
Moon duduk melamun selepas pembicaraannya dengan Seo Jun berakhir. Ia tak habis pikir mengapa sepupunya itu bersikukuh tetap ingin bertahan di tempat yang baru didatanginya. Bukan tanpa alasan Moon memintanya lekas pulang, lantaran ia tahu Seo Jun terkungkung trauma yang belum pulih dari hidupnya. Betapa Moon mencemaskannya dan berharap Oppa itu cepat kembali, namun Seo Jun justru menjawabnya ingin terus berada di sana menyelesaikan liburannya.
“Kenapa harus di Indonesia? Kamu bisa pindah negara lain jika hanya sekedar liburan, mungkin kamu mau ke Singapura yang dekat dari sana? Aku aturkan keberangkatanmu hari ini jika kamu mau, oppa.” Begitulah yang
Moon tawarkan pada Seo Jun saat itu.
“Moon, aku masih ingin di sini. Tidak ada alasan mengapa aku memilih tempat ini. Jangan cemaskan aku, jika sudah bosan aku pasti pulang.” Tolak Seo Jun dengan alasan mutlaknya.
Moon menepis kenangan tak menyenangkan itu, ia menghela napas berat. Entah sampai kapan ia harus menjadi orang sabar, tepatnya memaksakan diri untuk bersikap manis pada Seo Jun selayaknya seorang adik sepupu kepada kakaknya. Dalam waktu bersamaan itu, rasa kesal menggerogoti perasaan Moon. Ia tak pernah puas dan tak akan pernah menerima bahwa dirinya hanya dianggap sepupu oleh Seo Jun.
“Aku bukan adikmu!” Pekik Moon kesal, ia meremas secarik kertas di hadapannya lalu membuangnya dengan sekuat tenaga.
Sebuah status yang tak akan diterima Moon sampai kapanpun, ia bersikap manis pada Seo Jun setulusnya bukan karena perhatian selayaknya saudara, namun ada cinta yang sungguh besar ia rasakan pada oppa tampan itu. Cinta yang membuatnya amat egois dan enggan membiarkan siapapun mendekati Seo Jun. Moon cukup beruntung lantaran sikap dingin dan cuek Seo Jun terhadap waanita, membuatnya tak perlu repot menyingkirkan wanita yang
berpotensi besar sebagai saingannya. Seo Jun sendiri yang akan menepis mereka dengan sikap acuhnya. Namun sekarang ada kenyataan yang kontras dan membuat Moon tak habis pikir. Baru beberapa hari pria itu pergi, Moon merasa Seo Jun seperti orang asing, orang yang tak begitu dikenalnya lagi.
Kemana sikap cuek dan arogan Seo Jun terhadap wanita? Mengapa ia membiarkan seorang wanita mengikatnya tanpa ia sadari? Atau mungkin Seo Jun justru dengan sadar ingin terikat pada wanita itu? Apakah akhirnya si
gunung es itu meleleh dan jatuh cinta? Seo Jun tak pernah tahu betapa terobsesinya Moon ingin menjadi lebih dari sekedar sepupu di matanya.
“Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan!” Moon menggelengkan kepala, tatapannya begitu tajam menyoroti sebuah foto yang barusan masuk dikirimkan oleh Devi. Foto wanita yang kini mengusik pria miliknya. Ia memincingkan mata melihat foto itu, dua jarinya pun ikut andil memperbesar foto itu hingga ukuran maksimal pada layar. Dan betapa kesalnya Moon melihat itu, amarahnya semakin membuncah, bukan pada wanita yang jadi objek foto candid namun pada si pemotret.
__ADS_1
“Devi… Kenapa fotonya hanya sebelah wajah?” Kesal Manda yang tak berhasil melihat seberapa istimewanya wanita bernama Manda itu lantaran difoto dari jauh dan wajah yang separuh tertutup objek lain.
***
Manda masih terisak melihat ayahnya yang masih terpejam, entah tidur atau tidak sadarkan diri. “Ayah, bangunlah! Manda datang menjenguk ayah, waktunya tinggal bentar lagi. Kumohon ayah buka mata, lihat Manda di sini.” Pinta Manda yang sangat mengkhawatirkan ayahnya.
