
Manda setengah berlari ketika keluar dari lift, ia menyangking handuk dan baju gantinya menuju toilet umum di lantai dasar. Ia sempat melirik ke bagian resepsionis yang kebetulan tengah kosong, malam memang cukup
larut dan semua tamu tentu sudah beristirahat di kamar. Manda tersenyum lebar saat mendapati ruangan bertuliskan ‘Toilet’ di muka pintu. Ia mempercepat langkah dan masuk ke dalam.
Rasa senangnya hanya bertahan beberapa saat, ia belum percaya dengan prediksinya yang melesat. Satu persatu toilet yang dalam keadaan kosong itu ia periksa. Ingin rasanya berteriak, namun Manda menyimpan kekesalannya dalam hati saja.
“Gimana bisa mandi kalau kayak gini?” Manda mendengus kesal, di dalam toilet tidak ada keran air yang bisa digunakan untuk mandi. Jangankan untuk mandi, cuci muka pun tidak bisa. Ia menyesali kebodohannya yang mengira akan menemukan selang air atau bak mandi, atau keran shower di toilet umum hotel bintang lima. Fasilitas umum di sana serba modern dan memang hanya difungsikan untuk kepentingan pribadi selain mandi.
Manda beringsut masuk ke dalam, ia sudah terlanjur membawa pakaian ganti untuk tidur. Dengan sangat terpaksa, ia harus berpuas diri dengan membersihkan wajah dan gosok gigi dari wastafel depan kemudian segera ganti baju dan kembali tidur. Membayangkan bisa rebahan dengan leluasa di ranjang ukuran jumbo itu cukup menghibur Manda. Setidaknya masih ada yang berhasil ia menangkan malam ini.
***
Seo Jun masih tertidur dengan posisi yang sama semenjak Manda menemukannya. Entah saking lelah atau memang ia punya keahlian bisa tidur di mana saja, sehingga betah tidur dalam bak berendam gelembung
sabun. Manda menutup rapat pintu kamar mandi itu dengan pelan, takut menggugah pria itu hingga terbangun. Ia tidak perlu susah payah berdebat soal tempat tidur, tanpa perlu menyingkirkan pria itu pula. Dengan sendirinya pria itu mengorbankan dirinya tidur di dalam kamar mandi.
“Huft, betapa empuknya!” Manda mengentak-entakkan kakinya, persis anak kecil. Bed cover yang begitu lembut, ranjang yang sangat empuk dan luas secara otomatis menjanjikan kualitas tidurnya maksimal.
__ADS_1
“Lupakan penat, lupakan sedih, pokoknya tidur pulas sekarang!” Manda memotivasi diri sendiri. Sebelumnya ia tersenyum begitu lebar, bersyukur bisa menikmati kenyamanan hidup barang sesaat – itupun menumpang milik orang, namun hatinya kembali mendung ketika teringat ayahnya yang tengah di penjara.
“Bersabarlah, ayah! Doakan aku segera mendapatkan uang banyak, aku pasti menyewakan pengacara untuk membebaskanmu.” Lirih Manda,di tengah kenikmatan yang sedang ia rasakan, membuatnya merasa tidak tega
kepada ayahnya yang pasti tidur kedinginan atau kepanasan di dalam bui.
Dari pengalaman hidup yang ia jalankan sekarang, Manda akhirnya sadar bahwa selama ini ia dikelilingi orang-orang berwajah topeng, sahabat palsu, yang mengelilinginya saat ia berada di atas puncak dan memiliki semuanya. Setelah semua kekuasaan hilang dari tangannya, bahkan keluarganya pun tidak menganggapnya ada. Benar kata orang, ada uang pasti disayang, tak ada uang pasti dilupakan. Begitu punya uang, semua mengaku saudara namun ketika uang hilang, saudarapun tidak bersedia mengakui.
Godaan dari ranjang yang begitu nyaman rupanya belum membuat kantuknya menjelma tidur. Manda memandang sekilas ke arah kamar mandi, hatinya mulai gusar memikirkan Seo Jun yang bermalam di sana. Apa sebaiknya ia
bangunkan agar pria itu pindah? Hati nurani Manda terguncang, ia tidak tega membiarkan pria yang sudah membayar mahal kamar ini justru tidur di tempat yang tak terduga. Tapi ngeri juga jika ia terbangun lalu berdiri kaget, pria itu sepertinya berendam tanpa sehelai benang di tubuhnya.
