
“Sorry, Manda … Kita putus aja!” Suara pria yang memutuskan hubungan itu terus menggema, Manda berdiri di sekeliling tempat yang gelap sembari menatap punggung pria itu semakin menjauh darinya.
“Tidak! Jangan tinggalkan aku sendiri!” Manda mengulurkan tangan sembari berteriak kencang, namun pria itu sangat berhati dingin dan tega membiarkan Manda hilang ditelan kegelapan.
“Tidak!”
Gadis itu terkejut bukan main hingga terbangun lantaran mulai kesulitan bernapas, samar-samar ia melihat benda miliknya yang menimpuknya. Sembari mendengus kesal, tas ransel itu ia angkat dan pindahkan ke lantai. Demi
pertahanan diri, ia membangun sekat pemisah dengan berbagai barang bawaan mereka – tiga buah tas ransel dan satu koper milik Seo Jun – untuk menandai area kekuasaan masing-masing di atas ranjang itu. Nyatanya, yang terjadi adalah tas miliknya justru menghantamnya. Ibarat kata pepatah senjata makan tuan, ia terluka karena ulahnya sendiri.
Manda menatap Seo Jun yang masih terpejam, matanya mulai memincing dan ia mendekatkan wajah untuk mendengar apa yang tengah pria itu gumamkan. Ia mengernyitkan dahi saking tidak paham bahasa yang terlontar
dari mulut Oppa itu.
“Kayak lagi ngigau. Dasar! Dia pasti punya kebiasaan tidur yang buruk.” Manda menjelma jadi komentator, padahal ia sendiri tidak sadar bahwa iapun punya kebiasaan buruk yang suka mendengkur saat tidur.
“Ng jam berapa sekarang?” Manda meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur, ia menghidupkan layar demi memantau waktu. Matanya seketika terbelalak saat tahu fakta bahwa kini bukan lagi pagi, namun siang.
“Udah jam sebelas? Ini tidur ala manusia apa kucing? Ya ampun, jam segini sih udah lewatin sarapan gratis.” Manda menggaruk kepalanya saking gemas, ia melewatkan peluang makan enak di hotel ini. Yang disesalkannya,mengapa Seo Jun juga sangat betah tidur sampai sekarang? Andai pria itu terjaga lebih awal, mereka tentu sudah bersantap lezat di restoran hotel ini.
Manda menoleh pada Seo Jun, tak akan ia biarkan pria it uterus bergulat dengan ranjang. “Ssstt … Wake up!” Seru Manda. Beberapa kali ia mengulang dengan suara yang terkontrol tetapi Seo Jun tetap saja mengigau. Manda tak sabaran lagi, ia bukan tipe gadis lemah lembut nan feminim yang bisa membangunkan seorang pria dengan belaian kasih sayang.
__ADS_1
“Woi bangun!” Teriak Manda dengan kencang sembari mengguncang lengan Seo Jun. Seketika itu pula, ia terkejut setelah menyentuh bagian tubuh pria itu dan terasa cukup menyengat. Manda memperjelas firasatnya,
ia meraba kening Seo Jun.
“Huft, panas banget. Kamu kira kamu *Aqua* Man yang bisa tidur di dalam air tanpa sakit, sekarang beneran demam, trus aku harus gimana?” Manda berdiri kemudian berlari kea rah Seo Jun, ia masih tak berniat menyingkirkan pembatas yang dibuatnya di atas ranjang. Matanya gelisah menatap Seo Jun yang terbaring tak berdaya, dari hasil perabaan dahi yang panasnya mungkin sudah bisa mematangkan sebuah telur, Manda yakin demam pria itu cukup
tinggi. Sesaat ia berpikir apa yang harus dilakukan sebagai pertolongan pertama, dan benar saja Manda bergegas menuju ruang yang menyediakan kitchen set dalam kamar itu.
“Habis ini dia harus bayar aku mahal, untuk ongkos jadi perawat dadakan.” Kesal Manda, tentu saja ia tak serius dengan ucapannya. Hanya saja saking cemas, ia merasa lebih lega dengan melontarkan apapun yang mencuat
dalam benaknya.
wajah yang begitu tampan. Manda bergegas menggelengkan kepala, ia harus kembali fokus. Harus ia akui sempat terpana dengan ketampanan pria asing itu.
