
Menanti sekian lama jelas sangat menyiksa Devi, perutnya konser beberapa kali minta jatah makan malam. Tetapi berat rasanya bagi dia untuk meninggalkan lobby, lalu ia hanya mengandalkan layanan pesan antar untuk makanan siap saji tanpa harus beranjak dari lobby.
“Makasih.” Ujar Devi yang juga memberi tip bagi driver yang mengantarkan burgernya.
Bergegas ia buka plastik makanan dan melahapnya selagi hangat. Pipinya mengembung tembem saat ia tak sabaran mengunyah dalam lahapan besar.
“Permisi Mbak, anda sudah duduk di sini sangat lama dan ini sudah malam. Dilarang makan di lobby!” seorang security menghampiri Devi, mengejutkan gadis itu yang tengah seret oleh burger.
Devi mengangguk-angguk lalu bergegas minum air, ia tidak mungkin menjawab dengan mulut penuh makanan. “Sorry Pak, aku masih nunggu temanku datang. Aku makan di luar deh.” Devi berniat angkat pantat, ia juga merasa segan sudah numpang adem di lobby berjam-jam. Sebaiknya ia pindah ke luar untuk menunggu sampai Seo Jun datang.
“Maaf Mbak, Mbak sudah sejak siang di sini. Tolong jangan berkeliaran di sekitar hotel, mbak bisa melanjutkan keperluan Mbak besok. Atau mungkin mau pesan kamar di sini?” Ujar security yang sebenarnya menjalankan tugas juga dari manager untuk mengusir Devi secara halus, karena gadis itu sudah beberapa kali mengacaukan tamu dengan salah mengenali orang.
Devi terdiam, ia memang sadar diri bahwa ia cukup mengganggu di sini, empat orang pria yang check in sempat dikira adalah Seo Jun. Ia bahkan sempat bersikukuh dengan salah satunya lantaran dinilai mirip dengan foto Seo Jun dan merasa bahwa pria itu mengibulinya. Mentang-mentang pria itu juga berasal dari Korea, parahnya Mbak custumer service pun harus turun tangan menjelaskan bahwa pria itu bukan yang dicari Devi.
“Emmm… Oke, tapi aku harus ngomong ke CS dulu. Bentar ya pak.” Pinta Devi, ia tidak mau pergi dengan harapan kosong. Setidaknya biarkan ia berjuang sampai titik darah penghabisan.
__ADS_1
Devi berjalan menghampir CS yang belum ganti shift, dari kejauhan mbak itu sudah mulai merasa feeling tak enak. Semacam cobaan baru akan menghampirinya lagi, Devi benar-benar dianggap trouble maker bagi CS itu.
“Mbak, sebelum aku diusir, aku mau minta tolong banget ya plis. Ini kartu namaku, ada no WA dan telpon di sana. Tolong berikan pada tamu bernama Lee Seo Jun waktu dia check in, ini penting banget Mbak. Aku beri Mbak bonus deh setelah berhasil dihubungkan sama dia.” Devi menyodorkan kartu namanya pada mbak CS yang masih berusaha senyum padanya.
Mbak itu mengernyitkan dahi, harus dilimpahi tanggung jawab baru yang semestinya tidak perlu ia lakukan. “Baik Mbak, akan saya sampaikan kepada yang bersangkutan apabila dia datang.” CS itu tetap menerima kartu nama itu dan tersenyum pada Devi.
Setidaknya Devi bisa pulang dengan tenang, walau kemenangan masih belum jelas terlihat. Ia sudah lelah berusaha, seperti mencari anak ayam yang hilang. Andai ia tidak sakit perut, andai ia lebih cepat sedikit keluar dari toilet, mungkin cerita hari ini berbeda. Ia mungkin sudah senang menjalankan tugasnya, menemani seorang tamu yang siapa tahu akan memberinya tip seperti tamu-tamu kebanyakan yang pernah memakai jasanya.
