
“Where are you, bos?” Sapaan pembuka dari Manda begitu menerima panggilan masuk dari Seo Jun. Keterbatasan bahasa sedikit merepotkan komunikasi mereka, dengan kosakata bahasa Inggris ala kadarnya, Manda hanya bisa bertanya sesingkat itu.
“Aku lagi di depan mobilmu. Cepat kemari!” Seru Seo Jun terbata-bata, ia sudah memperhitungkan bahwa Manda akan mencarinya, maka sebelum menelpon ia lebih dulu mencari bantuan mesin penerjemah dan menghapalkan kata-kata itu.
Manda tercengang mendengar suara Seo Jun, ia belum memberi jawaban apapun.
“Halo? Halo? Do you hear me?” Tanya Seo Jun cemas, ia melirik sebentar layar ponselnya lantaran mengira panggilan itu terputus. Masih tersambung namun mengapa Manda hanya diam.
“Pffff … Ha Ha Ha ….” Tawa Manda terpingkal sampai mengeluarkan air mata. Ia mengerti maksud Seo Jun, hanya saja logat pria itu saat mengucapkan kata-kata terdengar lucu. Manda tak bisa menahan tawanya, ia tak habis pikir saja Seo Jun seniat itu menghapalkan kata-kata itu untuk bicara dengannya.
Gantian Seo Jun yang melongo heran, apa yang lucu dari perkataannya hingga manda tertawa seheboh itu. "Are you nuts?” Kesal Seo Jun.
“So … Sorry.” Ujar Manda yang susah payah menghentikan tawanya. Dengan satu tangan ia mengusap air mata di ujung mata. “Okay, wait for me there. I’m coming. (Tunggu aku di sana, aku datang.)” Pinta Manda kemudian menyudahi panggilan itu dan bergegas menuju parkiran.
Manda tak menyangka perasaannya yang sempat kacau karena mendengar kabar ayahnya, lalu kacau lagi gara-gara Seo Jun yang dikira nyasar entah ke mana, dalam sekejab sirna berganti keceriaan berkat lawakan Seo Jun. Meskipun pria itu tak berniat membuat lelucon, tetap saja Manda terbahak dibuatnya. Tak ia sangka, kehadiran Seo Jun sebagai bos bahkan sebagai satu-satunya orang terdekatnya untuk saat ini, ternyata cukup berarti bagi Manda. Setidaknya ia merasa tidak sendiri, ia punya satu orang yang menemani sepanjang hari. Sampai pria itu kembali ke tempat asalnya, entah kapan.
Sosok oppa tampan itu mulai terlihat oleh Manda, seketika itu pula Manda berhenti berlari. Ia mencuri tatapan sekilas pada Seo Jun yang berdiri menyamping sambil bersandar di pintu mobil. Dari samping saja pesona pria itu terlihat memukau, kulit putihnya seakan bercahaya di bawah sinar matahari. Manda mengagumi wajah tegas Seo Jun yang hanya terlihat satu sisi, senyumnya mengembang. Belum satu menit senyuman itu otomatis memudar begitu Seo Jun menyadari keberadaannya dan melirik ke arahnya. Kini pria itu tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Manda.
Kenapa kamu tidak diam lebih lama? Gerutu Manda yang kesal kehilangan momen menyenangkan itu – mencuri pandang pada Seo Jun.
Manda berjalan pelan mendekati Seo Jun yang masih memamerkan sederet gigi putihnya dalam senyuman. Tepat saling berhadapan, mereka saling bertatapan tanpa kedipan. Manda yang tak kuat memandang lebih lama kemudian memalingkan wajah dan berdehem sebagai modus menghilangkan kecanggungannya. Ia mendekatkan ponsel pada bibirnya lalu mulai berbicara.
“Kenapa kamu di sini? Apa kamu tidak masuk sejak tadi?” Tanya Manda demi menjawab rasa penasarannya, ke mana saja Seo Jun selama ia bersama ayahnya.
“Jalanmu cepat sekali, aku tidak berhasil mengejarmu jadi aku kembali menunggu di mobil.” Ujar ponsel Seo Jun, ia hanya tersenyum tipis demi menutupi kebohongannya.
__ADS_1
Manda mendelik, ia merasa belum puas bertanya. “Lalu kenapa kamu bisa menelponku, pakai bahasa Indonesia pula?”
Seo Jun mengernyit heran, “Bukankah kamu tahu aku memasukkan nomor ponselku di ponselmu? Apa salah kalau aku belajar bahasamu? Satu-satunya cara agar kita tidak tergantung alat ini, antara kamu yang harus menguasai
bahasaku, atau aku yang harus belajar bahasamu.” Ujar Seo Jun mantap.