Bak doa yang terkabul, Antonio Salim – papa Manda perlahan membuka mata. Kesadarannya belum penuh namun orang pertama yang ia lihat adalah orang yang teramat dirindukan. Antonio menggerakkan jemarinya dan
kesadarannya pun tak luput dari pantauan Manda.
“Ayah bangun! Maksih Tuhan, doaku terkabul.” Ujar Manda girang seraya menghapus jejak basah yang menggenangi kelopak matanya.
“Manda …” Dengan suara terbata, Antonio memanggil nama putrinya dan berusaha berkontak fisik. Jemarinya terus bergerak yang langsung diraih oleh Manda untuk digenggam.
Antonio menatap Manda dengan teduh, “Maafkan ayah, kamu jadi susah ….” Lirih Antonio, ia belum punya banyak tenaga untuk mengeluarkan suara.
Manda menggeleng cepat, “Tidak ayah, tidak perlu minta maaf. Aku yakin ayah tidak bersalah, Manda janji akan menolong ayah keluar dari penjara. Manda akan sewa pengacara handal dan buktikan ayah tidak bersalah.” Ujar Manda penuh tekad.
Tatapan sendu Antonio tampak memprihatinkan, “Ayah tak mau membebanimu, Manda. Sekarang kamu tinggal di mana? Bagaimana nasibmu? Maafkan ayah sudah membuat hidupmu susah.” Lirih Antonio.
“Manda nggak merasa terbebani, ayah jangan cemas ya. Manda baik-baik saja, sekarang Manda bekerja dan punya bos yang baik.” Ujar Manda yang berniat memperkenalkan pria yang ikut dengannya. Saat membahas bosnya itulah, Manda baru menyadari ada yang kurang lengkap. Bergegas ia celingukan dan menatap ke sudut ruang dekat pintu, mencoba mencari sosok Seo Jun di sana namun nihil.
__ADS_1
“Eh?” Gumam Manda bingung sendiri. Jelas-jelas ia datang bersama Seo Jun dan pria itu mengikutinya masuk rumah sakit, tapi kenapa tidak ada dia sekarang?
“Syukurlah masih ada jalan untukmu. Kamu kerja apa Manda?” Tanya Antonio yang mulai tenang mendengar nasib putrinya tak seburuk yang ia khawatirkan. Namun ia tidak menyadari bahwa Manda sedang dilanda rasa gundah dan pikirannya tidak berada di tempat ini.
Apa aku berlari terlalu cepat hingga ia tidak bisa mengejarku? Batin Manda yang tak bisa berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang menimpa Seo Jun. Apa jadinya kalau Manda tak sengaja membuat bosnya nyasar di
rumah sakit? Pria itu adalah orang asing yang tak mengenal siapapun di sini selain Manda.
***
Devi tak betah lagi hanya duduk diam sebagai penonton dalam mobil. Seo Jun masih saja berjongkok seperti orang yang tengah bersembunyi, tingkahnya itu kian memancing rasa penasaran Devi. Gadis itupun memutuskan untuk menghampiri Seo Jun, tak peduli bahwa itu melanggar kode etiknya sebagai mata-mata utusan Moon.
“Hei Oppa, apa yang kau lakukan? Kau sedang main petak umpat?” Tanya Devi yang berdiri di belakang Seo Jun.
Seo Jun perlu menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara dengan bahasa Korea, meskipun sepertinya ia bisa menebak siapa pelakunya hanya dari suara tetapi ia perlu memastikan langsung pula.
Benar saja, Devi berdiri menatapnya dengan sorot heran. Seo Jun bergegas berdiri dan menyoroti gadis itu dengan tatapan yang tak kalah heran. “Kenapa kamu di sini? Kamu mengikutiku sejauh ini?” Selidik Seo Jun sambil berdecak.
Devi bergidik, suara Seo Jun menggetarkan hatinya yang dirundung rasa bersalah. Secepat itukah ia ketahuan menjadi paparazzi?
***
__ADS_1
Hi Guys, kamu suka cerita ini? Ke depannya author akan update rutin setiap hari. Mohon dukungannya dengan memberikan vote, like, serta komentar ya. Satu komen dan like kalian sangat berarti dan mendukung karya ini agar semakin popular. Terima kasih ^^