
Mobil Manda berhenti di parkiran rumah sakit, dengan tergesa gadis itu melepas seatbelt lalu meraih ponselnya di dasbor. Ia menoleh pada Seo Jun, menatap pria itu dengan mata lebar.
“Kamu tunggu di mobil atau ikut masuk?” Tanya Manda serius, keputusan Seo Jun akan menentukan langkah selanjutnya. Antara ia mengunci mobil atau memasrahkan mobil pada pria itu untuk menunggu di dalam.
Seo Jun melirik gedung rumah sakit, terus terang saja ada rasa takut dalam hatinya. “Aku Ikut.” Tiba-tiba Seo Jun celetuk seperti itu padahal dalam hatinya ingin menolak, namun yang terlontar justru sebaliknya.
Manda tersenyum, “Thanks.” Kemudian gadis itu segera turun, disusul Seo Jun yang tak punya pilihan lain. Terlalu gengsi untuknya menolak keputasan yang sudah ia ucapkan. Seo Jun menyamakan langkahnya dengan Manda yang berjalan tergesa masuk ke dalam rumah sakit.
***
Devi ikut memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Manda, ia pun heran mengapa kedua orang yang dibuntutinya itu harus ke rumah sakit. Devi melihat Manda berlari masuk disusul Seo Jun, sepertinya ada yang tidak beres. Ia segera menghubungi Moon untuk laporan.
“Noona, mereka ke rumah sakit. Aku sekarang mengikuti mereka, tapi apa Seo Jun sakit? Kenapa mereka tergesa-gesa begitu?” Tanya Devi panjang lebar.
“Harusnya aku yang bertanya padamu, apa sepupuku sakit? Cepat cari tahu dan jangan setiap kali menghubungiku terus. Kumpulkan informasi sekaligus dan laporkan bersamaan. Waktuku habis hanya untuk menerima telponmu setiap lima belas menit.” Gerutu Moon.
Devi nyengir, serba salah bekerja pada seorang gadis dengan emosi labil seperti Moon. Sering melaporkan salah, jarang melaporkanpun tetap dianggap salah. “Baiklah Noona, aku cari tahu dulu.” Ujar Devi menyudahi obrolannya.
Di sisi lain, Moon menghela napas berat. Digigitnya bibir bawahnya sembari menatap layar ponselnya. Sampai detik ini pun Seo Jun belum menghubunginya, padahal ponsel sudah ada di tangan pria itu.
“Kali ini apa alasanmu belum menghubungiku, oppa?” Keluh Moon kecewa.
***
__ADS_1
Manda berhasil mendapatkan nomor ruang perawatan ayahnya. Ia begitu panik dan sedih hingga mengambil langkah cepat tanpa memerdulikan Seo Jun yang ikut dengannya. Seo Jun berusaha mengekori Manda, namun saat bersamaan itu segerombolan perawat mendorong pasien dengan kondisi berlumuran darah memotong jalan Seo Jun. Sontak saja si oppa bergidik dan melangkah mundur dengan raut tegang. Sekelebat kenangan buruk langsung memenuhi pikirannya, suara teriakan serta tangis kehilangan yang pernah ia dengungkan beberapa hari lalu seketika mengusiknya. Seo Jun memegangi kepalanya lalu tanpa sadar ia menggeleng pelan, lalu berbalik badan dan berlari meninggalkan ruang administrasi rumah sakit.
***
Flashback on.
Seo Jun mengguncang tubuh ayahnya yang terbaring kaku berlumuran darah, ia belum menerima kenyataan atas kepergian pengusaha terkemuka itu beserta istrinya. Dalam waktu bersamaan Seo Jun harus kehilangan dua orangtua itu, tanpa pertanda, tanpa berpamitan. Kematian yang belum jelas juntrungnya, dengan alasan yang tak masuk akal untuk diterima. Bagaimana mungkin mobil mewah yang selalu membawa kedua orangtuanya kemana saja, serta selalu rutin diperiksa setiap hendak dinaiki itu bisa mengalami kerusakan pada rem hingga supirnya membelokkan setir ke dalam jurang. Meskipun belum menerima kenyataan pahit itu, Seo Jun belum punya hati untuk menyelidiki kebenaran yang masih misteri itu.
“Kamu sudah dewasa, jangan terus bekerja sampai lupa waktu mencari pasangan. Cepatlah menikah begitu mendapatkan wanita yang sesuai tipemu dan segera beri ibu seorang cucu.”