Jawaban menohok dari Seo Jun jelas membuat Manda terkesima, ia tak menyangka Seo Jun berpikir sejauh itu, bahkan mau repot belajar agar komunikasi mereka terlihat normal. Untuk apa ia seniat itu belajar? Liburannya hanya singkat di sini, setelah itu mungkin dia tak akan bertemu aku lagi. Ungkap Manda dalam batin, entah mengapa memikirkan perpisahan dengan Seo Jun membuatnya sedih.
“Hallo?” Seo Jun melambaikan tangannya di depan wajah Manda, ia tak tahu sudah membuyarkan lamunan Manda tentang dirinya.
“Ehem, jadi kita mau jalan ke mana sekarang bos?” Tanya Manda mencoba terlihat wajar lagi.
Seo Jun mengangkat satu alisnya, “Bisa ke mana lagi sesore ini?” Tanya Seo Jun begitu melihat jam di layar ponselnya, hari menjelang sore dan ia enggan terjebak kemacetan lagi.
“Apa kamu tidak lelah? Aku sudah penat, kita istirahat dulu baru pikirkan agenda selanjutnya setelah aku mandi.” Seru Seo Jun, ia menoleh ke dalam mobil dan mengkode Manda agar segera masuk ke dalam.
“Hotel XXX di kawasan elit ibukota.” Ujar Seo Jun menirukan kata-kata Devi.
Manda terkesiap, “Bos mau nginap di sana? Seleramu bagus juga.” Gumam Manda. Lebih tepatnya itu seperti sindiran karena ia merasa Seo Jun terlampau elit dan boros. Liburannya ke Jakarta belum ada kesan istimewa,
belum banyak tempat yang dikunjungi selain Monas. Dan selama beberapa hari bersama si oppa, Manda menghitung kasar pengeluaran pria itu sudah menggelontorkan biaya ratusan juta rupiah. Jumlah yang terlalu wow untuk sekedar jalan-jalan dengan kesan yang minimalis.
Apa dia puas dengan liburannya? Perasaan dia lebih banyak menghabiskan waktu denganku, dengan masalah bersama Sofie dan gadis baru itu ketimbang menikmati jalan-jalan selayaknya turis. Tanya Manda dalam hati.
“Hmm, seleraku memang bagus-bagus. Kalau tidak, aku akan kesulitan untuk tidur nyenyak. Tidur itu menuntutku perfeksionis.” Gumam Seo Jun menyombongkan dirinya.
__ADS_1
Manda hanya nyengir saja, ia melajukan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.
Kayak gitu mau sok ikut nginap di manapun aku tidur? Bos, gengsimu ketinggian. Gerutu Manda yang teringat saat Seo Jun ngotot ingin menginap bersama Manda ke manapun ia tinggal.
***
Selesai urusan check in, Manda dan Seo Jun diantarkan ke sebuah kamar kelas president suite. Decak kagum Manda tertahan lantaran gengsi mengakui selera Seo Jun yang sangat bagus. Kamar yang akan mereka tempati sekarang jauh lebih mewah ketimbang hotel sebelumnya. Dan kini mereka tidak perlu rebutan satu ranjang lagi, karena dalam ruangan tersebut terdapat satu kamar lagi yang saling terhubung. Setidaknya mereka bisa pisah
ranjang sementara.
“Bagaimana? Kamu puas kan di sini?” Tanya Seo Jun sambil memamerkan senyum bangga.
“Hanya untuk istirahat satu malam, kemudian besok harus menggotong barang banyak lagi buat pindah hotel. Huft melelahkan saja ….” Gerutu Manda. Ia capek pindah-pindah terus seperti induk kucing yang memindahkan anak-anaknya.
“Siapa bilang? Kita akan tinggal di sini sampai aku pulang.” Ujar Seo Jun dengan sombongnya.
Manda ternganga, kali ini ia sungguh terkejut. “Kapan kau pulang?” Teriaknya pada Seo Jun yang berjalan masuk lalu merebahkan diri di atas kasur.
“Kalau sudah bosan.” Jawab Seo Jun singkat dan cuek.
Manda kehabisan kata-kata, mungkin dialah yang tak paham level pria itu. Cara orang super duper kaya menikmati liburannya memang luar biasa – jika tidak mau disebut di luar kebiasaan alias aneh.
“Aku mau mandi, setelah itu kita keluar cari minum. Aku mau minum beberapa botol soju.” Lanjut Seo Jun yang kini beranjak dari ranjangnya.
Apa lagi itu? Batin Manda yang mulai stress dengan tingkah bosnya.
__ADS_1
***