
Manda meronggoh saku celananya ketika berdiri di muka pintu kamar, setelah tidak mendapatkan apa yang dicari, barulah ia sadar tidak memiliki kunci kamar lagi. “Belum setengah jam keluar dari sini, kok bisa lupa kalau aku udah nggak nginap di sini.” Gerutu Manda pada dirinya. Ia berdiri termenung dengan satu tangan yang memegang jaket Seo Jun, hatinya serba salah sekarang.
“Pencet bel atau nggak? Atau kutaruh di gagang pintu aja? Eh tapi kalau hilang gimana?” Manda menimbang plus minus antara ia harus masuk atau tidak. Beberapa saat kemudian sembari menarik napas panjang, gadis itu menjulurkan tangannya dan menekan bel. Debaran jantungnya berdegup kencang saat bel itu dipencetnya. Ia sedang menyusun kata-kata yang perlu dikatakan saat pria Korea itu membuka pintu.
Hampir dua menit setelah bel pertama belum ada respon apapun, Manda menggigit bibir bawahnya saking bingung. Ia kemudian memencet ulang tombol bel beberapa kali sekaligus. Baru sesaat ia angkat kaki dari sana, semestinya pria itu masih di dalam. Lalu apa yang membuatnya begitu lama tidak membukakan pintu?
“Serius nih kemana tuh oppa?” Cecar Manda yang tanpa disadari sudah mulai mengkhawatirkan Seo Jun. Pria itu tidak mungkin bergerak keluar secepat itu, tanpa alat komunikasi, tanpa kemampuan berbahasa Indonesia.
Hanya uang saja andalannya bertahan hidup di kota yang asing bagi turis seperti dia.
Manda lagi-lagi membunyikan bel yang entah ke berapa kalinya. Gadis itu mulai tidak sabaran, ia mencoba mengintip dari lubang pintu meskipun tahu usaha tersebut jelas sia-sia. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah segera berlari ke bawah lalu bertanya ke bagian resepsionis. Manda enggan buang waktu, ia bergegas lari menuju lift.
“Permisi mbak, tamu di kamar nomor 318A sedang keluar ya?” Cerocos Manda tak sabaran, napasnya masih tersengal lantaran berlari kencang agar cepat sampai di bagian informasi.
Resepsionis cantik yang berhadapan dengan Manda agak mengernyit, namun dengan senyuman ramah tetap melayani pertanyaan Manda. “Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu.”
Batin Manda menggerutu dalam hati, jelas-jelas secara tampang dan fisik ia lebih muda daripada resepsionis itu namun tetap saja dipanggil dengan sebutan formal dan terkesan tua, ‘Ibu’.
__ADS_1
Resepsionis yang tadi mengecek lewat laptop kemudian menyita perhatian Manda lagi, “Maaf Bu, tamu di kamar VVIP 318A memperpanjang satu hari dan berstatus check in sekarang.”
Bola mata Manda berputar sejenak saking jengah mendengar jawaban tak tepat sasaran itu. “Ya, iya aku juga tahu itu Bu! Kan saya yang urus perpanjangannya tadi. Yang sekarang saya tanya, dia ada di kamar atau lagi keluar?” Manda memanfaatkan kesempatan balas dendam dengan memanggil kembali resepsionis itu dengan sebutan ‘Ibu’ juga, sekaligus untuk pelampiasan kesal.
“Oh, maaf mengenai itu kami tidak bisa menginformasikan lebih, Bu.” Jawab resepisonis itu ramah namun terdengar
mengesalkan bagi Manda.
Manda mulai merasa caranya tidak efektif, ia hanya mengulur waktu. Sementara hatinya mulai merasa tidak enak, entah mengapa ia punya firasat tak enak terhadap pria itu. Semalaman bersamanya saja pria itu bisa ketiduran saat mandi, siapa yang bisa menebak apalagi yang ia lakukan di dalam akan lebih membahayakan dirinya. Terlebih Seo Jun baru mendingan dari demamnya gara-gara tidur dalam bak mandi.
Duh, kali ini dia ngapain lagi di kamar sampai nggak bisa bukain pintu? Gumam Manda penuh gelisah, ia memilin jaket pria itu yang masih dibawanya.
