
Devi baru saja tiba di lobby hotel bintang lima yang semestinya menjadi tempat nginap Seo Jun. Ia berjalan terburu-buru menghampiri meja resepsionis, harus bersiap spekulasi lagi dengan keberuntungan. Devi berharap kali ini dewi fortuna berpihak padanya dan segala beban lenyap.
“Siang Mbak.” Sapa Devi memulai percakapan dengan mbak resepsionis.
“Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?” Tanya si resepsionis sembari menyunggingkan senyum ramah.
Devi manggut-manggut, gestur tubuhnya lebih cepat memberi jawaban ketimbang suaranya. “Iya ada. Mbak tolong cek tamu atas nama Lee Seo Jun dari Korea apa sudah check in?
Resepsionis itu agak heran, ia awalnya mengira wanita itu yang akan reservasi. “Baik, Ibu. Mohon ditunggu, boleh dibantu dengan kode bookingnya?”
Mendengar syarat itu langsung meruntuhkan rasa senang Devi, ia kembali menyadari kelalaiannya yang terlalu tergesa-gesa sehingga lupa bertanya pada Moon. “Ng, itu perlu banget ya mbak? Apa bisa dibantu cek dengan nama aja? Soalnya kan bukan aku yang mau check in.” Devi masih mencoba cari keringanan syarat, ia bisa saja minta tolong pada Moon namun akan makan waktu lagi sedangkan ia sudah tak sabar mendapat kepastian.
Resepsionis itu mulai datar ekspresinya, “Maaf Bu, ini prosedur kami untuk menjaga keamanan dan privasi tamu. Mbak siapanya tamu dan ada kepentingan apa melakukan pengecekan ini?”
Devi nyaris menangis sejadinya, pertanyaan si resepsionis makin sulit saja. Ia harus mengulang penjelasan yang menyedihkan itu dari awal supaya ada jaminan kepercayaan demi mendapatkan sebuah jawaban antara ya atau tidak.
“Huft, jadi gini Mbak … (bla bla bla). Ya gitu lah ceritanya, bisa dibantu sekarang cekkan apakah klien saya sudah berada di hotel?” Pinta Devi setelah curhat panjang lebar.
__ADS_1
“Baik, mohon ditunggu sebentar Bu.” Resepsionis itu membantu penelusuran dengan nama tamu yang disebutkan kemudian memberikan respon.
Devi mengetuk jemarinya di atas meja, saking gugupnya ia sampai tidak menyadari melakukan gerakan itu. Ia terus menatap wajah resepsionis yang fokus pada layar di depannya, dan begitu wanita itu menengadah seketika itu pula Devi tersenyum harap harap cemas.
“Maaf Bu, saya sudah mencari atas nama Bapak Lee Seo Jun untuk pemesanan hari ini hingga lima hari ke depan, belum berstatus check in.” Ujar si resepsionis dengan nada menyesal.
Devi lebih kecewa lagi mendapati jawaban yang tak sesuai harapan. Ia berdoa agar Seo Jun sudah di hotel, istirahat sejenak lalu ia bisa segera menemui pria itu. Nyatanya pria itu malah belum datang, dan entah akan datang atau tidak.
“Gitu ya Mbak.” Jawab Devi lemas. Ingin rasanya ia menangis di tempat andai tidak terlalu malu jadi tontonan orang yang lalu lalang. Bahkan di sampingnya sejak tadi ia berdiri sudah berpapasan dengan tamu yang silih berganti di resepsionis lain.
“Aku boleh nunggu dia datang nggak Mbak? Ntar kalau ada, bilangin ke dia kalau aku nunggu di lobby. Boleh ya Mbak plis.” Devi mengiba segitunya, ia tak tahu harus mencari ke mana. Segala tempat yang dicurigai didatangi Seo Jun sudah ia cari namun hanya harapan palsu yang ia dapatkan. Untung saja resepsionis itu masih sabar dan ramah melayaninya, Devi diijinkan menunggu di lobby bahkan diimingi akan dibantu sampaikan jika pria yang ia cari
***
Manda memeriksa denyut nadi dan meraba di bawah hidung Seo Jun untuk memastikan pria itu masih bernapas. Ia bisa sedikit lega karena masih ada tanda kehidupan yang teraba, namun sampai kapan pria itu tidak sadarkan diri?
