Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 42 KETAHUAN MODUS


__ADS_3

“Kenapa kamu di sini? Kamu mengikutiku sejauh ini?” Selidik Seo Jun sambil berdecak. Si Oppa malah berkacak pinggang dengan sorot wajah yang tegas menatap Devi. Ia tak habis pikir pertemuan kembali dengan gadis yang tak lama cekcok dengannya hanya sebuah kebetulan. Tidak salah jika ia balik menuding Devi mengikutinya.


Devi bergidik, suara Seo Jun menggetarkan hatinya terlebih tatapan tajamnya. Devi salah tingkah, secepat itukah kedoknya terbongkar padahal ia baru satu jam deal sebagai mata-mata Moon? “Ehem … Siapa yang ikuti kamu? Aku baru saja sampai dan lihat kamu jongkok di sini seperti orang kebingungan.” Jelas Devi yang enggan tertangkap basah membuntuti Seo Jun. Namun tatapan tajam dari Seo Jun yang masih diam meliriknya semakin membuatnya salah tingkah.


“Ng, aku … Aku mau jenguk temanku. Kamu sedang apa di sini?” Tanya Devi yang tiba-tiba punya alasan pembenaran diri.


Seo Jun menyeringai, air mukanya begitu menakutkan dan sangat berbeda dengan sebelumnya. Devi tertipu lantaran mengira pria itu tengah kesulitan lalu menghampirinya, yang ada justru ia menyodorkan diri untuk dihakimi.


“Kita sudah tidak ada urusan, selanjutnya tak perlu mengejarku lagi.” Seru Seo Jun dingin sembari membalikkan badan. Ia merasa tak punya kepentingan lagi dengan Devi, jadi untuk apa membuang waktunya.


Devi mengerutkan dahi, ia sungguh tak ingin diremehkan seperti ini. “Tunggu! Oppa, dua hari kemarin kamu nginap di mana? Aku menunggu di hotel yang sudah direservasi untukmu, tapi kamu tidak datang. Lebih baik kamu menginap di sana, sayang kalau dibiarkan hangus begitu saja. Aku bisa mengantarmu ke hotel itu dan membantumu check in.”


Seo Jun berhenti melangkah kemudian menoleh pada Devi yang masih berdiri diam, gadis itu menyunggingkan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Seo Jun merasa perlu melakukan sesuatu sebagai penghargaan pada gadis yang pantang menyerah mengejarnya itu.


“Oya? Aku tidak tahu hotel mana yang Moon pesankan untukku, atau mungkin kamu yang merekomendasikan padanya. Tapi aku punya selera yang tinggi, kalau bukan tipeku maka tak akan aku pakai tempatnya.” Seru Seo Jun menyombongkan dirinya.


Devi merasa sedikit tersudutkan, tebakan Seo Jun memang benar. Ia yang merekomendasikan bahkan mengaturkan pemesanan hotel online pada calon kliennya. “Hotelnya bintang lima kok, hanya orang kaya yang mampu tidur di sana.” Jelas Devi tak kalah keras mempertahankan diri.


Seo Jun mengangkat satu alis, “Oh, masa? Aku nggak mudah percaya kalau tidak ada buktinya.”

__ADS_1


Devi mulai terpancing, ia mendekati Seo Jun sambil menunjukkan sesuatu dari ponselnya. “Ini loh, lihat sendiri deskripsi hotelnya. Hotel ZZZ bintang lima, ada di kawasan elit ibukota dengan fasilitas premium. Bla bla bla ….” Devi penuh semangat menunjukkan pada Seo Jun, tanpa ia sadari pria itu menahan senyum kemenangan karena berhasil mengorek informasi dengan mudah darinya.


Seo Jun hanya perlu tahu nama hotel dan lokasinya, setelah itu ia tak perlu mengandalkan Devi hanya demi pergi ke hotel. Ia punya supir cantik dan menyenangkan yang bisa mengantar dan menemainya. Selebihnya tak ada


lagi yang Seo Jun harapkan, seorang Manda saja sudah cukup merangkap supir dan guidenya.


“Ya sudah.” Komentar Seo Jun singkat, praktis dan jelas-jelas membuat Devi melongo. Tanpa peduli respon Devi yang mematung bingung, Seo Jun balik badan meninggalkan gadis itu lagi. Sungguh mirip pria tak berperasaan yang menepis cinta yang diberikan gadis polos seperti Devi. Gadis itu baru sadar sudah dimanfaatkan oleh Seo Jun, begitu mendapatkan informasi lalu meninggalkannya begitu saja.


