
Seo Jun tampil keren dengan kacamata hitam, rambut yang dibentuk rapi dengan sentuhan pomade, dan pakaian yang super duper menonjolkan ketampanannya walaupun dalam busana kasual. Ia berjalan enteng keluar dari hotel, berbeda rasa dengan Manda yang kini ngos-ngosan menahan kesal padanya.
"Hei, be quickly. We Will late to airport." Seo Jun menoleh ke belakang, dengan senyuman yang menjengkelkan, ia memerintahkan Manda agar lebih cepat lagi berjalan.
Manda menatap sinis padanya, bagaimana bisa cepat jika ia harus menenteng semua barang bawaan mereka sendirian. Satu koper milik Seo Jun yang beratnya entah apa saja yang diisinya ke dalam, lalu satu koper lagi milik Manda yang separuh isinya adalah hasil paksaan Seo Jun agar ia memakai barang-barang pemberiannya. Dan Manda baru sadar ia telah dibodohi pria itu, mengapa ia harus menuruti kemauannya yang mengatur perlengkapan pribadinya untuk dibawa liburan?
Lebih kesal lagi karena Seo Jun berlagak seperti bos sungguhan dan enggan membantunya. Meskipun koper itu ada rodanya, namun tidak berarti mudah bagi Manda untuk menyeretnya ke sana kemari sendirian dengan dua tangan full bawaan. Manda enggan menanggapi Seo Jun, ia berjalan dengan acuh walau kepayahan mengurus barang bawaan hingga sampai di depan mobil.
Seo Jun masuk duluan ke dalam mobil, duduk dengan santai sambil mengintip Manda dari spion. Ia terkekeh melihat Manda dengan tak ikhlas memasukkan koper ke bagasi mobil. Sebenarnya Seo Jun ingin membantu namun ia tahan keinginan itu, lantaran ingin memberi pelajaran pada gadis itu.
Manda masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut parah, ia membanting pintu mobil agak keras, sengaja sebagai bentuk protes pada Seo Jun yang berlagak bossy kali ini.
"Bagaimana rasanya? Capekkan?" Tanya Seo Jun dengan ponsel yang disodorkan sangat dekat di telinga Manda.
Manda menghindari ponsel itu dengan tangannya yang menepis ringan, ia tidak tuli jadi tidak perlu sedekat itu untuk mendengarkan. Manda tetap diam tidak menggubris pertanyaan Seo Jun.
Seo Jun terkekeh, ia menyambung lagi omongannya. "Bukankah ini kemauanmu? Aku hanya menuruti apa yang kamu mau." Ujar Seo Jun santai.
Manda melirik kesal ke arahnya, sekaligus tidak paham maksud si Oppa.
"Kamu yang bilang tidak mau liburan gratis, kamu tidak enak padaku jika hanya menumpang fasilitasku. Aku hanya membantumu agar tidak merasa bersalah, kamu tidak pergi gratis denganku, kamu bisa jadi pesuruhku." Ujar Seo Jun sambil terkekeh puas. Ia sengaja tidak mau memandangi wajah Manda yang ternganga kaget, ia yakin gadis itu pasti sudah paham maksudnya. Seo Jun terkekeh sambil menatap jalanan yang dilalui mereka menuju bandara.
Manda melongo, ia tak menyangka jika Seo Jun menanggapi serius kekesalannya kemarin. Setelah mereka sampai di hotel semalam, Manda mendadak kesal karena melihat nomor yang dulu pernah memblokirnya kini justru membuka blokiran serta mengirimkan sebuah pesan yang menohok. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan Jovas.
Flashback tadi malam
Manda, gue tahu lu butuh uang sejak bokap lu bangkrut. Gue cuman nggak tega lihat lu jadi mainan cowok asing itu, dia berani bayar lu mahal hanya buat nemenin dia kan? Gue bisa kasih lu kerjaan yang lebih baik dari ini dan halal, yang penting lu nggak dimanfaatin sama cowok itu.
Ingin rasanya Manda membanting ponselnya, untung saja akal sehatnya masih bagus sehingga ia bisa mengontrol kemarahannya. Jika tidak, naas sekali nasib ponselnya yang tidak bersalah, apalagi jika sampai rusak, yang ada Manda akan rugi berkali lipat karena kekesalannya merusak barang berharganya.
Dia pasti diceritakan aneh-aneh sama cewek kemarin. Itu cewek kan yang ngejar Seo Jun kapan hari. Darimana dia bisa tahu gue kerja ama Seo Jun? Gila... Hina banget gue di pikiran dia, sampe dikira gue kerja apaan.
__ADS_1
Kesal Manda dalam hatinya.
"Mikirin apa? Barangmu sudah dikemasi belum?" Seo Jun tiba-tiba menyodorkan ponsel, mengejutkan Manda yang masih melamun.
