Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 14 KAMU OPPA KAN? YA, KAMU!


__ADS_3

Dua jam sepuluh menit enam detik sudah Devi duduk sebagai asisten satpam hotel yang memantau kedatangan setiap tamu. Pekerjaan yang paling membosankan serta mengundang rasa kantuk berlebih itu terpaksa dijabanin olehnya saking takut melewatkan satupun tamu yang datang. Devi membelalakkan mata dengan jari tangan agar tidak ketiduran, rasa kantuk menjadi cobaan terberat saat ini. Beratnya melebihi menahan lapar di tengah diet.


Fokusnya yang mulai kacau akibat menguap terus tiba-tiba seperti mendapat suntikan semangat dari Doctor Strange – kok malah jadi ngomongin Avangers? – saat melihat seorang pria berpostur tubuh tinggi, putih, rambut disemir keunguan seperti style oppa Korea melangkah masuk dengan penuh pesona. Gayanya sangat meyakinkan, terlihat cool dengan kacamata hitam yang cocok dengan bentuk wajahnya.


Devi terperanjat, ia nyaris lupa berkedip dan lupa akan perjuangan melawan kantuknya yang baru saja berakhir. Semangatnya mencapai level teratas, ia bergegas bangkit membuntuti pria itu. Hati kecilnya berseru bahwa


dialah Seo Jun yang dicari.


“Seo Jun, Oppa.” Devi mencegat pria yang kini berurusan dengan resepsionis.


Oppa yang dimaksud Devi itu mengernyitkan dahi dan menatap gadis asing di depannya dengan tatapan aneh. Pria itu memilih diam dan melanjutkan check in, ia berharap sikap penolakan secara tidak langsung ini dimengerti


oleh gadis yang sok kenal itu.


Bukannya merasa harus menyingkir, Devi malah menarik lengan pria berambut ungu itu untuk mendapatkan perhatian. “Kamu oppa Seo Jun kan?  Ya, kamu … Lee Seo Jun dari Korea. Aku tour guidemu, Devi.” Merasa dicuekkan, Devi malah makin ngotot memperkenalkan diri dalam bahasa Korea.

__ADS_1


Habis sudah kesabaran pria itu setelah lengannya dicengkram kuat seperti layangan putus yang berhasil direbut. Ia melepaskan genggaman itu dengan tangan yang satunya sembari menyeringai menatap mata si gadis yang berkaca-kaca seperti baru saja ketemu kekasih yang LDR puluhan tahun. “Mbak, lepasin. Ngomong apaan sih, nggak ngerti gue.” Ujar pria itu ketus, jelas-jelas ia hanya turis lokal tapi malah diajak bicara bahasa Saranghe, otoke, kamsahamida. 


Devi melongo, ekspresinya memprihatinkan dengan mulut mangap membentuk huruf O besar. Pria yang ia kira Seo Jun bisa bicara bahasa Indonesia? “Hah? So sorry, gue salah orang sorry.” Devi menahan malu, mukanya memerah dan ia berlari kencang menjauhi pria yang rupanya tamu lokal yang mirip orang Korea. Ia tak henti merutuki diri yang kurang perhatian hingga mempermalukan diri sendiri di depan umum. Harusnya ia membandingkan dulu dengan foto Seo Jun di handphonenya. Devi kembali duduk di lobby sambil menyembunyikan wajah yang masih merah menahan malu.


***


Pertengkaran dua sejoli yang berhasil merenggut satu korban tidak bersalah itu berakhir di sebuah kafe yang full AC dan bersuasana romantis. Rasa kesal dan marah bisa ditunda jika urusan perut sudah menagih jatah. Reagan makan dengan lahap, setelah melupakan lapar akibat terlalu tegang memikirkan kekasihnya yang hilang. Kini ia melampiaskan dengan tenang, tenaganya terkuras banyak dan ia perlu makan enak sepuasnya.


Berbeda dengan Sofie yang kenyang oleh rasa kecewa, marah dan sedih. Napsu makannya hilang dan perut laparnya terasa diwakilkan oleh Reagan untuk melahap dengan rakus. Sofie kecewa karena pada akhirnya rencana dan pengorbanannya ingin bersama dengan Seo Jun malah kembali dengan Reagan. Marah karena sudah capek berkorban, malah muncul pelakor – versi Sofie, Mandalah pelakornya. Dan sedih, karena tidak bisa bertemu pria itu lagi. Kebersamaan yang terlalu singkat, Manda rindu pada oppa berwajah imut itu. Sedang apa dia, dan di mana bersama si pelakor itu? Batin Manda melengos memikirkan gebetannya yang lepas bagai burung kabur dari kandang.


