
Devi memecah fokus antara menyetir dan menghubungi Moon. Mobil yang diincarnya melaju dengan kecepatan tinggi, seolah hendak mengejar sesuatu.
“Apa mereka tahu aku buntuti?” Devi bicara sendiri, ia takut niat menguntitnya ketahuan. Bersamaan dengan itu sambungan panggilannya pada Moon pun terkoneksi. Terdengar suara lembut milik gadis Korea itu menyerukan namanya.
“Noona, aku sudah menemukan Seo Jun.” Ujar Devi yang mengaktifkan speaker ponselnya dan alat komunikasi itu tergeletak di atas dasbor.
“Apa dia sekarang bersamamu?” Tanya Moon antusias, dari suaranya saja Devi bisa menebak betapa bahagianya gadis itu.
“Tidak. Tapi dia bersama gadis lokal. Apa sepupumu punya kenalan orang Jakarta? Sepertinya mereka berdua terlihat akrab.” Selidik Devi, ia memang penasaran dengan hubungan dari kedua orang yang ada dalam mobil
depan itu.
Moon mengenyitkan dahi, “Apa kau bilang? Oppaku bersama seorang gadis? Tidak, dia tidak punya teman di sana. Hei, jangan-jangan gadis itu berniat jahat padanya? Lalu kenapa kau masih membiarkannya?” Bentak Moon yang pikiran buruknya mulai merasuki hatinya hingga tak bisa tenang.
Devi menghela napas, apapun yang ia lakukan sekarang semuanya serba salah. Niatnya melaporkan kepada Moon sebagai bentuk pertanggung jawabanpun tetap mendapatkan sorotan buruk. “Noona, aku sudah berusaha
meyakinkan Seo Jun saat bertemu pertama kali. Tapi dia tidak memberiku kesempatan memperbaiki kesalahan. Dia bilang tidak memerlukanku lagi sebagai guide karena sudah punya penggantiku. Dan aku yakin gadis itu yang dia maksud. Masalahnya, cara komunikasi mereka saja menggelikan, aku tak habis pikir mengapa sepupumu lebih memilih orang yang tidak praktis.” Keluh Devi. Bagaimanapun ia akan tetap berusaha mempertahankan pekerjaan ini, selain tak ingin kehilangan muka di hadapan bosnya, pun karena ada alasan lain yang lebih menyemangati Devi. Gadis mana yang tak terpukau melihat aura tampan Seo Jun, stak dibayarpun Devi bersedia asalkan bisa menemani pria itu sepanjang hari.
Moon diam sesaat kemudian helaan napas terdengar di dalam telpon, “Dia memang punya prinsip tegas, sekali kau mengecewakannya akan sulit mendapatkan hatinya lagi. Tapi itu juga menjadi kelemahan terbesarnya. “ Gumam Moon.
Devi mengernyitkan dahi, tak mengerti arah pembicaraan Moon. “Jadi gimana noona? Aku harus lanjut atau udahan nih?” Devi menegaskan statusnya, namun hati kecilnya tetap berujar agar Moon mempertahankannya.
Belum ada jawaban dari Moon, sepertinya ia tampak berpikir sserius. Sementara Devi pun tak kalah serius memasang mata dan perhatiannya agar tidak tertinggal mobil Manda. Dalam hati Devi mengumpat dengan kebolehan Manda menyetir, bisa ugal-ugalan dengan lancar di jalanan.
__ADS_1
“Dia tidak menginginkanmu lagi, jadi tidak ada harapan lagi kau menjadi guidenya.” Gumam Moon.
Devi menghela napas, seketika ia melambatkan laju mobilnya. Jadi buat apa aku ikutan gila dan mengejar mereka? Kesal Devi yang hanya bisa menyerukan keluh kesahnya dalam hati.
“Tapi aku yang akan mempekerjakanmu, mulai sekarang kamu harus mengawasi dan menyelidiki siapa gadis yang bersama sepupuku. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting kamu harus menjauhkan dia dari
sepupuku. Dan tenang saja, jika kamu berhasil maka bayaranmu akan kugandakan dari gajimu sebagai guide. Kamu sanggup?” Moon tiba-tiba melanjutkan kata-katanya hingga mengejutkan Devi. Saat itu pula Devi langsung menginjak gas dan fokus pada misi pengintaiannya. Ia berhasil mendapatkan suntikan semangat seperti yang ia harapkan. Dan memang itulah yang diharapkan oleh Devi.
