Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 8 MENCURI KESEMPATAN MENDEKATIMU


__ADS_3

Hati Devi mulai plong setelah jejak Seo Jun mulai terlacak, setidaknya pria itu dalam kondisi baik meskipun masih berstatus orang hilang. Devi menghubungi Moon untuk menyampaikan kabar baik sebagai bentuk pertanggung-jawabannya.


“Jadi oppaku sudah ditemukan?” Moon lebih dulu menodong kepastian dari Devi.


Devi tersenyum bisu sejenak hingga ia menyadari senyuman itu tak akan terlihat oleh lawan bicaranya. “Aku udah berhasil melacak keberadaannya tadi, hapenya rusak dan ia akan kembali dua hari lagi mengambil hape itu. Aku udah bilang ke pemilik konter untuk hubungi aku sebelum Seo Jun datang.” Ujar Devi tenang dan bangga.


“Lalu selama dua hari menunggu, dia di mana? Gimana kalau terjadi sesuatu sama dia sebelum datang mengambil ponselnya?” Moon menyadarkan Devi bahwa apa yang ia lakukan sekarang terdengar sia-sia.


Semangat Devi menciut, ia sudah menggelontorkan uang pribadi demi melacak jejaknya, namun saking semangat mendapatkan informasi keberadaan Seo Jun langsung membuatnya kehilangan akal sehat. Moon benar, apa


yang akan terjadi pada Seo Jun sekarang? Andai ia bersama orang jahat dan tidak selamat, ia mungkin tidak akan bisa datang mengambil ponselnya lagi.


“Iya, ya … Maaf aku nggak kepikiran sampai ke situ. Ya ampun, dia lagi ngapain sama siapa? Ntar malam tidur di mana?” Devi ikutan galau dan bertanya seperti itu pada Moon yang jelas mengandalkannya.


“Kok malah tanya ke aku, padahal ini tanggung jawabmu loh. Kalau terjadi sesuatu pada sepupuku, aku akan menuntutmu secara hukum atas kelalaian kerja. Sekarang aku akan laporkan ke kantormu, kalian harus punya tanggung jawab!” Kecam Moon. Ia enggan menerima resiko kehilangan sepupunya, satu-satunya pewaris perusahaan nomor 1 di Korea.


Devi ketakutan, ancaman Moon bernada serius. Jika gadis itu melaporkannya, bukan hanya dipecat ia pasti akan berurusan dengan hukum. “Moon, plis jangan lakukan itu. sekarang aku cari dia lagi apapun caranya, beri aku


waktu. Akan kutemukan dia dan selesaikan misiku jadi guidenya.”


Mendengar ibaan dari Devi membuat Moon tak tega, sekali ia mengambil tindakan maka konsekuensi yang diterima gadis itu adalah kehilangan pekerjaan. Moon masih punya hati untuk memberi kesempatan pada Devi. “Oke, tapi sekarang apa yang akan kau lakukan untuk mencari dia?”


Dimintai kepastian seperti itu jelas menyulitkan Devi memberi jawaban, ia belum punya rencana jelas untuk mencari Seo Jun. “Ng, Moon … Dia ada cerita nggak tujuannya ingin kemana kalau ke Jakarta? Yang aku tahu dalam jadwal dia hanya keliling kota untuk hari pertama dan kembali ke hotel.” Mata Devi terbelalak besar, sepertinya ia tahu di mana tempat mencari pria itu.

__ADS_1


“Ah, lebih baik aku ke hotel dulu. Siapa tahu dia udah check in.” Timpal Devi tanpa menunggu respon Moon.


“Kau yakin dia di sana? Aku takutnya dia malah lupa nginap di hotel mana, aku hanya memberitahunya sekilas dan mengirimkan kode bookingnya via email. Sekarang ponselnya rusak, gimana dia bisa check in kalau nggak hapal kode book?” Seru Moon sembari memijit dahinya. Seharian ia gagal fokus bekerja lantaran memikirkan Seo Jun.


Devi menghela napas panjang, jawaban Moon memang masuk akal. “Ya, siapa yang tahu kalau nggak dicoba dulu. Aku tetap ke hotel dulu, pastikan ke resepsionisnya kalau ada yang check in atas nama dia agar bisa hubungi aku.” Seru Devi, ia punya firasat bahwa pria itu pasti akan kembali ke hotel. Seo Jun tidak sendirian, pasti ada seseorang yang membantunya.