“Jadi gimana ceritanya lu bisa jalan sama dia? Gue kasih lu kesempatan jujur sekali lagi, kalau nggak ya siap-siap aja gue laporin ayahmu.” Ancam Reagan tegas, setelah kenyang ia jadi punya banyak energi untuk mengadili Sofie.


Sofie tercengang, membayangkan akan diadili ayahnya saja sudah sangat menakutkan. Sederet hukuman sadis yang mengancam apabila hal ini sampai ke telinga ayahnya ; uang jajan dipotong bahkan bisa saja dihilangkan, dikarantina di rumah tidak boleh kemana-mana, dicabut fasilitas mewahnya – mobil, kartu kredit. Membayangkannya saja sudah membuat Sofie merinding disko.


“Jangan! Plis beb, jangan! Sebenarnya waktu aku keluar dari toilet buru-buru nyusul kamu, nggak sengaja aku nabrak dia yang lagi nelpon sampe ponselnya jatuh dan rusak. Dia marah, trus aku bilang mau ganti rugi… Eh dianya nggak mau, dia suruh aku tanggung jawab betulin ponselnya. Sebelum ponselnya diperbaiki, dia nggak akan lepasin aku. Tapi untung kamu datang beb, hiks …” Sofie tengah beracting menangis, salah satu jurus andalannya meluluhkan hati Reagan agar segera memaafkannya.

__ADS_1


Reagan geram mendengar cerita itu, “Cowok kurang ajar! Dia sengaja tuh manfaatin kesalahan kecil lu biar bisa meras lu. Jadi lu beliin dia hape baru? Trus diperas buat foya foyain kartu kredit lu?” Tanya Reagan ngegas.


Sofie nyengir kuda, darimana coba logika pemikiran Reagan sampai sedramatisir itu. Yang ada justru kebalikannya, Sofie yang menawarkan ganti rugi tapi malahan oppa itu yang keluar uang untuknya. “Beb, plis deh gak usah ngaco. Dompetku kan sama kamu, gimana bisa dia peras aku? Yang ada malah aku yang manfaatin dia.” Jawab Sofie masih dengan senyum nyengir.


Reagan menutup mulut, benar juga dompet Sofie ada padanya. Tapi ia tetap saja marah, “Trus kenapa hape lu dimatiin? Sengaja ya biar gue nggak hubungin? Lu tahu gak tiket pesawat kita hangus gitu aja dan gue masih harus repotin orang kabin buat keluarin barang kita dari bagasi. Lu ya bener-bener dah.”


Sofie kehabisan alasan, ia mutar otak dengan cepat agar bisa mengarang cerita yang realistis. “Hmmm, itu karena aku bilang ke dia nggak punya hape, soalnya aku takut dia minta hapeku buat ganti rugi gara-gara aku nggak bawa dompet.”


Reagan manggut-manggut, ia malah merasa iba karena kekasihnya mengalami hal yang panjang tanpa dirinya. “Ya ampun beb, kasian amat sih lu. Baru ditinggal beberapa menit aja lu udah kesulitan, apalagi ditinggal selamanya ama gue?”


Kenarsisan Reagan membuat Sofie mual mendengarnya, tapi syukurlah berkat alasan itu ia lolos dari kemarahan kekasihnya. Sekarang giliran dia yang pasang urat protes pada tindakan main hakim sendiri pria itu. “Apa sih lu, lebay tahu! Sekarang urusan kita belum kelar, ngapain kamu sok mukulin dia tanpa dengar penjelasan. Tahu gak, aku yang lebih bersalah loh jadi kalau dia nggak terima trus laporin kita, lihat aja gimana ayahku cari perhitungan sama kamu. Aku aja belum bayar ganti rugi ke dia, eh malah kamu bikin dia babak belur.” Ujar Sofie kesal.


Reagan menggaruk kepala padahal ia belum cuci tangan bekas makan lalapan. Sofie yang jeli langsung manyun melihat kejorokan prianya. “Sorry beb, gue mana tahu dia nggak jahat. Lah, trus gimana dong sekarang, kita juga nggak tahu dia di mana kan. Kalau dia nggak hubungin kita duluan ya udahlah. Anggap aja udah selesai, jangan dipanjangin masalahnya. Mending sekarang kita cari tiket baru buat ke Bali.”


“What? Pergi?” Sofie keceplosan berteriak saking kagetnya. Ia belum siap pergi meneruskan liburan, ia masih ingin bertemu Seo Jun, apapun caranya.

__ADS_1


***


__ADS_2