Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 75 DEAL KE BALI


__ADS_3

Seo Jun menatap heran pada Manda yang masih belum melajukan mobilnya. Mereka tertahan di dalam mobil yang sudah menyala mesinnya tetapi belum juga dikemudikan.


"Manda, kita mau ke mana? Apa kau tidak mau menjenguk ayahmu di rumah?" Seo Jun bertanya sekaligus mengingatkan Manda tentang tujuan mereka.


Manda terkesiap, saking asyiknya melamun hingga ia mengabaikan Seo Jun.


"Ng... Biarkan sajalah, ayahku pasti sudah baikan sekarang. Kamu mau jalan ke mana hari ini? Mumpung masih awal, bisa puas jalan-jalan." Ujar Manda mencoba mengalihkan pembicaraan.


Seo Jun tampak diam memikirkan kata-kata Manda, sebenarnya ia kurang yakin bahwa Manda ikhlas begitu saja tidak mencari ayahnya. Padahal tadi sikap gadis itu sangat antusias bahkan bisa dibilang menggila gara-gara tidak menemukan ayahnya di rumah sakit.


"Hmm... Aku tidak tahu mau ke mana, apa kita pergi nonton saja?" Ujar Seo Jun sambil mengangkat bahu.


Manda mendelik, ia menyipitkan mata melihat Seo Jun. "Kamu bercanda? Kamu jauh-jauh datang dari Korea ke sini hanya pindah tempat tidur dan nonton saja? Apa itu yang dilakukan turis kalau liburan?" Tanya Manda sambil menggeleng tak percaya.


Seo Jun memanyunkan bibirnya, ia tak menanggapi dulu perkataan Manda, sampai dirasakannya guncangan di lengannya lantaran Manda enggan dicuekin.


"Aku tidak masalah liburan seperti apa modelnya, aku hanya mencari ketenangan. Kecuali...." Seo Jun berhenti bicara.


"Kecuali apa?" Tanya Manda kepo.


Seo Jun meliriknya dengan usil lalu berkata, "Kecuali kita pindah liburannya, kita ke Bali saja, bagaimana?" Tanya Seo Jun seraya tersenyum, dari binar matanya tampak ia begitu antusias.


Manda mengernyit, bibirnya turut berperan serta dengan tampak miring ke atas. Ajakan Seo Jun barusan terdengar menggiurkan tetapi juga membingungkan.


"Aku mana bisa bawa mobil ke sana? Aku nggak tahu jalan darat ke Bali." Jawab Manda polos.


"Kita naik pesawat." Jawab Seo Jun cepat.


Manda terdiam, lalu menjawab lagi. "Sampai di sana aku tidak tahu jalan."


"Kita sewa guide lokal." Jawab Seo Jun sambil mengacungkan telunjuknya, sok pintar.


Manda nyengir, "Aku mabuk naik pesawat." Ujar Manda cari-cari alasan.


"Minum obat anti mabuk." Ujar Seo Jun memberi solusi.


Dia pintar Banget jawabnya, aku harus alasan apalagi buat nolak ajakan dia?

__ADS_1


Gumam Manda yang kebingungan sendiri.


"Oke, kita anggap tidak ada masalah, jadi besok kita berangkat. Pesankan tiket pesawat kelas bisnis untuk kita." Perintah Seo Jun mengambil keputusan sepihak, senyumnya lebar tersinggung.


Manda terkejut, ia belum juga terpikir alasan baru tapi Seo Jun malah main ambil keputusan.


"Eh... Aku belum bilang oke!"


"Mau tunggu apalagi? Bukankah diam itu tandanya setuju?" Bantah Seo Jun sok polos.


Manda mendelik, "Besok itu terlalu mendadak, aku belum persiapan."


"Apa yang mau disiapkan lagi? Kamu sudah punya segunung baju baru." Jawab Seo Jun, kecerdasannya berkat IQ-nya yang tinggi, tidak sulit bagi Seo Jun untuk berpikir cepat.


Manda menggigit bibir bawahnya, kesal tapi tak bisa mengungkapkannya.


"Pokoknya aku nggak mau. Kamu berangkat sendiri saja, aku hanya supirmu di sini, bukan teman jalanmu." Pekik Manda menyuarakan ketidak-setujuannya.