“Oppa!” Pekik Devi lantang. Tatapannya nanar menyoroti punggung Seo Jun yang berlalu cuek menjauhinya. Devi merasa teriakannya tak mempan lagi menahan kepergian pria itu, ia pun bergegas berlari mengejarnya.


“Oppaaa … Kalau kamu pergi, aku nggak bisa laporan ke noona.” Teriak Devi mengerahkan seluruh tenaganya. Pantang baginya menyerah karena sudah sejauh ini terlibat.


Dan benar saja, usaha yang gigih itu akhirnya membuahkan hasil. Seo Jun menghentikan langkah lalu mengernyit heran mendengar teriakan Devi. Ada yang janggal dan membingungkan, Seo Jun masih bergeming hingga Devi berhasil menyusulnya dengan napas tersengal. Gadis itu berdiri tepat di hadapan Seo Jun saat ini.


Mampuslah aku, kenapa teledor banget keceplosan gitu? Devi mencecar dirinya sendiri dalam hati. Ia tak henti merutuki kelemahannya yang tak pandai menyimpan rahasia. Ia menggigiti bibir bawahnya demi membungkam mulut daripada semakin salah bicara.


Seo Jun menatapnya super tajam dan mulai tak sabar menunggu jawaban. Devi justru jadi pengecut dan berniat kabur, ia bergegas balik badan meninggalkan Seo Jun daripada harus menjawab pertanyaan sulit itu. Sayangnya gerakan Devi kurang gesit sehingga dengan mudah digagalkan oleh Seo Jun hanya dengan satu gerakan – menarik kerah jaket Devi.


“Bukannya kamu mau ikut aku? Kenapa sekarang malah kabur? Benarkan Moon yang suruh kamu mengawasiku?” Desak Seo Jun dengan tegas.

__ADS_1


Devi tak leluasa bergerak meskipun ia berusaha kabur, cengkraman Seo Jun di kerahnya membuatnya saling tarik menarik dengan kepala mendongak ke arah langit. “Lepaskan aku! Iya, dia suruh aku ikutin kamu. Salahmu sendiri, nggak mau beri aku kesempatan jadi guidemu akhirnya Noona yang memberiku kerjaan.” Jawab Devi tak berdaya, lagipula sudah terlambat untuk menutupi semuanya. Ia memang sulit menjadi pembohong gara-gara mulut embernya.


Seo Jun melepaskan cengkramannya dan Devi sudah bernapas lega. Kesempatan itu dimanfaatkan Devi untuk kabur, ia lari terpingkal-pingkal meninggalkan Seo Jun yang bergeming. Seo Jun tak habis pikir untuk apa Moon bersikap demikian.


“Apa kamu tak mempercayaiku? Atau aku yang salah menilaimu selama ini, Moon?” Gumam Seo Jun dengan tatapan kosong.


***


Manda berlari menyusuri koridor rumah sakit, tujuannya hanya satu – segera menemukan Seo Jun. Pria itu tidak menyusulnya dan entah di mana sekarang ia berada. Manda khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, dan Manda merasa bertanggung jawab atas keselamatan Seo Jun karena ia yang mengajaknya kemari. Masalahnya Manda kehabisan akal harus mencari ke mana lagi, rumah sakit ini begitu luas serta belum tentu juga Seo Jun masih


berada di sekitar sini.


Dalam kegalauan level tinggi itu, tiba-tiba ponsel Manda berdering. Ia meraba saku celana jeans untuk mengeluarkan alat komunikasi itu sekaligus melihat siapa yang menghubunginya.


“Eh?” Matanya menyipit lalu bibirnya menyeringai saat membaca nama penelpon yang tertera di layar. Seketika itu juga rasa paniknya berubah jadi geli, Manda Ilfeel membaca betapa narsisnya orang yang menyimpan nama kontak itu di ponselnya.


Oppa tampan memanggil … (Begitulah yang tertera di layar ponsel Manda).


Aku tahu kamu memang tampan, tapi nggak segitunya kali …. Batin Manda sambil terkekeh.

__ADS_1


***


Seperti biasa, mohon dukungan Like, Komen serta Votenya ya teman-teman. Bantu dan dukung author untuk mendapatkan kontrak pada karya ini. Terima kasih, author doakan reader semua sukses selalu, makin banyak rejeki dan makin happy.


__ADS_2