***


“Mbak, tujuannya udah sampai. Kalian mau turun di dalam atau  di sini aja?” Manda memelankan laju mobil sembari menunggu kesepakatan. Ia bisa saja menurunkan penumpangnya di samping pintu masuk namun demi pelayanan terbaik untuk orderan pertama ini sebaiknya ia selesaikan tanpa meninggalkan kesan buruk. Apalagi Sofie bisa memberinya rating jelek karena sentimen pribadi.


“Dia bilang apa?” Seo Jun langsung bertanya pada Sofie, ia ingin tahu apa yang disampaikan drivernya.


Sofie dengan wajah tak senang terpaksa menjawab Seo Jun disertai lirikan mata ke Manda. “Dia tanya mau turun di sini atau diantar masuk ke dalam.”


“Hei, apa nggak terlalu berlebihan? Dia itu supir, kalau kamu nyita waktu dia gimana dia bisa narik penumpang lain? Ntar diskor dari perusahaannya emang kamu mau tanggung jawab?” Sofie menyuarakan keberatannya, apapun akan ia lakukan demi menjadi satu-satunya gadis di samping Seo Jun.


“Aku bakal bayar dia atau perusahaannya, anggap saja sewa sebagai supir pribadi selama aku di sini. Bilang gitu ke dia!” seru Seo Jun tak peduli alasan apapun dari Sofie.


Sofie menganga lebar, ia tak percaya niat Seo Jun yang seolah sudah terhipnotis oleh gadis supir itu. Ia sangat keberatan menyampaikan pesan itu ke Manda namun sorot tajam Seo Jun terus meliriknya.


“Mmm, turun di dalam aja.” Ujar Sofie dengan tatapan lurus ke depan, ia enggan melihat Seo Jun ataupun berkontak mata dengan Manda.


Manda mendengar instruksi Sofie dan mengantar mereka ke parkiran hingga akhirnya mobil berhenti dan ia memencet perjalanan selesai dari aplikasinya. “Udah Mbak.” Manda menoleh ke belakang melaporkan hasil kerja yang akhirnya kelar, tentu yang ia harapkan adalah pembayaran dan segera berburu penumpang selanjutnya.

__ADS_1


Sofie mengumpulkan uang yang tersisa dalam tasnya beserta receh-recehnya, harga dirinya masih tinggi untuk menengadahkan tangan pada Seo Jun lagi. Setidaknya ia ingin menunjukkan bahwa ia masih sanggup membayar ongkos taksi.


“Nih, ambil aja lebihnya.” Seru Sofie, padahal kelebihan dari tarif yang ia bayarkan hanya 2000 rupiah. Ia bergegas meraih koper Seo Jun yang diletakkan di samping tempat duduknya dan bersiap membuka pintu.


Seo Jun heran melihat Sofie yang tergesa-gesa turun namun gadis supir itu sudah menerima pembayaran dan duduk tenang saja. “Loh? Bukannya aku bilangin suruh dia ikut kita? Kok malah kamu yang sibuk mau turun sedangkan dia santai duduk seperti menunggu kita pergi?”


“Dia nolak tawaranmu, jadi buat apa nungguin dia. Buruan turun, keburu tutup ntar.” Sofie asal mengarang cerita, intinya ia terlalu percaya diri bahwa Seo Jun akan mempercayainya begitu saja.


Melihat gelagat aneh Sofie yang seenaknya, Seo Jun tetap duduk diam membiarkan Sofie turun. Ketika gadis itu berada di luar mobil, Seo Jun langsung mengunci mobil secara manual.


“Lock the door, Please.” Seru Seo Jun meminta Manda segera mengunci semua pintu mobil.


Sofie baru sadar Seo Jun masih tertinggal di dalam mobil kemudian hendak menyusul masuk. Wajah kesalnya bertambah kesal saat tahu mobil sengaja terkunci dari dalam, ia menggedor kaca sambil berteriak.


Manda bingung dengan dua penumpangnya yang bersikap aneh, mereka bertengkar tetapi harus melibatkannya. Ia tak kehilangan akal untuk berkomunikasi, dikeluarkannya ponsel untuk mengetik google translate dan mendengarkannya pada Seo Jun.


“Kenapa kamu tidak turun?” ujar Mbak google dari ponsel Manda.


Seo Jun tersenyum geli, gadis ini punya akal mengatasi masalah komunikasi di antara mereka.


“Aku ingin kamu ikut bersamaku, jadi supir pribadiku ya!” pinta Seo Jun dengan optimis, matanya beradu pandang dengan Manda tanpa berkedip. Membiarkan Sofie yang masih berteriak di luar tanpa sebuah harapan.


***

__ADS_1


__ADS_2