Suara lembut ibu Seo Jun masih teringat jelas dalam ingatan Seo Jun. Sehari sebelum kematian tragisnya, Seo Jun sempat berbincang hangat dengan ibunya yang selalu merengek ingin segera memomong cucu. Desakan ibunya itu selalu dianggap angin lalu oleh Seo Jun yang memang gila kerja. Jangankan waktu untuk pacaran, waktu untuk dirinya sendiripun sangat ia perhitungkan. Bekerja tujuh hari dalam seminggu, tanpa libur meskipun karyawannya menikmati masa santai di akhir pekan. Karier bisnisnya memang mejelit pesat berkat keuletannya, hingga ketenarannya sebagai pengusaha muda yang punya pengaruh besar di negaranya juga diakui sampai Negara Asia. Sayangnya pasca kehilangan ayah dan ibunya, Seo Jun sungguh kehilangan semangat juangnya. Ia
mengesampingkan perusahaan, wasiat, warisan serta apapun yang berkaitan dan berpotensi mengingatkannya akan rasa sakit akibat kehilangan orang yang dicintai.
Dan berakhir di sinilah Seo Jun, berpetualang di negara asing hingga berkenalan dengan Manda. Ia melupakan sejenak jati dirinya, menjelma layaknya orang yang berkepribadian lain di hadapan Manda. Namun mungkin tidak lagi, mungkin hanya sampai di sini saja karena kejadian yang barusan ia lihat di depan mata telah mengorek lukanya.
Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Seo Jun mengakhiri renungan singkatnya. Diraihnya ponsel kemudian memencet sebuah nomor yang sudah di luar kepala.
Calling Moon ….
Satu-satunya yang paling mengerti kondisi serta kelemahan Seo Jun, orang yang mendapatkan kepercayaan penuh dari Seo Jun dan menjadi tempat berbaginya. Dan menjadi orang yang paling bisa dihubunginya nyaris setiap saat, seperti sekarang. Tanpa menunggu lama, terdengar suara wanita yang menyapa lembut pada Seo Jun.
“Oppa, apa kau baik-baik saja?” Tanya Moon yang susah payah menyembunyikan ekspresi bahagianya saat menerima panggilan Seo Jun.
__ADS_1
“Moon ….” Ujar Seo Jun dengan nada berat, pria itu menggigit lengan jaketnya untuk menahan tangis.
Moon terkejut, suara itu sangat ia pahami dan yakin bahwa Seo Jun sedang terluka. “Oppa? Apa kamu nggak tenang di sana? Apa perlu aku pesankan tiket pulang sekarang?”
Seo Jun tak memberi jawaban meskipun mendengar perkataan Moon. Ia bergeming cukup lama sebelum memberikan keputusan.
Di saat bersamaan, Devi yang susah payah mencari Seo Jun akhirnya menemukan pria itu berjongkok di dekat mobil Manda. Setelah berputar di lantai bawah dan memutuskan menyerah, ternyata sekembalinya di parkiran
justru ia menemukan orang yang dicarinya. Ketika hendak menghampiri pria itu, Devi mengurungkan niatnya begitu melihat ekspresi wajah Seo Jun yang tidak enak dilihat. Kendati tidak menangis, tetapi raut wajah menyedihkan dari pria yang beberapa saat lalu begitu keras kepala itu membuyarkan kesan coolnya. Devi memutuskan tak mendekati, lebih baik kehadirannya tak diketahui lalu ia bergegas masuk ke dalam mobil dan memantau dari sana.
***
Manda tersengal-sengal mengatur napas sesampainya di depan pintu ruangan yang merawat ayahnya. Dengan tergesa ia meraih gagang pintu, rasa terkejutnya semakin menjadi ketika melihat ayahnya terbaring di bangsal dengan selang infus, alat bantu pernapasan dan bunyi monitor pemacu jantung yang intens berbunyi. Di dalam ruangan itu ada seorang petugas polisi yang berjaga, karena status ayahnya sebagai tahanan dan bisa dimaklumi oleh Manda.
Setelah menyapa singkat pada petugas itu, kemudian Manda dipersilahkan melihat ayahnya secara privat. Air mata Manda berjatuhan saat melihat kondisi fisik ayahnya yang memprihatinkan.
“Ayah ….” Desis Manda lirih seraya memegang tangan ayahnya.
Tidak ada jawaban, ayah Manda hanya terpejam seperti tengah tidur.
“Apa yang terjadi pada ayah? Baru beberapa hari di penjara, ayah nampak makin tua dan sakit.” Isak Manda meskipun tanpa respon dari ayahnya.
“Ayah, tenanglah cepat sembuh. Jangan pikirkan masalah ini, Manda janji akan bebaskan ayah dari penjara. Manda tahu ayah tidak bersalah, pegang janji Manda.”
__ADS_1
***