Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 67 I Trust You


__ADS_3

Dua kali sudah Manda menyaksikan kerapuhan Seo Jun, andai tidak terjadi hal yang membuat hatinya trenyuh itu, mungkin Manda tak akan sepenasaran ini. Ada apa dengan si oppa yang bisa bersikap sangat aneh? Ia bisa tampak senang, ceria namun tiba-tiba bisa bersikap menyedihkan. Hingga saatnya pria itu mulai mempercayainya, dan meminta kepastian padanya.


"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." Ucap Manda sungguh-sungguh, Seo Jun pun bisa melihat keseriusan dari sorot mata gadis itu.


Harapan Manda, begitu mengucapkan janji akan membuat pria itu percaya dan menceritakan uneg-unegnya. Tapi kenyataannya, masih perlu beberapa waktu hening bagi mereka berdua.


Yang benar saja, apa dia kira aku bisa dengar suara hatinya? Kenapa belum juga bicara? Gumam Manda dalam hati, ia terlalu gengsi untuk mendesak Seo Jun menceritakan padanya. Mungkin masih ada keraguan dalam hati pria itu kepada Manda.


Aku tidak tahu harus mulai darimana? Ini terlalu rumit, aku harus membuka aib pada seorang gadis? Seo Jun pun punya pertimbangannya, ia tak hanya ragu namun merasa canggung harus membuka kedok pada Manda. Tetapi... Semakin ia pendam rasanya makin menyakitkan.


"Aku..." Seo Jun menjeda ucapannya, ia sedikit menundukkan kepala. Berusaha menata hati untuk terbuka pada gadis di sebelahnya.


Deg! Deg! Deg! Jantung Manda berdegup kencang, baru satu kata yang terlontar dari Seo Jun saja sudah membuatnya kelabakan gugupnya. Seperti menanti pernyataan cinta saja, hingga reflek Manda menepuk pipinya pelan agar sadar dari pikiran anehnya.


"Aku teringat orangtuaku...." Lirih Seo Jun, kata-katanya hanya sedikit namun sulit ia ucapkan, namun ia berhasil mengatakannya.


Manda menoleh menatap pria itu, rasa ingin tahunya sangat besar namun rasa tahu dirinya lebih besar. Ada kalanya kita cukup menjadi pendengar, orang itu mungkin hanya perlu didengar dan bukan meminta saran. Dan Manda cukup tahu diri untuk memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik sekarang. Ia menatap lawan bicaranya yang kini menatapnya juga.


Seo Jun mengambil ponselnya, meneruskan apa yang belum selesai ia lontarkan. "Satu minggu lalu, mereka meninggalkanku untuk selamanya. Aku belum bisa menerima itu, aku benci segala hal yang mengingatkanku pada mereka." Ucap Seo Jun, setelah itu ia membenamkan wajahnya di lututnya yang duduk ditekuk.

__ADS_1


Manda mengerti betul rasanya kehilangan, paham betul sakitnya ditinggalkan oleh orang yang menjadikannya ada di dunia. Ia pernah merasakannya ketika ibunya meninggal, dan makin komplit menderita saat harus dipisahkan dari ayahnya karena masuk penjara.


Seo Jun tampaknya mulai menangis, samar-samar suara Isak yang ia tahan itu terdengar oleh Manda. Mereka kembali hening, pengakuan Seo Jun tentang patah hati akibat kehilangan orangtua itupun mengingatkan Manda tentang patah hatinya saat ini. Benar dugaannya, bahwa ia dan si oppa ini mempunyai kemiripan, yakni sama-sama menderita karena kehilangan.


Bodoh! Kenapa aku menangis? Kenapa aku memperlihatkan sisi lemahku di hadapan gadis ini? Tapi... Dia membuatku merasa tenang, dia membuatku bisa terbuka pada oranglain. Umpat Seo Jun pada dirinya sendiri di dalam hati. Entah harus bersyukur atau menyesali tindakannya, namun Seo Jun sudah sampai pada titik lemahnya, dia juga tak bisa pungkiri masih dibayangi kesedihan itu.


Manda menititkkan air mata, ia belum mengucapkan sepatah katapun untuk menanggapi curahan hati Seo Jun. Perlahan ia mengusap air matanya, lalu meraih ponselnya. Dengan satu tangan lagi yang masih nganggur, dia menepuk pelan pundak Seo Jun. Tepukan yang mengundang Seo Jun mendongak kepadanya. Mata mereka beradu tatap sejenak, ada kecemasan, kesedihan, dan rasa sakit yang sama dalam tatapan itu.