“Tentu, aku terima tawaranmu.” Ujar Devi seraya mengangguk mantap senyumnya merekah dengan bola mata yang berbinar.
“Dengan syarat jangan sampai ketahuan, atau aku akan membuat perhitungan padamu jika Seo Jun tahu misi kita. Ingat ya Devi, selama Seo Jun liburan di sana, aku tidak mau siapapun mengganggunya. Pisahkan mereka
secepatnya, aku tak mau tahu apapun caramu.” Tegas Moon.
depan berhenti karena lampu merah, begitupun dengan mobil Devi, akhirnya gadis itu memberikan keputusannya. “Baiklah, aku menerima tawaranmu noona.”
***
Sepanjang perjalanan di dalam mobil terasa sangat menegangkan, selain karena Manda kembali memperlihatkan kebolehannya menyetir, dan karena raut wajah gadis itu terlihat mendung sehingga Seo Jun merasa segan untuk mengganggunya. Pria itu hanya bisa diam menikmati suasana dan mengamati jalanan, sesekali ia melirik Manda yang terlihat seperti menahan tangis.
Sebenarnya Seo Jun pun agak berat untuk ikut ke rumah sakit, ia tak yakin dirinya sudah siap menghadapi tempat yang menyimpan kenangan pahit baginya. Namun apa daya, ia tak ingin terpisah dari gadis di sampingnya dan hanya menunggu dalam keadaan tidak pasti. Lebih baik untuk terus bersama, walaupun kenyataannya tak seindah harapannya.
“Hmm … Boleh kupinjam ponselmu?” Seo Jun berdehem canggung hanya untuk meminjam ponsel gadis itu. Ia sebenarnya tak merasa ketergantungan pada ponsel Manda lagi, namun ada sesuatu yang penting yang harus ia lakukan selagi masih ingat.
__ADS_1
Manda menoleh ke pria itu, suara Seo Jun barusan menyadarkannya bahwa entah berapa lama mereka terdiam. Manda tersenyum tipis kemudian mengangguk sebagai jawaban. Seo Jun tersenyum lebar lalu meraih ponsel itu, dilihatnya Manda yang kebetulan sedang meliriknya hingga gadis itu segera mengalihkan pandangan ke depan karena canggung.
Seo Jun tampak memencet beberapa angka di ponsel Manda kemudian bergantian melakukan itu pada ponselnya. Tak perlu waktu lama, kisaran lima menit saja ponsel Manda sudah kembali di tempat semula. “Thanks.”
Ujar Seo Jun seraya memamerkan senyuman manisnya.
Manda masih tak punya mood untuk bicara pada Seo Jun, ia lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban. Tetapi dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang dilakukan pria itu hingga tampak begitu senang?
Tiba-tiba Seo Jun melakukan gerakan yang tak terduga, tangannya mendarat tepat di atas tangan Manda yang sedang memegang setir. Spontan gadis itu terkejut dan menepis sentuhan itu. Ia melirik Seo Jun dengan sorot heran, namun saat melihat senyuman Seo Jun yang menenangkan, seketika ia pun ikut merasakan ketenangan.
“Tenanglah, percaya saja pasti akan baik-baik saja.” Ujar Seo Jun yang tentu saja sudah diterjemahkan dengan ponselnya.
Manda tersenyum geli mendapati kenyataan bahwa mereka itu sebenarnya konyol. Kendala bahasa yang memberatkan mereka nyatanya tak jadi penghalang, sampai sejauh inipun mereka masih menikmati kerjasama yang saling menguntungkan itu.
“Thanks.” Jawab Manda singkat sambil memberikan senyuman pada Seo Jun. Semangat dari pria itu membawa rasa optimis pada dirinya.
Eh tunggu, sebenarnya siapa yang paling diuntungkan? Bukankah dia bisa saja mencari pemandu yang menguasai bahasanya untuk membantu liburannya? Kenapa malah menggajiku mahal sebagai supir dan susah payah
berkomunikasi? Apa mungkin karena dia … menyukaiku?
Ketenangan Manda hanya bertahan sesaat, kini pikirannya sudah disusupi rasa yang membuatnya besar kepala. Manda mulai curiga mungkin pria di sampingnya menaruh rasa lebih padanya.
***
__ADS_1
Boleh dong Manda sedikit Geer? Hehehe....