
Manda melipat pakaiannya yang baru dikeringkan paksa dengan hairdryer. Seo Jun bangkit dari tempat tidur lalu membuntuti Manda yang tampaknya serius hendak angkat kaki dari kamar itu. Si Oppa menggaruk kepalanya
yang tidak gatal, hanya karena bingung saja ia bertingkah seperti itu. Sekarang entah apalagi yang harus ia lakukan agar Manda mengurungkan niat meninggalkannya. Tas ransel dan beberapa barang lainnya yang menjadi harta
Manda satu-satunya itu sudah rapi, dengan ekor matanya ia melirik Seo Jun yang berdiri mematung di belakang.
“My money? My phone? Give it back to me!” Sela Manda seraya menjulurkan tangannya, wajahnya terpampang begitu sewot. Ia tidak main-main dengan keputusannya, dan semakin membuat Seo Jun mati kutu.
Seo Jun menggeleng cepat, ia menolak keras permintaan Manda. “Jangan pergi, aku tidak mengijinkanmu pergi! Maaf karena sudah membuatmu marah, aku tidak akan mengulanginya lagi jadi tolong jangan pergi.”
Manda bersikukuh menggelengkan kepala, ia tak mau diajak negosiasi ulang. Ponsel yang dalam genggaman Seo Jun hendak direbutnya, dan pria itu pasrah saja karena memang itu milik Manda. “Tidak ada jaminan kalau kamu bisa sopan dan aman bagiku. Siapa tahu nanti kamu beralasan lagi, sorry aku nggak bisa.Tolong bayarkan uang jaminanku dan biarkan aku pergi.”
Tatapan Seo Jun pada Manda terlihat seperti ratapan suami yang hendak ditinggalkan istri, ia ingin mengiba namun tak kuasa melakukannya. Semua terjadi memang karena keisengannya, dengan langkah tergopong Seo Jun
meraih dompet yang disimpan dalam laci meja di samping tempat tidur. Ia mengeluarkan sejumlah uang bahkan melebihkan dari jumlah yang seharusnya lalu menyodorkan pada Manda. Matanya begitu sayu, membuat Manda sedikit goyah saking tidak tega namun ia tetap mengambil uang tersebut.
__ADS_1
Manda mengernyit lantaran segepok uang itu berlebihan, ia mulai curiga Seo Jun hendak menyogoknya agar tidak pergi. Tetapi saat ia menatap balik pria itu, tudingan sepihak itu beransur goyah. Manda dapat melihat sorot penyesalan yang dalam dari Seo Jun. “Uangnya kebanyakan, nih.” Setelah menghitung sesuai jumlah yang menjadi haknya, Manda menyodorkan kembali uang lebih kepada Seo Jun.
Pria itu bergeming, ia bahkan tak mengalihkan tatapannya dari Manda. Uang yang masih menunggu sambutannya diabaikan begitu saja sehingga Manda terpaksa menarik tangan pria itu lalu menumpukkan uang tersebut ke telapak tangan Seo Jun.
“That is for you, I pay you fully.” Lirih Seo Jun dengan lemah, separuh hatinya seakan hancur berkeping. Ia menarik tangan Manda lalu mengembalikan uang tersebut, mencontoh cara Manda barusan.
Manda meringis, tak menyangka di akhir kerjasamanya dengan Seo Jun justru mendapat pesangon separuh dari gaji hariannya. Ia tak mau bersitegang lagi, lagipula pria itu yang secara ikhlas memberikannya. Manda meraih tasnya yang tergeletak di lantai, memasukkan gajinya ke dalam sana lalu bersiap beranjak. Langkahnya pelan berbalik dan menjauhi Seo Jun yang masih berdiri di tempat semula. Ia menatap sejenak Seo Jun yang tampak terguncang, Manda tersenyum lirih kemudian melanjutkan berjalan. Ia sempat melambaikan tangan tanpa menoleh sebelum membuka pintu. Tak peduli apakah Seo Jun menyadarinya atau tidak, yang jelas ia sudah mencoba berpamitan. “Take care!”Ujar Manda yang kemudian sepenuhnya hilang dari balik pintu.
