Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 32 MULAI CEMBURU?


__ADS_3

Dan di sinilah mereka berakhir, di sebuah warung tenda kaki lima yang berlatarkan pemandangan jalanan ibukota menjelang magrib. Manda senyam senyum menatap Seo Jun yang duduk di hadapannya, menggoyangkan kedua


kakinya saking tak sabar menanti pesanan mereka diantarkan. Si Oppa belum tahu persis makanan yang akan disantapnya nanti, ia percaya sepenuhnya pada Manda yang membawanya kemari.


“Pokoknya enak, aku jamin deh!” Itu kata Manda jelakan ketika Seo Jun meminta bocoran sedikit informasi tentang menu makan mereka. Bisa dibilang ini makan siang mereka, gara-gara bangun kesiangan dan sempat tak enak badan, dua manusia beda bahasa itu terpaksa menggabung jatah sarapan dan makan siang dengan menu nasi Padang.


“Es jeruknya non. Ini jeruk hangatnya juga.” Mas pelayan mengantarkan minuman yang lebih cepat siap. Manda mengangguk dan mengucapkan terima kasih, di saat itupula Seo Jun memperhatikan interaksi gadis itu. Ia menghapal kosa kata yang diyakininya sebagai ungkapan terima kasih.


Manda menyodorkan jeruk hangat pesanan Seo Jun tepat di depannya. Si Oppa mengangguk sambil tersenyum lalu menirukan apa yang diucapkan Manda barusan kepada pelayan.


“Terima kasih.” Ujar Seo Jun dengan senyuman yang menambah poin plus ketampanannya. Meskipun ucapan terima kasih itu terdengar aneh dengan logat ala-ala Korea, tetapi sukses membuat Manda terpukau. Gadis itu lupa berkedip saking ternganga mendengar Seo Jun mengucapkan kata itu.


Seo Jun terkekeh, ia meraih ponsel Manda yang diletakkan di tengah meja supaya mudah mereka raih bergantian. “Salah ya ngomongnya?”


Manda dengan cepat menepisnya, ia menggelengkan kepalanya lalu meraih ponsel. “Nggak, itu benar kok. Aku hanya kaget kamu bisa ngomong gitu.” Gadis itu terbawa suasana, ia pun turut tertawa kecil bersama Seo Jun.


Suasana di kaki lima remang-remang itu terasa hangat, setidaknya bagi dua orang di sana. Tanpa mereka sadari, mereka mulai nyaman dengan kebersamaan ini. Hingga dua porsi makanan yang mereka pesan akhirnya


diantarkan, barulah tatapan keduanya beralih pada piring di meja.


Dari aromanya saja, Seo Jun bisa menebak bahwa makanan itu pasti enak. Tampilannya pun cukup menggiurkan meskipun ia belum tahu nama makanan itu dan isinya apa.


Manda melirik Seo Jun yang takjub pada makanan itu, “Ini namanya sate. Makanan kesukaan orang sini.”


“What?” Seo Jun ingin Manda mengulang apa yang dikatakan tadi.

__ADS_1


Manda menatapnya sekilas lalu terpaksa mengulang lagi, “Sate. Sa … Te!”


Seo Jun tersenyum melihat mulut Manda yang terbuka sedikit lebar saat menyebut nama makanan itu. Si Oppa manggut-manggut, ia hanya ingin belajar. Kalau kata pepatah, sambil nyelam minum air. Nah kalau si Oppa


namanya sambil jajan bisa sambil belajar.


Manda sudah mulai makan, ekspresinya sengaja dilebaykan untuk menggoda Seo Jun agar tergiur segera makan. Sejak tadi pria itu terpesona dan fokus menatap satenya tanpa berniat mulai makan. Seo Jun mengambil satu tusuk satenya lalu melahapnya, seketika itupula matanya terbelalak dan senyumnya merekah. Ia mengacungkan jempol sebagai perwakilan hatinya yang mengomentari rasa makanan itu.


“Daebak!” Seru Seo Jun lalu mulai mengambil tusukan kedua.


Semula Manda mengernyit mendengar kata itu, meskipun tidak pandai bahasa asli si Oppa, namun Manda tidak asing dengan istilah itu. Ia pernah mendengarnya dalam serial drama Korea, beberapa pemainnya menyerukan


kata itu ketika senang. Jadi Manda menyimpulkan sepihak bahwa Seo Jun senang memakan sate itu.


“Enak.” Ujar Manda yang tak mau kalah pada Seo Jun. Ia tertawa saat ekspresi Seo Jun kebingungan menatapnya.


pria itu tergoda mencoba lontongnya yang masih utuh.


Seo Jun mengikuti langkah Manda, mengaduk rata lontong dalam piring kemudian menusuknya dengan bekas tusukan sate. Setelah mencicipinya, ia sependapat bahwa makanan itu luar biasa enak, sesuai seleranya.


