
“Kalau kamu diam, aku berubah pikiran lagi! Aku akan pergi sekarang!”
Tatapan mata Seo Jun yang kosong, akhirnya mulai berbinar setelah menyadari suara seorang gadis yang ia harapkan terdengar sangat dekat dengannya. Perlahan sepasang mata teduh itu mendongak, menatap wajah gadis manis di hadapannya. “You come back ….” Lirih Oppa dengan senang.
Manda tak kuasa memasang wajah cemberut lagi, kekesalan sebelumnya pada cowok itu lenyap sudah ketika melihat keterpurukannya. Manda mengangguk pelan seraya tersenyum, mengiyakan apa yang dikatakan Seo Jun dengan isyarat itu.
Seo Jun menatap ponsel di tangan Manda, kemudian gadis itu menyodorkan padanya. Ia tahu ada sesuatu yang akan pria itu katakan. “Kamu akan pergi lagi?” Tanyanya sedih.
Manda menggeleng, ia meraih balik ponselnya. “Aku akan menjadi supirmu lagi sampai kamu kembali ke Korea.”
“Gamsahabnida (Terima kasih).” Ucap Seo Jun lirih, tangannya reflek mendekap Manda dalam pelukannya.
Reaksi yang super cepat itu sukses membuat mata terbelalak. Gadis itu bergeming, napasnya tertahan saking kuatnya pelukan Seo Jun. Untuk kali ini saja, dibiarkannya pria itu meluapkan kegembiraannya. Atau mungkin sebenarnya justru Manda ikut menikmati pelukan itu. Seo Jun akhirnya tersadar dan melepas pelukan itu, wajahnya canggung menatap Manda saking takut kalau gadis itu kembali marah.
“Sorry” Ucap Seo Jun pelan dengan wajah penuh penyesalan.
Hening. Manda tak tahu harus berkata dan bersikap apa, ia mematung sejenak.
***
“Kita mau ke mana?” Tanya Manda. Keduanya sudah berada di dalam mobil, dan Seo Jun kembali memakai jaket
yang disodorkan Manda. Pria itu tampil rapi, kaca mata hitam membuat penampilan pria Korea itu semakin memukau, menyilaukan mata gadis yang menatapnya.
Seo Jun tampak berpikir, tempat wisata mana yang ingin ia kunjungi. “Hmm, kembali ke Monas saja. Kemarin turnya kacau, kita harus mengulang liburan ke sana!” Pekik Seo Jun dengan girang, ekspresi senang yang persis bocah mendapatkan permen gratis.
__ADS_1
Manda melirik pria di sampingnya dengan ekor mata, bibirnya menarik seulas senyum lantaran senyuman Seo Jun yang menularinya. “Okay!”Serunya girang. Semangatnya begitu membara, Manda mulai menghidupkan mesin mobil dan tancap gas dari parkiran hotel.
“Let’s Go!” Teriak Seo Jun sama girangnya.
Jalanan siang di kota Jakarta cukup lenggang, aktivitas di hari kerja pada tengah hari memang tak begitu memadati jalanan, lain cerita jika sudah jam pulang kerja, mungkin Seo Jun akan mengeluh karena terjebak kemacetan seperti kemarin. Sekarang saja pria itu bisa sumingrah menikmati perjalanan, hanya melihat kebahagiaannya saja sudah jadi hiburan langsung bagi Manda. Penat dan lelahnya menyetir pun terlupakan, tapi ia tidak menjamin semangat Seo Jun akan bertahan setelah pulang nanti.
***
“Yes … Monas!” Teriak Seo Jun begitu turun dari mobil, akhirnya ia bisa jalan-jalan dengan damai. Tanpa drama, tanpa gangguan cewek bernama Sofie. Teringat nama cewek itu saja membuat bulu kuduk Seo Jun berdiri, ia tak habis pikir mengapa ada cewek seagresif itu. Untung saja ia tidak terjerat terlalu lama dengan Sofie, untung
digantikan dengan Manda yang seratus kali lebih baik ketimbang Sofie. Seo Jun terkekeh sendiri, selalu untung saja yang ada dalam benaknya yang menandakan betapa ia mensyukuri perkenalannya dengan Manda.