Seo Jun masih terdiam, hatinya terasa tercabik seakan patah hati sebelum sempat jatuh cinta. Cinta? Pria itu mengkerutkan dahi, ia mencoba mereka ulang pikirannya. Barusan ia menyentil soal cinta, apa mungkin ia sudah mulai jatuh cinta pada Manda? Seo Jun tersenyum perih, merutuki dirinya sendiri. Apa semudah itu jatuh cinta?
***
“Kenapa ada di sini?” Manda mendengus kesal, tak menyangka Seo Jun meninggalkan jaketnya di kursi penumpang. Jaket itu sepanjang hari kemarin selalu lengket di tubuhnya, tetapi ia tak menyangka kapan pria itu
melepaskannya dan menaruh di sana. Ini bagaikan mimpi buruk tanpa ketiduran, Manda baru saja mencoba menghilangkan rasa tak tega meninggalkan pria itu tetapi kini dihadapkan dengan godaan untuk mengembalikan barang tersebut ke empunya.
__ADS_1
Dering notifikasi ponselnya berbunyi, Manda mendapatkan orderan secepat kilat. Ini pun menjadi godaan berat baginya, antara harus menerima dulu orderan ini atau kembali ke atas untuk mengembalikan jaket Seo Jun. Gadis itu menarik napas panjang, perlu keberanian untuk mengambil keputusan dalam waktu terdesak tanpa rasa penyesalan. Ia sudah memutuskan, diraihnya jaket itu dan bergegas keluar dari mobil.
***
Seo Jun duduk melamun di sudut ranjang, semenjak Manda pergi ia mematikan semua lampu dalam kamar itu lalu menutup tirai jendela. Ia sengaja membiarkan kegelapan merajalela menguasai keadaan, bagaimanapun ia lebih nyaman menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk dalam hati. Kesedihan, kekecewaan, keputus-asaan serta ketidak-puasan yang hendak ia kubur dalam perjalanan ini malah semakin terungkit. Meratapi kepergian Manda barusan secara spontan mengingatkan Seo Jun dengan insiden kematian orangtuanya yang tragis. Semua terjadi begitu saja, Seo Jun bahkan tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orangtuanya. Sama ketika ia tak sanggup mencegah Manda pergi dari sisinya meskipun sudah mengiba. Ia tetap ditinggalkan, ia tetap sendirian di dunia yang
luas ini.
Status Seo Jun sebagai pengusaha muda paling berpengaruh di negaranya, terkesan tidak ada arti sama sekali. Pria itu muak berurusan dengan politik, bisnis, dan kekuasaan dalam genggamannya. Apa arti semua itu ketika ia benar-benar sebatang kara di dunia? Uang sebanyak apapun tidak bisa mengembalikan waktu barang sedetikpun yang sudah berlalu. Tak bisa menghidupkan kembali orangtuanya yang terlanjur pergi dengan cara mengenaskan,
ia bahkan belum memenuhi permintaan ibunya yang sangat berharap segera menggendong cucu.
Sekelebat ingatan masa lalu Seo Jun terus berputar dalam benaknya, kehidupan mewah, dikelilingi wanita cantik, tetapi tak satupun yang berhasil ia kencani. Hanya satu orang yang masih tersisa, dia juga satu-satunya yang dapat diandalkan. Dia adalah Moon, ya … Seo Jun tak bisa bergerak leluasa bahkan untuk menenangkan diri sejenak dari kenyataan jika tanpa bantuan Moon. Sejak kecil mereka selalu bersama, sepupu yang selalu melakukan apapun untuknya bahkan siap pasang badan demi Seo Jun.
Seo Jun tak punya rencana selanjutnya, ia terjebak di kota asing ini tanpa alat komunikasi. Selepas Manda pergi, ia mulai menyadari bahwa mungkin dirinya lah yang tak pantas bagi siapapun, sehingga tak satupun yang sanggup berada di sampingnya selain Moon.
__ADS_1
Sementara itu, Manda sudah keluar dari lift dengan menenteng jaket Seo Jun menuju kamar yang belum setengah jam ditinggalkannya.
***