“Oya, di negaraku ada makanan yang sejenis ini. Namanya Dak-kkochi, itu juga pakai potongan daging ayam tapi bedanya ada sayuran yang ikut ditusuk dan dipanggang.” Seo Jun bercerita tanpa diminta, ia ingin berbagi


pengetahuan dengan gadis manis di hadapannya.


Manda manggut-manggut, antusias mendengar cerita si Oppa. Ia kemudian mengangkat satu tusuk satenya sebagai kode ajakan agar pria itu kembali makan.

__ADS_1


Seo Jun tersenyum, ia membalas Manda dengan melakukan hal yang sama. “Nanti kalau kamu ke Korea, gantian aku yang akan menemanimu. Aku pasti bawa kamu cobain jajanan di sana, ah … Kamu suka jajanan pinggir jalan kan, di sana juga banyak yang enak.”


Manda terkejut, ia berhenti mengunyah dan menatap pria itu. Jangankan berencana ke luar negri, di saat kondisinya terpuruk begini, bisa bertahan hidup saja sudah bersyukur. Tetapi Seo Jun malah memikirkannya sejauh itu, Manda jelas terharu tak menyangka Seo Jun masih punya niat untuk menjaga komunikasi dengannya setelah pria itu kembali ke negaranya. Satu hal lagi, jajan di pinggir jalan bukanlah kegemaran Manda seperti yang ditudingkan Seo Jun. Ia hanya sedang mengalami keuangat yang sekarat dan tidak berani mengajak pria itu ke tempat yang terlalu mewah. Ya, meskipun pria itu tak keberatan membayarkan tetapi Manda tetap punya rasa sungkan. Dulunya ia terbiasa mentraktir, bukan ditraktir dan ia belum terbiasa dengan makan gratis seperti sekarang. Plus, Seo Jun yang minta dicarikan makanan lokal yang enak, menurut Manda cita rasa lokal sesungguhnya hanya bisa didapat di pinggiran begini, supaya pria itu lebih membumi.


Manda mendehem, “Oya, itu … Waktu kamu masih tidur, aku terpaksa perpanjang sewa kamar satu malam. Tapi, uangku nggak cukup buat bayar, besok kamu bayar ya saat check out.” Manda mengalihkan topik, selagi ia


baru teringat maka segera ia sampaikan pada pria itu.


Seo Jun mengangguk, ia tidak keberatan. “Maaf sudah bikin kamu repot.”


Manda tersenyum manis, ia tidak merasa repot sama sekali. Bisa dibilang, mereka berdua memang saling ketergantungan. Manda perlu kerjaan ini agar segera mengumpulkan uang untuk sewa pengacara, sedangkan Seo


Jun perlu dia untuk menjadi asisten kepercayaannya selama berada di sini. Tapi selama si Oppa di sini, ketika pria itu pulang maka Manda akan kembali berjuang sendiri.


“Apa rencanamu selanjutnya? Besok mau tinggal di mana?” Tanya Manda, ia agak cemas mendengar jawaban yang belum Seo Jun lontarkan.


Seo Jun diam sesaat, ia juga baru sadar belum memikirkan rencana selanjutnya. Waktu yang dilewati bersama Manda terasa singkat dan membuat pikirannya malas memikirkan hal berat, rencana jangka pendek Seo Jun hanya ingin tetap bersama Manda di manapun tak jadi masalah.


Seo Jun mengangkat bahu, “Besok yang pasti kita harus pergi ambil ponselku, setelah itu baru dipikirkan. Ah, aku harus menghubungi Moon besok. Dia pasti sangat khawatir aku menghilang beberapa hari.” Ujar Seo Jun dengan entengnya. Ia baru terpikir punya sepupu yang harus dikabari dan pasti cemas karena ia menghilang tanpa jejak.


Moon? Siapa itu? Sepertinya itu nama perempuan. Manda bertanya dalam benak, semangat yang tadinya membara tiba-tiba drop begitu mendengar nama itu disebut Seo Jun. Betapa bodohnya dia yang sempat gede rasa – GeeR dengan sikap baik Seo Jun padanya. Ia lupa akan fakta bahwa pria setampan, setajir, sebaik itu pasti tak akan jadi jomblo karatan seperti dirinya. Seo Jun dengan segala keistimewaan dalam dirinya itu pasti sudah ada wanita di sisinya. Lalu apalah artinya perasaan nyaman ini? Manda mungkin hanya sedang membiarkan hatinya tersakiti.


Jangan bodoh, Manda! Dia pasti sudah punya kekasih. Moon itu kekasihnya!


Manda tak henti merutuki dirinya, akal sehat dan keegoisannya menolak akal sehatnya terus bertentangan. Kepalanya terasa pusing dan hatinya sesak memikirkan itu.

__ADS_1


***


__ADS_2