Perut keroncongannya mulai menagih jatah preman, Manda memegangi perutnya sembari menahan diri untuk sabar sebentar. Sepertinya ia tak bisa terus berada dalam kamar, ia perlu keluar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan serta obat. Gadis itu menghela napas sembari membuang muka dari hadapan Seo Jun. Tas ransel yang digeletakkan di lantai itupun diangkatnya, ia perlu bersalin baju sebelum keluar dari sini.
Manda mengelus dada, ia baru sadar stok pakaian bersihnya tinggal satu setel. Selama berhari-hari di luaran, tidak mungkin ia sempat mencari tempat untuk cuci baju atau sekedar mengirimnya ke tempat laundry. Ia terlalu pelit untuk mengeluarkan uang demi hal itu, ketika belum bertemu Seo Jun.
“Habis ini harus cuci baju!” Ujar Manda penuh tekad seraya berlari ke kamar mandi.
***
__ADS_1
Seo Jun masih belum bangun saat Manda kembali, keadaannya membuat Manda kian gusar. Apa separah itukah? Apa tidak perlu membawanya ke rumah sakit saja? Semua pertanyaan itu hanya ditahannya, percuma bertanya pada orang yang masih tertidur. Manda menenteng dua bungkus nasi padang, dari mini market terdekat akhirnya ia bisa membeli obat penurun demam yang diharapkannya manjur sekali minum.
Manda tergesa-gesa ke ruang dapur, ia lupa sudah memasak air dan meninggalkannya cukup lama. Meskipun akan mati otomatis ketika mendidih, namun air itu tentu mulai dingin lagi dan harus kembali dimasak. Sungguh usaha yang sia-sia, ia tetap harus kerja dua kali.
“Bangun, kamu harus makan sedikit dan minum obat.” Berbekal ponsel, Manda terus menggugah Seo Jun hingga tersadar. Mata pria itu masih menyipit, namun ia mendengar jelas perintah Manda dan menurutinya. Tubuhnya yang
telanjang dada disandarkan agar bisa duduk, wajah Seo Jun mengerut saat melihat berbagai barang bawaan mereka disusun satu baris di sampingnya.
Manda tersenyum geli melhat reaksi Seo jun dan tidak berniat memberi penjelasan. Ia justru berniat untuk menceramahi pria itu sekarang. “Makanya jangan sok tidur di bak mandi, kamu masih berniat nggak pakai baju atau perlu aku ambilkan baju?” Tanya Manda yang terdengar nyinyir.
Seo Jun dengan lemah menunjuk lemari yang menggantung kemejanya. Manda meringis mendapati kode semacam itu, “Kamu mau pakai baju kemarin? Tidakkah kamu merasa itu cukup kotor dan bau setelah dipakai seharian? Ambil saja baju bersih di kopermu!”
Manda mendekatkan koper pria itu agar mudah dijangkau, tanpa banyak protes Seo Jun membuka kunci koper dan sembarang menarik baju untuk dikenakan. Manda memandangnya sembari berdiri di samping, ia tak tertarik mengawasi Seo Jun memakai baju dan memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan. Tak lama kemudian, Manda kembali dengan sepiring nasi bungkus dan segelas air. Ia mengutamakan jatah pria itu dulu dan mengesampingkan rasa laparnya.
“Makanlah sedikit, jangan minum obat dengan perut kosong.” Ujar Manda setelah meletakkan piring dan gelas di meja samping Seo Jun.
Pria itu melirik tanpa selera, ia cukup asing dengan menu makanan yang disuguhkan itu. Manda melengos, ia salah tafsir dan mengira Seo Jun tak punya tenaga untuk makan sendiri. Piring itu kembali ke tangan Manda, ia menyendokkan sedikit nasi kemudian mengarahkan pada Seo Jun. Oppa itu cukup terkejut dibuatnya, ia tak mengira Manda segitu memperhatikannya.
“Open your mouth, please!” Manda geram, tangannya mulai kaku menunggu pria itu buka mulut. Hingga perintah itu ia lontarkan, Seo Jun tetap bergeming menatapnya, seakan hanya dengan tatapan bisa membuatnya kenyang.
***
__ADS_1