Ia mulai berguling ke kiri dan kanan tanpa kejelasan, semua itu karena ia bosan. Menonton film dari saluran televisi juga bukan opsi yang menarik. Manda menerawang ke langit-langit kamar, semenit kemudian ia tersenyum lebar sembari menjentikkan jari, dengan lincah ia bangun dan meraih ponselnya. Seharian penuh ia disibukkan menjadi supir, plus ponselnya beralih fungsi sebagai translator yang dipakai patungan bersama Seo Jun. Ia menyayangkan mengapa baru terpikir sekarang untuk menjelajah dunia maya lewat akun sosial medianya sejak tadi? Selagi ponselnya kembali normal, tidak oper-operan dengan Oppa itu.
Manda tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya, jarinya memulai memainkan layar sentuh ponselnya demi memantau status para sahabatnya. “Eh?” Manda mengedipkan mata beberapa kali, ada yang janggal dengan status Bella, sahabat karibnya. Manda takut salah melihat lantaran ngantuk, namun beberapa kali dipastikan ia yakin bahwa Bella sudah unfollow akun sosial medianya. Entah sejak kapan, Manda pun tak tahu pasti lantaran ia beberapa hari ini terlalu sibuk bertahan hidup dengan cara apapun ketimbang kepoin sahabatnya yang susah
dihubungi.
__ADS_1
Manda tak menampik bahwa ia sangat kecewa, bahkan tersakiti mendapati kenyataan itu. Hubungannya dengan Bella sudah seperti saudara saking akrabnya, ia adalah teman semasa di bangku seragam putih abu-abu. Mereka masih baik-baik saja dan kerap berjumpa di akhir pekan, namun mengapa sangat kebetulan ketika Manda terpuruk, sahabatnya ikutan memutus persahabatan secara tidak langsung.
Tidak berhenti dengan kepoin Bella, gadis itu terpikir satu nama yang juga masih punya arti penting di hatinya. Dialah sang mantan yang baru satu minggu mendepaknya dari status kekasih. Manda mengetik nama pria itu di kolom pencarian pertemanan, proses itu tidak memakan waktu lama namun kembali menyesakkan dada. Pria bernama Jovas itu ternyata lebih inisiatif menghapus pertemanan dengan Manda, bahkan ia sudah berani memamerkan foto mesra dengan seorang gadis cantik. Hanya dalam satu minggu saja, Jovas yang sudah pacaran dengan Manda sejak SMA bisa move on secepat itu. Dengan entengnya pamer kemesraan, mentang-mentang ia sudah unfollow akun Manda lalu bisa pamer dengan leluasa?
Manda menyadari tetesan bening dari matanya tak lagi mampu ia bendung. Dibiarkannya mengalir apa adanya, tidak ada yang salah dengan air mata, menangis bukan berarti ia lemah.
“Pergi saja kalian yang palsu, suatu saat nanti pasti aku temukan cinta sejati, sahabat sejati!” Gumam Manda lirih, terlalu banyak kepedihan dalam sepekan ini. Ia tidak boleh patah semangat, tidak boleh membiarkan siapapun mengusik kebahagiaannya.
Ponsel itu ditutupnya dengan bantal, Manda berharap kepedihan itu segera terkubur dan tak mencemari hatinya lagi keesokan hari. Ia akan terbangun dengan hati yang lebih lapang dan tegar, seiring dengan harapan itu, ia segera memejamkan mata dan mencoba tidur dengan mata basah. “Ini terakhir kalinya aku menangisimu, seperti kamu melupakanku dengan cepat, akupun bisa segera move on. Biarlah ku sendiri, asalkan bahagia.”
Manda tertidur, seiiring harapannya akan esok yang lebih cerah.
***
Kesadaran Manda belum sepenuhnya terkendali lantaran kantuk yang masih sangat berat. Kualitas tidurnya cukup baik, sebelum ia merasakan sebuah beban berat menidih kakinya. Ia bahkan tidak bisa menyeret kaki gara-gara tumpukan berat itu.
“Ng?” Manda memaksakan matanya terbuka meski hanya setengah centi. Samar-samar ia melihat objek berat yang menumpuk di atas kakinya. Manda mengerjap, pekiknya langsung keluar tanpa terkontrol, menyusul kesadarannya yang kembali penuh saking kagetnya.
__ADS_1
“Aarrgghh! Enyah dariku!”
***