"Menangislah... Jangan ditahan kalau kamu mau menangis. Tidak ada yang salah dengan menunjukkan sisi lemah, kita tidak selamanya bisa kuat. Aku mengerti lukamu, dan aku mau mengatakan... Di dunia ini tidak hanya kamu yang mendekati karena kehilangan. Ada aku... Aku juga merasakan itu."


Balasan dari Manda yang melewati perantara ponsel canggihnya, meskipun terdengar kaku dengan suara robot, tetapi maknanya berkesan dan masuk dalam hati Seo Jun. Mereka saling pandang sejenak, membiarkan air mata mereka mengalir bersama. Tanpa isakan, hanya diam dan air mata itu jatuh begitu saja.


Tatapan tanpa jeda itu seolah menggerakkan hati dan tangan Manda, ia bertingkah lebih berani dengan meraih Seo Jun ke dalam pelukannya. Reaksi tak terduga yang membuat Seo Jun tersentak kaget namun tak kuasa menolak. Pelukan yang hangat dan menenangkan, pelukan yang membuatnya menggerakkan tangan dan membalas pelukannya.


_Suara hati Seo Jun_


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Pengintaian Devi hari ini berakhir dengan kembalinya Seo Jun ke hotel. Jangkauannya terbatas sampai di lobby saja, itupun jika ia masih punya muka untuk menyetor penampakan di hadapan para karyawan hotel yang sudah mengenalinya. Devi terpaksa hanya sampai di depan hotel, tanpa berani memasukinya. Ia meraih ponselnya, ini saat yang tepat bagi Devi untuk melaporkan hasil akhir kerjanya pada Moon.

__ADS_1


"Noona... Aku mau lapor." Ujar Devi begitu mendengar jawaban dari seberang.


"Ya, tapi aku mau protes dulu!" Hardik Moon yang sudah tak sabar menunggu panggilan masuk dari Devi hanya untuk mengomelinya.


Devi mengelus dada, perasaan dia selalu kena cipratan marah dari Moon. Saking seringnya hingga boleh dibuat slogan 'Tiada hari tanpa omelan', dan itu sangat menyebalkan lantaran ia sudah cukup capek, ditambah harus mendengar suara melengking Moon yang mengamuk.


"Kamu lebih baik belajar motret lagi, kenapa tidak ada satupun kiriman fotomu yang jelas? Gimana aku bisa menilai dia cantiknya di mana, kalau foto yang kamu kirimkan hanya nampak rambutnya, punggungnya, sisi sampingnya? Bisa nggak sih sekali aja kamu becus kerjanya?" Gerutu Moon, andai ia tak penasaran dengan tampang Manda, mungkin ia tak akan sekeki ini.


Devi memanyunkan bibirnya, kali ini ia mengakui kesalahannya. Ia memang kurang mahir mengambil gambar, apalagi yang dilakukan diam-diam, bahkan yang diambil dengan persiapan pun sering hasilnya blur.


"Maaf, tapi noona aku punya kabar bagus. Ternyata Manda sering ngajak Seo Jun ke rumah sakit, itu karena papa Manda dirawat di sana."


Devi berusaha mengalihkan perhatian Moon dengan laporan penting itu. Beruntung bagi dia karena Moon langsung mengabaikan masalah foto lalu menanggapi dengan antusias. "Oya? Sakit apa papanya? Apa gadis itu memanfaatkan Seo Jun untuk membiayai perawatan rumah sakit?" Tanya Moon gemas, andai benar bahwa gadis itu matre, ia akan sedra bertindak. Bila perlu ia akan menyusul Seo Jun ke Jakarta sekarang juga.


"Nggak tahu noona, yang jelas Seo Jun berani menggaji gadis itu mahal loh. Bayangkan dua puluh juta buat jadi supir per hari, wow....


Jadi noona, pertanyaannya adalah... Kapan gajiku dinaikkan? Ya minimal separuh gaji Manda deh, aku udah puas segitu kok." Ujar Devi dengan polosnya, hatinya berbunga-bunga membayangkan ketiban uang sebesar itu dari kerjaannya sekarang.


πŸ’²πŸ’²πŸ’²

__ADS_1


Kira-kira reaksi Moon gimana ya? Hmm....


Hi readers, yuk follow akun author. Mohon dukungannya ya, agar karya ini makin banyak pembaca. Makasih πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2