
“Lupakan segalanya seolah tidak terjadi apa-apa, okay?” Manda tampak serius menyatakan permintaannya hingga membuat Seo Jun menatap serius ke arahnya. Mereka bertatapan cukup lama dalam kondisi diam sehingga Manda yang lebih dulu merasa canggung lalu membuang muka.
“Bagaimana kalau aku tidak mau? Apa kamu akan mengancamku lagi?” Tanya Seo Jun tanpa berpaling menatap Manda.
Manda mengernyitkan dahi, pria itu malah bertanya balik padahal ia tengah bernegosiasi dengannya. Dan lagi, Seo Jun sepertinya mulai terbiasa dengan cara Manda yang suka memberikan ancaman. Mungkin karena terlalu sering sehingga kebal ditakuti dengan cara itu. “Tidak, aku tidak peduli kamu mau atau tidak. Aku hanya kasih saran saja supaya kita menganggap tidak pernah terjadi apa-apa.” Kelit Manda, ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa tanggapan Seo Jun tentang pikirannya itu benar.
Seo Jun tersenyum tipis, Manda jelas tidak sadar bahwa ia sudah terkecoh oleh Seo Jun. “Sekalipun kamu memaksa, aku tetap tidak akan menurutimu. Mana bisa kamu memaksakan ingatan sengaja dilupakan, kecuali....”
“Kecuali apa?” Tanya Manda cepat saking penasaran.
Seo Jun nyengir melihat antusias Manda, “Kecuali amnesia.” Jawabnya singkat.
Manda ikutan nyengir, ia kehabisan kata-kata untuk berdebat. Daripada ia semakin terlihat konyol, sebaiknya ia segera mencari akal untuk menyelamatkan diri dari jebakan suasana yang kurang nyaman ini.
“Jadi kita mau ke mana hari ini bos?” Tanya Manda kembali mengingatkan si oppa bahwa ia belum menentukan jadwal pekerjaannya hari ini sebagai supir.
Seo Jun tampak berpikir cukup serius kemudian tersenyum penuh makna pada Manda, senyuman yang tampak begitu manis itu bukannya membuat Manda senang tetapi justru kian merasa aneh. Pasti ada apa-apanya di balik senyuman itu.
***
__ADS_1
“Hei, baju itu bagus juga. Ayo ke sana!” Seo Jun menunjuk etalase sebuah toko pakaian bermerek ternama, lalu melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan Manda.
Dan di sinilah mereka berada sebagai tempat piknik pilihan Seo Jun, di sebuah mal elit di kawasan Selatan ibukota. Manda menghela napas panjang, lelah meladeni Seo Jun yang ternyata gila belanja. Dua tangan Manda sudah penuh menenteng tas belanjaan namun pria itu belum juga merasa puas dan menghentikan kegilaannya memborong barang branded. Yang lebih miris lagi dari nasib Manda, ia dibiarkan membawa semua barang itu dan Seo Jun tak terlihat simpati padanya. Jangankan membantu membawakan, menanyakan kondisinya apakah capek saja tidak.
“Aaarrgghh” Gerutu Manda kesal namun tak berdaya dan tetap berjalan menyusul langkah Seo Jun ke dalam toko itu.
Manda tak peduli lagi dengan semangat Seo Jun yang masih membara, tentu saja pria itu tidak lelah. Ia hanya melenggang dengan santai lalu hanya perlu menunjuk barang yang ia sukai, apalagi ada pelayan toko yang dengan senang hati melayani pembeli seroyal dia. Manda kembali mendelik pada Seo Jun yang terlihat menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun berwarna pastel dengan telunjuknya. Seorang pelayan mengambilkan gaun itu lalu tanpa diperiksa, Seo Jun memberi anggukan tanda bahwa ia setuju membelinya.
Yang tak habis Manda pikirkan adalah pilihan Seo Jun pada produk wanita. Seluruh belanjaan yang dicangkingnya adalah pakaian wanita, bahkan asesoris penunjang penampilan yang tengah trendy pun disikatnya. “Sebenarnya kamu tuh beli buat siapa? Kok berasa kasian banget aku, bawain barang orang. Palingan dia beli buat oleh-olehin
pacarnya.” Gerutu Manda kesal. Ia menendang ringan tas belanjaan yang ditaruh di samping kakinya sebagai bentuk pelampiasan pada Seo Jun.
