Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 15 JANGAN PERMAINKAN AKU!


__ADS_3

Manda memelankan laju mobil ketika melihat sebuah ruko tempat penukaran uang mata asing, tugas pertamanya sebagai supir selesai setelah sampai tujuan. Ia menoleh pada pria yang mulai terlihat pucat gara-gara dikerjain dengan cara menyetir ugal-ugalan. Manda terkikih dalam hati, anggap saja sebagai perkenalan dengan teknik supir


yang baru direkrut itu.


“Bos, kita sudah sampai. Silahkan turun!” Ujar Manda bermanis-manis ria seolah ia memberikan pelayanan yang terbaik bagi bosnya.


Seo Jun merengut, susah payah ia menahan rasa mual lalu ketika mobil berhenti, ia bergegas keluar mobil dan menghirup udara di luar. Perutnya yang dikocok-kocok seperti telur kena mixer itu perlahan mulai enakan. Seo Jun berjalan mendekati pintu masuk ruko, namun ia berhenti melangkah ketika sadar hanya sendirian. Ia berlari kembali ke mobil lalu mendemo Manda dengan mengetuk pintu kacanya.


Manda membuka kaca buru-buru, ia jelas takut mobilnya lecet lagi. Keapesan tadi siang jangan sampai terulang sekian kali. “Ada apa sih bos? Aku kan cuman supir ya nunggu di mobil aja.”


Seo Jun merebut ponsel Manda, geram. “Lalu siapa yang jadi penerjemah? Buruan turun, temanin aku masuk!”


Manda melengos, kenapa ia tidak terpikir sebelumnya kalau pria itu tidak fasih bahasa Indonesia dan pasti perlu mengandalkannya sepanjang mereka bersama. Dan itu tidak termasuk hitungan ongkos jasa, ia hanya dibayar sebagai supir. “Nggak mau! Bawa aja hapeku. Kamu kan cuman bayar aku jadi supir, bukan jadi penerjemah.” Tolak


Manda sok jual mahal.


Seo Jun menghela napas, ia memalingkan wajah sejenak agar moodnya tidak terbawa jelek. Tidak ia sangka gadis yang dikiranya manis dan polos itu sifatnya lama-lama jadi sebelas dua belas dengan Sofie. “Kamu digaji perhari semahal itu, apa masih perhitungan hanya dimintai tolong saja harus dihitung!”

__ADS_1


Manda terdiam disindir seperti itu, ia juga tidak mengerti mengapa sifat rakusnya tiba-tiba muncul. Mentang-mentang pria itu royal menggelontorkan uang besar untuknya lalu ia mulai perhitungan sedikit-sedikit harus diimingi uang. Ia merutuki dirinya yang terlihat seperti gadis matre. Ayolah Manda, biarpun lu lagi kere, plis jangan jadi matre lah. Harga diri lu di kemanain? Cecar Manda dalam hati.


“Okelah ....” Manda menurut dan keluar dari mobil.


Seo Jun tersenyum senang, ada sisi baiknya juga gadis itu tidak perlu berdebat lama ia bersedia menurut.


***


Setengah jam kemudian setelah rupiah sudah di tangan, mereka bergegas kembali ke mobil walaupun si bos belum punya tujuan lain untuk didatangi. Ia menghitung jumlah uang yang akan dibayarkan pada supir cantiknya. Manda tampak antusias, tangannya mulai terasa gatal tak sabar menerima gaji sebesar itu kontan.


“Nih, bayaranmu.” Ujar Seo Jun dalam bahasa Korea, ia tidak peduli Manda mengerti atau tidak yang pasti gadis itu bisa menebak maksudnya adalah terima uang.


Seo Jun melihat tangan Manda yang melambaikan todongan ke arahnya. Sorot mata gadis itu seperti rentenir yang tak puas menerima bayaran yang kurang. Seo Jun meraih ponsel di atas dasbor, ponsel itu seperti telepon kabel jadul saja yang diletakkan di atas dasbor dan diambil siapapun yang memerlukannya. “Itu dipotong biaya ganti rugi karena ngebut, bawa mobil ugal-ugalan sehingga menimbulkan ketidak nyamanan pada penumpang.” Ujar Seo Jun penuh percaya diri dan tanpa rasa bersalah.