“Duh, kamu kenapa sih? Wake up plis.” Manda bicara sendiri, kepanikan yang mulai berlebihan membuatnya bereaksi lebih. Ia tidak punya stok alat kesehatan dalam mobil bahkan air minumpun tidak punya.
__ADS_1
“Aku bawa ke rumah sakit aja deh.” Ujar Manda, lebih baik menyerahkan pada ahlinya ketimbang sok menjadi dokter sendiri. Ia bergegas tancap gas meninggalkan area parkir di Monas sambil mencari rumah sakit terdekat. Sesekali ia menampar pipi Seo Jun sambil berharap pria itu segera siuman.
“Mimpi apa aku semalam perasaan tidur aja kurang, tapi kok bisa kejadian apes mulu hari ini. Sekarang kalau aku bawa ke rumah sakit, darimana uangnya sedangkan dia aja ditanyain ada teman nggak, itu aja nggak keburu dijawab. Masa aku harus jadi keluarga pasien trus nanggung biaya dia? Aduh…” Galau segalau-galaunya Manda sekarang, konsentrasi nyetirnya terpecah belah antara tetap membawa Seo Jun ke rumah sakit atau tidak. Meskipun ragu tetapi ia tetap saja mengemudi tanpa niat berhenti sejenak untuk berpikir, secara tidak langsung ia menggiring pada pilihan untuk membawa pria itu ke rumah sakit. Kondisi pria itu jauh lebih mengkhawatirkan ketimbang tabungannya yang sangat tipis.
Manda mengitari jalanan menuju sebuah rumah sakit umum yang ditunjuk oleh GPS, setidaknya inilah rumah sakit terdekat. Ia mulai masuk ke lokasi parkir setelah mengambil karcis parkir. Setirnya dibanting ke kiri dengan terlalu menikuk saat ia berusaha mendapatkan tempat parkir yang terlewatkan, gerakan kasar itu rupanya mengguncang Seo Jun hingga ia mengeluarkan suara. Manda menoleh pada pria itu kemudian segera menyelesaikan parkiran dulu.
“Aku salah dengar kali ya?” Gumam Manda, ia melirik Seo Jun yang masih menutup mata. Dugaannya seketika patah saat ada suara lagi dari pria itu. Manda mendekatkan diri untuk memastikan suara itu datang dari Seo Jun. Betapa kesal dirinya saat menyadari suara tersebut dipastikan adalah dengkuran karena tidur. Ia langsung menatap Seo Jun, simpati yang beberapa menit lalu ia berikan kini berubah menjadi rasa jengkel.
“Bangun!” Manda dengan keras mengguncang lengan Seo Jun namun tidak mempan. Ia geleng-geleng kepala, pria itu tidur layaknya putri tidur yang tidakbisa dibangunkan. Masa iya dia harus memberi ciuman biar sadarkan diri? Manda enggan kehabisan akal, ia keluar mencari sesuatu yang mungkin manjur membangkitkan Seo Jun.
“Bangun!” Pekik Manda sembari memercikkan air mineral yang ia beli ke wajah Seo Jun. Berhasil! Pria itu kalang kabut terkejut kemudian sadarkan diri. Lebih membingungkan lagi ketika melihat gadis di depannya terkekeh sementara wajahnya basah kuyup hingga mengenai jaket yang ia kenakan.
“Kamu ngapain aku?” Protes Seo Jun yang mengusap wajah basahnya. Kantuk yang tak tertahankan dan membuatnya tertidur di kursi mobil karena dinginnya AC malahan berujung menyebalkan. Apa yang salah dengan tidur hingga gadis itu harus memaksanya bangun? Seo Jun tak tahu betapa cemasnya Manda yang mengira ia pingsan kesakitan.
Manda mengandalkan ponsel lagi, “Kamu yang ngapain? Aku kira kamu mati ternyata cuman tidur!” Ujar Manda kesal.
Seo Jun mengernyit, awalnya ia heran karena kepanikan berlebihan Manda tetapi sedetik kemudian ia tertawa terbahak. Giliran Manda yang mengernyit, apa yang lucu sehingga pria itu bisa terpingkal-pingkal? Bukannya merasa bersalah sudah mengejutkan Manda, Seo Jun justru belum menghentikan tawanya.
__ADS_1
***