“Aku sudah selesai belanja, sekarang kita cari makan di sini.” Perintah Seo Jun seraya menaruh tiga tas belanjaan di tangannya ke kumpulan tas di samping kaki Manda. Tanpa merasa bersalah, Seo Jun membalikkan badan lalu berjalan ringan keluar dari toko. Sayangnya ia terlalu cepat beranjak, andai saja ia memperlambat dua detik saja, pasti ia akan menyaksikan bagaimana melengosnya wajah Manda.
Manda meraih seluruh tas yang jumlahnya kini mencapai lima belas dengan berat hati, kemudian menghela napas berat untuk segera menyusul si oppa. Untung saja kali ini tujuan mereka adalah makanan, jika belanja lagi Manda jamin ia langsung mogok kerja dan kabur dari sini.
Dari sekian banyak food court, pilihan Seo Jun jatuh pada soto Betawi. Sedangkan Manda, jangan ditanya lagi, ia melampiaskan kekesalannya dengan makan sepuasnya. Ia memesan lima macam makanan dan berniat menghabiskannya sendirian.
“Kamu yakin bisa makan semua?” Tanya Seo Jun terkejut melihat semua pesanan Manda yang diantarkan satu persatu namun sudah lengkap sekarang.
__ADS_1
“Ng.” Jawab Manda singkat tanpa menatap lawan bicaranya. Ia mulai sibuk menyusun rencana untuk menikmati kulinernya, dimulai dari sate padang, dilanjut nasi hainan, lalu cumi asam manis yang digado saja tanpa nasi, lalu semangkuk sop buntut dan terakhir sepotong ayam bakar bagian dada mentok.
Kontras dengan Seo Jun yang hanya memesan soto Betawi dengan seporsi nasi putih lalu es jeruk. Selera makan Manda yang luar biasa itu membuat Seo Jun salut, rasa laparnya bahkan seakan terwakilkan hanya dengan melihat kelahapan gadis itu. Namun jika diingat-ingat, ketertarikan Seo Jun pada gadis itu juga berawal dari makanan. Kala
itu ia kagum melihat Manda yang lahap menyantap bakso dengan seporsi nasi putih. Kenangan semanis itu dengan Manda, mana mungkin mudah terlupakan begitu saja. Sekalipun Manda memaksanya untuk amnesia, Seo Jun tidak akan mau melupakan Manda. Biarlah yang lain terlupakan, asalkan jangan tentang gadis itu.
Di sisi lain yang luput dari perhatian Seo Jun dan Manda, tepatnya di sebuah meja yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat duduk mereka, ada Devi yang ikut memesan makanan di food court hanya demi leluasa mengintai mereka. Dengan penampilan yang seperti terinspirasi dari Black Widownya Avengers, ia tampil mencolok dan
mengundang sorot mata aneh ke arahnya. Beruntungnya penyamaran Devi kali ini lolos dari mata elang Seo Jun.
Devi sudah membuntuti mereka sejak keluar dari hotel, kini ia sedang mengetik informasi terupdate yang harus disampaikan pada bosnya – Moon. Ia melaporkan dengan antusias dan berdasarkan asumsi pribadinya yang hanya melihat dari jarak jauh.
“Noona, mereka ke mall hari ini. Gadis itu selain jelek ternyata juga matre, dia mengajak Seo Jun belanja barang-barang mahal. Lalu sekarang mereka makan bersama dengan bahagia, layaknya pasangan kekasih. Tuh... Mesra kan?”
Itulah isi pesan Devi yang provokatif serta mengandung unsur meledek Moon. Devi tak sadar bahwa Moon pasti tidak suka mendengar laporan yang terlalu mengagungkan Manda, salah satunya dengan sebutan pasangan kekasih. Dan pesan itu dikirim dengan foto penunjang yang dijepretnya dari hasil zoom hingga ukuran terbesar.
Pesan itupun sukses terkirim pada Moon. Lantas bagaimana reaksi sepupu Seo Jun begitu membacanya?
***
__ADS_1