***
Manda masih belum memberikan jawaban, ia sendiri bingung harus menjawab apa pada Seo Jun yang barusan berucap aneh padanya. ‘Di mana ada kamu, di situ ada aku!’ seolah Manda adalah kekasihnya? Teman dekatnya? Saudaranya? Sayangnya dari tiga status yang terbersit dalam benak Manda, justru tidak ada satupun yang melabelinya. Ia hanya seorang supir, yang makan gaji dari pria itu. Tapi bukan berarti ia punya kewajiban mengurusi masalah pribadinya kan? Sampai urusan tidur di mana pun masih harus merepotkannya segala, Manda sungguh tidak terima.
Seo Jun menopang dagu, wajahnya sok imut padahal Manda sudah pasang wajah jutek. “Kenapa tidak boleh? Apa kau malu tempatmu kotor? Berantakan? Hahaha… Dari luar kau memang terlihat gadis yang kurang rapi.” Seo Jun tertawa, tanpa dosa bercanda hal yang menyakitkan Manda.
Manda makin berang, tanpa kata-kata matanya justru tampak berkaca-kaca. Pria itu sok akrab, apa mungkin dia yang punya pikiran mesum, berencana memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Apa nginap itu sebuah kode bahwa pria itu ingin mengajaknya berbuat nakal? Sungguh, Manda bukan gadis seperti itu!
__ADS_1
Seo Jun terkejut melihat kedua bola mata Manda yang tampak sembab menahan tangis. Gadis itu seperti bunglon, sebelumnya ia berapi-api seperti hendak menerkam orang, tidak lama kemudian ia mellow menahan tangis. Pria
itu mulai berpikir, mungkin ucapannya menyinggung gadis itu.
“Sudah… Sudah… Jangan nangis. Kalau kamarmu kotor, aku bisa bantu rapiin. Aku janji nggak bakal ketawain kamu, aku cuman mau jaminan aja besok kamu masih jadi supirku. Jadi di mana ada kamu, aku harus ikut.” Ujar Seo Jun bersungguh-sungguh. Ia sebenarnya takut kehilangan gadis itu, tidak ada jaminan bahwa Manda akan datang lagi besok. Seo Jun tidak punya ponsel, tidak ada yang bisa ia andalkan, jika manda meninggalkannya begitu saja maka ia pasti kesulitan.
Belum lagi ia tidak hapal nomor Moon, sepupunya. Ia harus bersabar dua hari lagi untuk mendapatkan ponselnya kembali, lalu membuat perhitungan dengan guide tidak bertanggung jawab itu. Rencana perjalanannya berubah total gara-gara guide yang mangkir itu. Namun gara-gara itu, Seo Jun jadi mengenal Manda, meskipun baru kenal tetapi rasanya ia tertarik pada gadis itu. Memikirkan itu membuat Seo Jun sedikit berkepala dingin, ada sisi baiknya
ia ditinggalkan guide hingga mengenal Manda.
“Aku pasti datang lagi besok, kau tenang saja. Uang empat jutaku saja masih ditahan, lagipula siapa yang mau melewatkan kesempatan kerja dengan gaji dua puluh juta per hari.” Celetuk Manda blak-blakan, dampak kesal
pada perkataan Seo Jun yang menyebalkan tapi juga menyenangkan di bagian akhirnya.
Seo Jun tersenyum, gadis itu terlalu jujur dan berani melontarkan apapun yang ada di otaknya tanpa disaring. Pria itu menduga mungkin alasan itulah yang membuatnya melihat Manda begitu menarik. “Tapi aku sungguh tidak punya tempat berteduh. Apa kau tega lihat aku tidur di jalanan?” Keluh Seo Jun memelas.
__ADS_1
Manda tidak habis pikir, mana ada orang dengan tampang seperti Seo Jun tidur di jalanan. Pria itu punya uang, apa yang harus dikhawatirkan jika punya banyak pegangan uang. Sedangkan Manda sendiri sudah tidur di jalanan sejak kemarin, walaupun itu pengalaman pertama dan sangat terpaksa karena ia sungguh terancam tidak punya masa depan lagi jika ia paksakan mencari kos di saat genting.
***