“Buruan, kamu harus coba naik sampai puncaknya.” Manda memimpin jalan di depan, membiarkan Seo Jun yang
masih takjub dan sibuk dengan kameranya. Hingga seorang fotografer keliling mendekatinya dan menawarinya foto dengan background Monas. Seo Jun langung tertarik, ia melirik Manda yang terus melangkah kemudian meminta fotografer itu menunggu sejenak. Si Oppa perlu menyusul Manda agar tidak kehilangan jejaknya.
Manda membalikkan badan, mengikuti langkah Seo Jun yang setengah berlari menghampiri juru potret yang menunggunya. Ia mulai berpose, tetapi saat juru potret memberi aba-aba, Seo Jun berubah pikiran. Ia meminta waktu sebentar sebelum difoto, ada yang terasa kurang. Berpose sendiri ketika ada seseorang yang menungguinya, membuat pria itu sungkan. Ia menghampiri Manda lalu menarik tangannya menuju tempat ia berdiri tadi.
“Hei, kamu foto sendiri saja. Aku nunggu di sana.” Tolak Manda, ia tahu maksud Seo Jun ingin mengajaknya mengabadikan kenangan berlatar tugu Monas. Di luar prediksi, si oppa tidak setuju melepaskannya. Ia memohon dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada seraya berdesis “Please.”
Manda tak tega meruntuhkan kebahagiaan Seo Jun, biarlah asalkan ia senang. Hanya sebuah foto yang kelak mungkin akan sangat ia rindukan, kelak ketika pria itu kembali ke negaranya. Mereka berpose dengan hasil jepretan yang sangat bagus, kecuali senyuman Manda yang tercetak canggung. Gadis itu memang canggung berfoto berdua
dengan seorang pria yang bukan siapa-siapanya. Apa itu salah?
***
__ADS_1
Puas seharian mengelilingi Monas, pria itu merasakan lapar juga. Ia pun baru sadar bahwa mereka kurang makan dan terlalu banyak beraktivitas. Seo Jun menatap Manda dengan cemas, takut jika gadis itu kelaparan dan kesal karena ia tak peka dengan kondisi perut gadis itu. Tetapi melihat tampilan Manda yang masih sangat bersemangat,
seakan baterainya tetap penuh walau sudah banyak bergerak. Justru kini Seo Jun yang merasa dirinya yang lebih lemah dibandingkan tenaga gadis di sampingnya.
“Kenapa? Kamu lapar?” Manda melirik ekspresi Seo Jun yang aneh, ia menduga pria itu pasti ingin mengajaknya
mencari tempat makan.
Bukan main malunya Seo Jun, rasa laparnya begitu jelas sehingga Manda bisa menebak dengan tepat. Si Oppa
pun mengangguk pelan, “Bisakah kamu rekomendasikan makanan lokal lagi? Aku ingin mencicipi yang lain.” Pintanya, setelah disodorkan ponsel. Seo Jun menggerutu pada dirinya sendiri, ia benci komunikasi dengan model seperti ini. Lama dan tidak praktis, ia berjanji akan belajar bahasa Indonesia agar tak lagi tergantung pada guide serta alat penerjemah. Setelah merutuki dirinya, Seo Jun baru tersadar untuk apa ia bersikukuh belajar bahasa Indonesia? Ia hanya turis, setelah kembali ke Korea pun tidak akan terpakai lagi.
Manda mengernyit, ia tampak berpikir. Permintaan Seo Jun itu gampang-gampang susah, ada begitu banyak makanan lokal tetapi ia tidak tahu yang mana yang sesuai selera si Oppa. Ditambah Manda harus teliti mengingat bahwa pria itu menyukai pedas tapi tidak sanggup dengan level pedas tingkat tinggi. Hanya sekejab saja, Manda tiba-tiba punya akal.
“Ayo, aku bawa kamu ke langgananku!” Ujar Manda, ia berjalan cepat kembali ke parkiran.
***
Coba tebak, Manda akan mengajak Seo Jun makan apa?
A. Nasi Padang lagi, mumpung enak dan murah.
B. Ketoprak aja lebih enak
C. Pecel lele, sekalian diajarin makan pakai cakar ayam alias makan pakai tangan
__ADS_1
***