Manda mengelus dadanya yang kaget, ia mendelik pada Seo Jun. Tapi Manda belum berniat menanggapi keusilan pria itu, ia tetap diam melanjutkan kerjaannya. Tapi ia tiba-tiba kepikiran chat Jovas yang menyebalkan.
"Aku rasanya tidak jadi ikut ke Bali denganmu." Gumam Manda.
Seo Jun mengerutkan dahinya, "What happen?"
Wajar ia kaget karena perubahan Manda yang tiba-tiba.
Manda menghela napas kasar, ia ragu untuk berterus terang pada Seo Jun tentang chat dari Jovas. Rasanya tidak etis jika terlalu terbuka pada pria itu tentang urusan pribadinya.
"Hmmm... Aku tidak mau hanya jadi pendamping bayaran di sana. Terlalu gampang mendapatkan uang sebanyak itu hanya digaji untuk liburan." Ucap Manda, entah bagaimana ia bisa menemukan alasan konyol demi melindungi harga dirinya.
Dan itulah alasan yang sekarang Seo Jun lakukan demi menuruti kehendak Manda, 'tidak mau digaji hanya untuk liburan'.
🌹🌹🌹
Seo Jun sungguh serius dengan ucapannya, ia bahkan tega membiarkan Manda mengeret koper sendiri saat masuk ke bandara. Sementara ia melenggang masuk dengan senyum lebar dan santai. Manda kewalahan mengatur barangnya hingga masuk ke bagasi check in.
"Awas saja, tunggu pembalasanku!" Geram Manda yang kesal melihat santainya Seo Jun.
Kali ini ia benar-benar merasakan kerja kerasnya sebagai kuli pria itu. Sebenarnya tidak masalah Manda kerja berat, yang ia tidak tahan adalah melihat tingkah Seo Jun yang over itu.
Seo Jun tahu Manda sedang menggerutuinya, namun ia justru semakin tertarik melihat wajah jengkel Manda.
Dia makin cantik kalau lagi marah.
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Apa? Mereka ke bandara?"
Teriak Jovas saat mendapat telepon dari detektif sewaannya yang khusus untuk menguntit Manda di hotel. Andai bisa, Jovas ingin selalu mengintai mereka, bila perlu mendobrak masuk ke ruang mereka menginap. Tapi itu mustahil, maka ia antisipasi dengan menyewa detektif agar tidak kecolongan keberadaan Manda.
"Aku tidak mau tahu, cari tahu secepatnya ke mana mereka pergi! Kabari aku segera!" Geram Jovas yang langsung menutup telponnya. Hatinya panas mengetahui Manda pergi berduaan dengan pria itu.
"Apa jangan-jangan Manda ikut dia ke Korea?" Ujar Jovas kelabakan karena pikirannya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Jovas segera meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja lalu bergegas menuju pintu kamar. Saat ia membuka pintu, Bella justru nampak di hadapannya dengan senyuman menggoda. Jovas biasa saja melihat kehadiran cewek yang masih berstatus kekasihnya, tanpa bicara apapun, ia menerobos keluar dan menabrak bahu Bella.
"Beib, lu mau ke mana?" Tanya Bella gusar. Ia baru saja datang tapi Jovas malah mau pergi meninggalkannya.
Jovas diam, ia segera berlari keluar rumahnya yang memang sepi.
"Beiib...." Bella mengejarnya lalu menahan tangannya dari belakang.
Jovas melihat Bella yang merengek manja dengan tatapan malas, "Gue ada urusan mendadak, sorry." Jawab Jovas lalu menepis ringan tangan Bella yang bergelayut di lengannya.
Bella kesal luar biasa, berhari-hari sudah sejak Jovas bertemu lagi dengan Manda, ia diperlakukan bak habis manis sepah dibuang.
"Lu mau ngejar si cewek ngebosenin itu? Plis deh, Jo... Apa sih bagusnya dia? Gue itu cewek lu, dan gue nggak suka lu nguber-nguber mantan lu lagi!"
Teriakan Bella membuat Jovas berhenti, Bella mengira gertakannya berhasil dan ia tersenyum lebar saat Jovas menoleh padanya.
"Oke, kalau gitu mulai sekarang kita putus!"
Seru Jovas tegas, kemudian berbalik badan lagi dan lari meninggalkan Bella yang kehilangan senyuman serta harapannya kepada Jovas. Ia benar-benar dibuang setelah dipakai pria itu. Bella berdiri menangis dan berteriak tak terima diperlakukan seperti itu oleh Jovas.
"Gue gak sudi lu putusin. Lu musti tanggung jawab sama virginnya gue!"
🌹🌹🌹
__ADS_1