"Pikirkan baik-baik, kamu ikut aku ke sana itu juga digaji. Kalau kamu tunggu aku di sini, kamu sudah kehilangan gajimu berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu kalau aku lama di sana." Seru Seo Jun dengan senyum licik, ia tahu Manda akan beralasan terus untuk menolaknya, tapi Seo Jun juga tahu kelemahan gadis itu.


Selama Manda masih cinta Rupiah, Seo Jun yakin gadis itu pasti tidak berani menolak.


Kalau aku tolak, otomatis pemasukanku berhenti. Kalau aku terima, ayahku gimana? Ya Tuhan, bantu aku mikir dong harus gimana aku? Hiks...


Manda malah berdoa di dalam hati.


"So, gimana? Deal?" Suara Seo Jun terdengar menagih keputusan.


Manda sok-sokan berdehem, meskipun ia sangat membutuhkan uang, tetap saja ia harus menjaga image-nya. Jangan terlihat mata duitan atau gampangan di mata orang.


"Hmm... Berapa lama kira-kira di sana?"


"Paling cepat 3 hari, paling lama dua minggu." Jawab Seo Jun mantap.


Manda manggut-manggut, "Sistem pembayarannya gimana?" Nah, Manda mulai blak-blakan bahas angka, bagaimana pun juga dia tetap perhitungan.


Dalam hati Seo Jun berseru girang, ia berhasil melempar umpan pada gadis itu.

__ADS_1


"Disamakan saja seperti harga di sini."


Manda tersenyum lebar, kedengarannya sangat menggiurkan. Dia digaji jalan-jalan, tidak perlu jadi supir, sehari dapat dua puluh juta, mau cari di mana kerjaan seperti itu coba.


"Oke, deal." Jawab Manda mantap, tak lupa dengan senyum puasnya.


Seo Jun menahan tawa bahagianya, ia malah pasang wajah sok galak dan memberi perintah. "Kalau begitu kita pulang ke hotel saja buat persiapan." Perintah Seo Jun.


Manda mengangguk dengan cepat merespon perintah itu, tangannya mulai memainkan gigi mesin mobilnya. "Baik bos."


Namun saat mobilnya baru melaju meninggalkan parkiran rumah sakit, Manda teringat sesuatu, ia langsung melirik ke arah Seo Jun. "Katanya tidak perlu persiapan?" Tanya Manda usil dengan satu tangan memegang setir, satu tangan lagi memegang ponsel.


Seo Jun nyengir-nyengir saja, "Fokuslah menyetir." Ujarnya, enggan kehilangan kharisma.


💖💖


Devi mengikuti Jovas pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Gadis itu bahkan tak pernah bercita-cita menginjakkan kakinya kemari.


"Amit amit jabang bayi." Seru Devi sambil mengetuk kepalanya tiga kali.


Jovas meliriknya tidak senang. "Lu ngapain sih? Nggak usah aneh-aneh deh."


Devi manyun, wajahnya langsung jutek. "Lu yang aneh, begonya gue mau aja dibawa lu ke sini. Katanya lu tahu di mana Manda sama si oppaku, tapi malah ngajak gue ke penjara. Mau ngapain coba!" Kesal Devi.


Jovas geleng-geleng kepala, apes baginya membuat kesepakatan kerjasama dengan gadis kurang kreatif seperti Devi, tepatnya sih kurang pintar.


"Ya cari Manda lah, lu tuh survei nggak sih, cari informasi dulu kek sama target lu. Sumpah lu nggak bakat banget jadi mata-mata, mending lu pensiun dini aja deh."


Devi berhenti berjalan, ia berkacak pinggang melihat Jovas dengan tatapan menantang.


"Eh, sok pinter banget lu yah! Lu mah sebelas dua belas ama gue kali, kalau lu tahu gue nggak cocok, ngapain lu nawaran kerjasama?"


Jovas terpaksa menelan kekesalannya, percuma juga meladeni gadis itu adu mulut. Ia menghela napas panjang agar kembali waras menghadapi Devi.


"Papanya Manda tuh narapidana, Manda kan lagi nyariin dia, udah pasti mereka bakal ke sini lah. Sampai di sini penjelasan gue, dan lu udah paham?"


Devi tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan, kini ia sadar diri bahwa ia yang kurang jauh pikniknya, kurang jauh juga cara berpikirnya.

__ADS_1


💖💖💖


__ADS_2