Manda geleng-geleng kepala, andai ide itu tercetus lebih awal tentu saja ia tak perlu berbelit dengan resepsionis itu. Meskipun harus mengaku sebagai penghuni kamar itu padahal ia sudah memutuskan untuk pergi. Kini sebuah kartu kunci cadangan kamar mewah itu sudah berada dalam genggamannya, manda melengos menatap itu ketika berada dalam lift sendirian.
Mengapa ia sampai segitunya? Perlukah ia bertingkah sejauh ini hanya untuk seorang pria yang baru dikenal satu hari? Manda meremas jaket Seo Jun, ia mulai tak mengenal dirinya sendiri termasuk perasaan aneh di hatinya. “Apa aku keterlaluan?” Desisnya lirih.
Kendati ragu, langkah kaki Manda tetap diseret mendekati kamar Seo Jun. Setelah ia memperjuangkan untuk masuk dan sudah mendapatkan akses masuk, mengapa justru terbersit rasa canggung? Tangannya bergetar saat mengarahkan kartu pada pintu, sesaat gadis itu mematung demi berpikir ulang.
__ADS_1
“Sudah telat untuk mundur, Manda!” Ujar Manda seraya menggelengkan kepala, menepis semua rasa takut, malu, canggung, grogi yang terus berkecamuk dalam pikirannya.
Pintu akhirnya terbuka, seulas senyum manis Manda tersungging menatap itu. Hanya saja, senyuman itu hanya bertahan beberapa detik, kala Manda melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dan mendapati seisi ruangan itu gelap, senyumnya menekuk dan raut wajahnya mulai serius.
“Dia beneran lagi pergi?” Manda hendak memasukkan kartu untuk menyalakan lampu di ruangan, namun gagal lantaran melihat kartu lain tertancap di sana. Ia semakin menyipitkan mata, bingung dengan kondisi yang terjadi di kamar ini. Sepasang kaki jenjangnya mulai melangkah penuh hati-hati, ia mendekatkan diri ke dalam ruang tidur dengan bantuan pencahayaan ponselnya dan mencari saklar terdekat.
Berbekal pencahayaan ponsel, ia mendapati sosok seseorang yang duduk di atas ranjang. Manda terkesiap, semula ia mengira melihat penampakan dalam kegelapan namun ia akhirnya sadar bahwa yang sedang duduk mematung di sana adalah Seo Jun. Gadis itu berlari menghampiri Seo Jun dengan perasaan was-was, sekaligus menyalakan lampu di ruang tidur itu.
“What happened to you?” Pekik Manda yang langsung menyambangi Seo Jun. Ketakutannya semakin menjadi ketika melihat raut putus asa pria itu. Dari ujung mata Seo Jun, masih tersisa basah bekas linangan air mata.
Manda langsung bersimpuh di hadapan Seo Jun lalu mendongak menatap wajah sembab pria itu. Sepasang mata yang terbuka, menatap ke bawah tanpa berkedip, sorot mata yang begitu kosong dan air muka yang begitu menyedihkan. Sungguh membuat Manda ketakutan setengah hidup, ia tak tega menatap pria dengan kondisi hopeless begini.
“Seo Jun, are you okay?” Manda meraih kedua tangan Seo Jun lalu mengguncangnya.
Pria itu tak merespon, bahkan masih bergeming tanpa kedipan. Manda kian dibuat takut, ia tak tahu bahwa oppa itu rentan depresi. Manda mulai menyalahkan dirinya, merasa bahwa dia yang menyebabkan Seo Jun seperti ini.
“Seo Jun, hei … I’m back.” Manda mengguncang lagi tangan Seo Jun. Kondisi Seo Jun sekarang membuatnya merindukan keusilan serta suara tawa pria itu, Manda lebih baik melihat dia yang ceria ketimbang murung dan tampak tak bersemangat hidup.
__ADS_1
Manda memakai ponselnya untuk bicara, “Jika kamu nggak ngomong sekarang, aku akan pergi dan nggak akan kembali. Jika kamu ngomong sekarang, aku janji akan jadi supirmu lagi selama kamu liburan di sini.” Ujar Manda serius, ia menyodorkan ponsel ke telinga Seo Jun dan mengencangkan volume paling maksimal. Demi Seo Jun, demi mengkhawatirkannya Manda akhirnya merubah keputusan yang baru ia ambil. Ia tak sampai hati meninggalkan pria itu, bukan karena kasihan tapi karena ada satu perasaan yang sulit diutarakan.
***