ia merebut Jovas, namun mana ada maling yang mau mengaku sekalipun kepergok mencuri.
“Hei, gue bukan playboy! Gue emang udah bosen ama lu, gaya pacaran lu kaku. Gue penasaran itu bibir masih suci nggak, secara lu pacaran sama gue, boro-boro dapat jatah di ranjang, ciuman aja kagak pernah.” Celetuk Jovas super pedas lagi yang langsung berbuah hasil cubitan kesal dari Bella. Gadis itu mana tahan mendengar Jovas mengungkit hubungan masa lalunya dengan mantan apalagi di hadapannya.
“Kalau bukan playboy, trus apa namanya? Belum putus ama gue udah kepincut Bella, trus minggu lalu habis putusin gue, lu posting foto mesra ama cewek lain. Eh Bella, jaga tuh cowok lu kalau perlu borgol aja biar nggak pecicilan.” Kesal Manda.
__ADS_1
Bella dan Jovas saling bertatapan, tak lama kemudian suara tawa mereka pecah. Giliran Manda yang heran dan berpikir ulang, kata-katanya yang mana yang terdengar lucu.
“Ha ha ha …. Foto duduk gitu doang lu bilang mesra? Kolot banget lu, itu mah adek sepupu gue. Nggak nyesel gue unfollow lu, gitu aja lu masih kepo sama akun gue? Ketahuan banget lu nggak bisa move on ya?” Nyinyir Jovas.
Manda kehabisan kata-kata, tangannya mengepal lagi. Ia berpikir keras harus berbuat apa lagi agar tidak jadi bahan tertawaan dua manusia tak tahu diuntung itu.
“Mau move on atau nggak urusan dia, yang penting hati lu udah buat gue yank.” Ujar Bella sok mesra dengan sengaja untuk menyakiti Manda.
Ingin rasanya Manda menghilang sekejab dari hadapan mereka, nyatanya kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia berdiri kaku membiarkan dua orang itu puas menertawakannya, hingga datanglah sebuah sentuhan pelan yang merangkul pundaknya.
“Apa buat kamu sayang? Aku sedang mencarimu dari tadi, mana minumanku? Maaf aku buat kamu lama tunggu, yuk kita minum.”
Suara Seo Jun yang kaku mengucapkan bahasa Indonesia, ditambah penyusunan kata-kata yang kaku hasil terjemahan Mbak Google menambah ironis hati Manda yang mendengarnya. Kemunculan Seo Jun yang tiba-tiba
serta gaya bicara yang aneh itu sontak membuat Bella dan Jovas nyaris mati penasaran.
“Siapa dia?” Tanya Jovas dengan wajah kesal.
***
Yuhu, penasaran lagi deh kelanjutannya gimana. Yuk sumbang like dan komentar lagi, jangan pelit ya biar author makin semangat.
Salam sayang buat readers
__ADS_1
Author Lee