
Jemari Devi mengetuk meja kasir dengan tidak sabaran, ia masih menunggu kasir malang itu menjawab pertanyaannya yang merepotkan. Ia tidak sadar bahwa orang-orang yang mengantri di belakang mengawasinya dengan tatapan bak kucing hendak mengintai mangsa. Penampilan Devi yang mencolok pun membuatnya menjadi bahan gunjingan, semula ia tutup kuping saja mendengar seliweran itu tetapi lama-kelamaan ia mulai jengah juga lalu menoleh ke belakang. Delikan matanya cukup ampuh membungkam para komentator itu, terbukti mereka langsung hening begitu mendapat lirikan tajam.
"Udah ketemu belum mbak? Yang di belakang udah nggak sabar nih." Desak Devi tidak tahu diri, ia yang merepotkan orang dan ia pula yang tidak mau tahu kondisi orang.
Mbak kasir itu menatap Devi, ingin rasanya berteriak tapi ia takut mengancam reputasi kerjaannya. Apa boleh buat ia tetap berusaha sabar meladeni keinginan Devi. "Maaf lama mbak, mereka nonton film Kutunggu Mantanmu! di studio 1. " Jawab mbak kasir dengan senyum datar, untung saja ia masih mengingat pembeli karcis yang ciri cirinya disebutkan Devi. Itupun lantaran pasangan itu terlihat mencolok sehingga masih membekas dalam ingatannya. Kalau bukan demi reputasinya, mbak kasir itu tidak akan sudi melayani permintaan aneh-aneh dari pelanggan yang tampak sok cool itu.
Devi tampak menahan senyum senangnya, ia masih konsisten memasang wajah dengan ekspresi datar. "Oh, oke... Aku juga beli 1 tiket di studio itu. Oh ya, tempat duduknya juga dekat dengan barisan mereka ya." Request Devi.
Mbak kasir itu mengangkat satu alis, pelanggan yang satu ini benar-benar tidak tahu diuntung. Sudah bagus ia mencarikan tempat yang sama, sekarang si pelanggan justru meminta hal yang aneh. Dari sekian banyak bangku yang sudah ditempati, jelas ia tak lagi ingat di mana pasangan itu duduk.
"Baik Mbak." Jawab mbak kasir itu sumingrah, dengan gesit ia mencetak satu karcis dan disodorkan pada Devi.
"Ini mbak, pintu studio sudah dibuka silahkan langsung masuk. Terimakasih." Ujar mbak kasir itu ramah sembari menyodorkan karcis pesanan Devi.
"Sip...." Jawab Devi tersenyum puas dan tanpa balasan terimakasih. Ia melenggang pergi dengan sok elegan dan senyuman penuh kepuasan.
Apa sih yang nggak bisa aku lakukan di dunia ini? Hanya memata-mataimu saja nggak bakal susah. Gumam Devi puas dalam hati. Ia tidak sadar bahwa kepergiannya dibarengi dengan lirikan sekilas mbak kasir yang akhirnya bisa tersenyum lebar.
__ADS_1
👀👀👀
Ruangan di studio mulai gelap ketika Seo Jun dan Manda masuk, agaknya mereka sedikit telat gara-gara acara ke toilet sebelum nonton. Dan ini murni karena ketidak-siapan Manda untuk nonton dadakan, kalau saja ia tahu si oppa mengajaknya nonton, ia pasti mengontrol asupan makanan dan minuman sehingga tidak merepotkan ke kamar kecil.
Seo Jun berjalan di belakang Manda, membiarkan gadis itu menuntun jalan menuju tempat duduk mereka. Lagipula ia memang sengaja membuat Manda duduk di paling pojok, dan gadis itu pasti akan masuk duluan ke dalam barisan.
Studio benar-benar sudah gelap sekarang, terdengar suara iklan mulai diputar. Manda dengan sangat terpaksa terjebak di pojokan, spot yang tidak menguntungkan bagi yang ingin menikmati tontonan, tapi cukup strategis bila hendak dimanfaatkan untuk tidur.