“Mana bisa gitu, kamu yang mabok perjalanan kok salahin supir! Itu resiko penumpang lah, sini balikin jatahku.” Desak Manda, ia sebenarnya tahu bahwa ia dengan sengaja menyetir seperti itu untuk ngerjain bosnya. Namun tak ia sangka berdampak pada pemotongan gaji. Sesalah apapun, ia nggak sudi mengaku salah.


“Jelas salah supir, kamu kira nyawa ada cadangannya? Ini buat peringatan lain kali jangan terulang lagi.” Seo Jun mulai tegas, sebagai pendatang wajar jika ia lebih waspada terhadap siapapun. Ia hanya berencana menahan uang yang belum ia bayarkan sebagai jaminan agar tidak dipermainkan gadis itu.

__ADS_1


Manda tidak menyangka keusilannya akan berakibat seperti ini, ia hanya iseng mengerjain pria itu dan harus ikhlasin kehilangan uang empat juta. Air mata dan bulir-bulir kecewa hanya ditelan dalam hati, empat jutaku... Jerit Manda sesengukan dalam batin.


Seo Jun melirik gadis yang terdiam dan sedih itu, tiba-tiba ia merasa tidak tega. Hatinya tergoda untuk menyerahkan sisa uang yang ia tahan, namun ketika ia nyaris menyodorkannya ia berpikir ulang dengan lebih realistis. Lebih baik menggertaknya seperti ini, anggap saja pembalasan atas apa yang gadis itu perbuat tadi.


“Ehem, aku lapar. Cari tempat makan saja, yang enak dan khas masakan lokalan.” Seo Jun menemukan alasan mencaikan suasana tidak nyaman. Lama-lama melihat gadis itu murung juga tidak sehat bagi pikirannya.


Manda menjalankan mobil tanpa sepatah kata, ia lemah pada kenyataan yang telah meraibkan gajinya. Ingin rasanya membalas pria itu, namun ia takut akan berimbas pada gajinya lagi. Alhasil Manda hanya mampu menyimpan kekesalannya seorang diri. Ia menelusuri jalan sambil berpikir makanan apa yang sesuai dengan kriteria yang bosnya ajukan.


Senja merah mulai berwarna gelap, jam macet ibu kota mulai mendekati puncak. Manda harus berjuang melawan riuh lalu lalang lalu lintas saat jam pulang kerja. Ia belum juga menemukan tempat yang cocok untuk membawa bosnya makan.


Seo Jun mulai bosan berkutat dengan arus sepadat ini, hanya untuk urusan perut saja butuh perjuangan ekstra di jalanan. Ditambah kebisingan klakson dari sana sini menambah stress. Manda belum juga bersuara, Seo Jun memerhatikan gadis itu menyetir tanpa semangat. Berbeda saat ia dibawa ke money changer, suasana dalam perjalanan sekarang jauh dari kata menyenangkan. Seo Jun ingin membuka percakapan tetapi rasa gengsinya terlampau tinggi.


“Ehem ....” Hanya suara deheman yang sangat terdengar dipaksakan yang dilontarkan Seo Jun. Hasilnya nihil, suara dibuat-buat itu seolah mantul dari telinga Manda.


“Kamu masih bisa tahan lapar tuan?” Manda meraih ponsel dan bertanya, melihat kondisi kemacetan ia tak yakin bisa mendapatkan tempat makan dalam waktu cepat. Ya meskipun ia juga bingung kemana arah tujuannya.


Suara Manda terdengar menyenangkan, Seo Jun kegirangan mendapati pertanyaan itu. Gadis itu tidak marah lagi, setidaknya itu yang dipikirkan Seo Jun. “Ng, iya lapaar banget. Bisa cepetan gak?” Keluh Seo Jun beracting penuh totalitas sambil memegang perut.

__ADS_1


***


__ADS_2