Ya sudahlah, lagipula aku memang berencana tidur. Batin Manda setelah duduk sempurna di kursi jatahnya. Sekilas ia menatap Seo Jun yang duduk di sampingnya tersenyum lebar, Manda justru nyengir. Ia tak habis pikir mengapa pria itu begitu tertarik dengan film genre ini.
Manda melipat tangannya ketika merasakan udara dingin mulai membuatnya menggigil. Pakaian yang ia kenakan lumayan tipis dan ia pun tidak betah berada dalam ruangan yang sedingin ini. Seo Jun terlihat asyik menonton sembari makan popcorn, Manda mencuri pandang padanya dengan penasaran. Pria itu terlihat sangat menikmati tontonan itu.
Manda menggosok lengannya yang dingin dengan kedua tangannya, ia cukup tersiksa karena kedinginan. Suara kunyahan Seo Jun yang asyik ngemil popcorn pun terdengar menyebalkan saking sentimennya Manda sekarang.
Bisa-bisanya kamu tertawa di saat aku tak nyaman. Gerutu Manda dalam hati, rasa irinya timbul tanpa diundang.
"Eh?" Gumam Manda heran, baru saja ia menggerutu dalam hati tentang si oppa, tiba-tiba jaket yang dikenakan pria itu melayang padanya. Entah bagaimana ceritanya, Manda bahkan tak melihat sejak kapan Seo Jun melepaskan jaket hitamnya. Tahu-tahu mendarat sempurna di atas kepala Manda. Ia meraih jaket itu, aroma parfum Seo Jun tercium kentara dan anehnya Manda menyukainya. Diliriknya ke samping, ternyata pria itu tetap asyik menonton seolah tak terjadi apa-apa, seolah tak menghiraukannya. Tetapi mengapa pria itu bisa sepeka itu?
__ADS_1
Senyum Manda mengembang, ia tak akan membiarkan jaket itu mubajir. Segera dipakainya agar ia tak membeku, kini pertanyaan mencuat dari benaknya. Haruskan Manda mengucapkan terimakasih?
"Thanks...." Akhirnya tanpa pikir panjang, Manda mengucapkan itu dalam bisikan.
Reaksi Seo Jun malah seperti tak mendengar, ia sibuk tertawa pas adegan yang dirasakannya lucu. Manda mengira si oppa tidak mendengar, ia pun enggan mengulang ungkapan terimakasih itu. Gadis itu mengangkat bahu dengan cuek, kemudian menyandarkan tubuhnya di pojokan. Di saat semua asyik menonton, ia justru asyik menguap lalu memejamkan mata dan tertidur.
Seo Jun menarik seulas senyum, ia tahu apa yang dilakukan Manda, termasuk ucapan terimakasih yang malu-malu dibisikkannya. Seo Jun hanya pura-pura tidak tahu, termasuk saat ini... Ketika gadis di sebelahnya tertidur pulas. "You're Welcome." Desis Seo Jun membalas pernyataan terimakasih Manda walaupun telat.
Dalam mimpi, Manda bergandengan tangan dengan Seo Jun sambil berjalan santai, sesekali mereka tertawa meski entah apa yang lucu untuk ditertawakan. Namun mimpi itu terasa cukup nyata, terutama rasa hangat dari sebuah tangan yang menyentuhnya.
Di tengah benih-benih kasmaran yang mulai merebak di hati dua orang itu, ada satu hati yang tengah kepanasan. Ternyata Manda bukan satu-satunya penonton yang tidak tertawa menonton adegan lucu, masih tersisa satu orang yang geram dan kesal mendapati kenyataan yang tak sesuai harapan. Ia merasa terbohongi, hanya karena terlalu percaya pada seseorang hingga ia tertipu telak.
"Apanya yang dekat, lah mereka duduk di mana... Aku duduk di mana!" Geram Devi yang kesal setengah mati lantaran duduk di kursi barisan dua dari depan, sedangkan Seo Jun dan Manda yang ia targetkan malah duduk di atas pojokan.
"Ssssttt! Berisik!" Kesal penonton di samping yang merasa terganggu oleh Devi.
Dan Devi harus menelan kecewa serta membungkam mulutnya sepanjang di dalam bioskop. Rencananya tak sepenuhnya mulus, terbukti bahwa dia memang mata-mata amatiran.
__ADS_1
🚻🚻🚻