Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 16 I’M SORRY BOS!


__ADS_3

“Ng ... Iya laper banget, bisa cepetan nggak?” Seo Jun memasang ekspresi kesakitan sembari memegang perutnya.


"Aku punya maag, nggak boleh telat makan." Timpal Seo Jun, wajahnya kian meringis persis orang yang tengah sakit. Sesekali ia mengintip ke arah Manda yang membagi konsentrasi antara menoleh padanya dan fokus pada jalanan.


Manda melirik bosnya yang meringkuk kesakitan, hanya karena lapar pria itu bisa terkulai lemah? Manda mulai cemas, ia tidak mau membuat kesalahan yang berpotensi membuat gajinya dipotong. Tapi gimana caranya lolos dari jebakan macet sedangkan ia belum menemukan tempat makan yang cocok?


“Be patient okay.” Jawab Manda yang enggan rempong menggunakan ponsel di saat hectic, ia melontarkan bahasa Inggrisnya yang pas-pasan.


Jawaban itu terdengar so sweet bagi Seo Jun, ia senyum-senyum sendiri dan bungkam, membiarkan Manda fokus pada tugasnya.


Fokus Manda berkeliaran melirik sepanjang jalan kiri dan kanan yang padat merayap, ia melampiaskan kekesalan dengan membunyikan klakson. Hasilnya jelas sia-sia, ketika si Komo lewat semua kendaraan harus bergerak merayap. Tindakannya yang egois itu justru mengundang umpatan kesal, bagaimana tidak, siapa yang bisa memberi jalan untuknya meskipun membunyikan klakson hingga jebol di jalanan padat, jalan itu tidak mungkin auto sepi.


“Be patient!” Seo Jun membalikkan kata itu untuk Manda. Senyum manisnya disunggingkan tanpa dosa, padahal Manda cukup keki mendengarnya. Seperti tidak ada kata-kata lain yang lebih kreatif saja, sampai harus meniru ucapannya.


Ketika ada celah untuk menggerakkan mobil, Manda seolah mendapat angin segar di tengah gersang, bergegas ia menginjak gas. Ciiiittt ... Sayangnya hanya bergerak sedikit ia harus menginjak rem lagi, membiarkan seorang bocah menyebrang sambil berlari. Setelah bocah itu berlalu, celah untuk bergerak pun ikut pergi. Manda melengos, kesal, lelah, harus bersabar lagi dan tiba-tiba suara Seo Jun terngiang mengesalkan ‘be patient’.


Manda membuang pandangan ke luar, ia menatap di depan tak jauh dari jaraknya ada sebuah warung tenda nasi goreng yang baru setengah dipasang. Otaknya langsung bereaksi, tanpa bertanya persetujuan Seo Jun, ia membanting setir ke tepi mendekati warung.


“Udah sampai ya?” Tanya Seo Jun, kali ini sudah pakai bahasa aslinya.

__ADS_1


Manda mengangguk, “Ng ...” Singkat saja jawabannya saking malas meminta operan ponsel. Ia dengan cekatan mengambil posisi parkir yang berada tidak jauh dari tenda.


Mereka turun serentak, Seo Jun melemaskan otot dan pinggangnya yang nyaris lepas persendian saking kelamaan duduk. Manda duluan sampai di muka tenda, berhadapan dengan mas penjual yang mulai bermain dengan seperangkat alat masaknya.


“Nasi goreng dua porsi ya mas.” Manda mengambil inisiatif orderan, toh hanya menu itu saja yang bisa mereka pilih di warung itu. Sesuai namanya, Nasi Goreng Kang Cecep.


“Biasa, pedes atau pedes banget mbak?” Tanya si tukang masak.


Mendapat pertanyaan itu akhirnya harus mendongkrak mulut Manda untuk bertanya, ia mengulurkan tangan meminta ponselnya pada pria yang baru berjalan mendekatinya. Seo Jun menyerahkan ponsel yang ia genggam ke tangan pemiliknya.


“Mau pedas atau nggak?” Tanya Manda singkat.


Seo Jun bingung, apa yang pedas? Tiba-tiba diberi pertanyaan kurang jelas subjeknya. “Apa? Kamu pesan makanan apa?”


Seo Jun manggut-manggut, ia pernah tahu makanan yang disebut Manda hanya saja belum pernah mencobanya. “Oooo ... Oedas.” Ujar Seo Jun yakin banget. Setelah memberikan jawaban, Seo Jun merenggangkan otot tangan dan menguap. Ia mengamati tempat makan yang nuansanya tidak jauh berbeda dengan warung bakso tadi siang.


Manda tersenyum kemudian menjadi jubir lagi untuk melanjutkan pesanan mereka. Setelah itu, Manda mengajak Seo Jun duduk di dalam warung tenda. Bisa dikatakan mereka adalah pengunjung paling awal, di antara sekian banyak kursi hanya mereka berdua yang tempati. Warung minimalis kaki lima itu berkapasitas sepuluh orang dan hanya terisi dua. Terasa seperti makan di tempat VIP kelas menengah ke bawah.


“Minum apa Mbak?” Tanya Mas pelayan yang lain sambil menyodorkan senyum manis sebagai bentuk pelayanan maksimal.

__ADS_1


“Teh manis hangat aja dua.” Celetuk manda tanpa tanya lagi ke Seo Jun.


Sepuluh menit kemudian, dua porsi nasi goreng terhidang di depan mereka. Aroma yang tercium dari kebulan uap nasi itu seketika mengundang napsu makan Seo Jun yang tadinya pura-pura lapar, kini lapar beneran. Manda memberikan sendok dan garpu yang sudah ia lap dengan tisu. Seo Jun tersenyum menerimanya dan mendesiskan jawaban yang hangat, “Thanks.”


Manda hanya tersenyum sebagai balasannya. Ia sibuk mengutak-atik sendok dan garpu kemudian makan dengan rasa puas. Betapa nikmatnya makan malam ini, setidaknya gratis karena Seo Jun tidak mungkin membiarkan ia mentraktir.


Seo Jun tengah mengunyah suapan pertama, matanya terbelalak kemudian ia gelagapan meminta ponsel yang ada di tangan Manda, Air matanya langsung keluar saking ia tidak tahan dengan sensasi makanan itu.  “Pedes bangeet! Aku nggak bisa makan sepedas ini.” Antara panasnya nasi dan pedasnya makanan itu menambah klop sensasi panas dan pedas, Seo Jun sampai mengipasi mulutnya yang menganga.


Manda terkejut, ia merasa nasinya sama dengan Seo Jun dan ia tidak merasa kepedasan. Ia menyiduk satu sendok nasi Seo Jun dan melahapnya, tidak terasa sepedas yang menghebohkan itu. “Biasa aja.” Ujar Manda. Kesan santainya hilang seketika melihat bibir Seo Jun memerah dan sedikit bengkak. Ia bergegas memberikan segelas teh manis yang belum disentuh pria itu.


“Nih minum bos.” Manda menyuapi Seo Jun, melihat kondisi bibirnya yang dower itu membuatnya prihatin.


Seo Jun menyeruput sedikit teh, baru seteguk saja ia langsung memuntahkannya. “Hot!” pekiknya sembari mengipasi mulut lagi. Ia membelakangi Manda dan terus mengerjapkan mata lantaran tak kuat dengan rasa pedas di lidahnya. Ia memang suka makan pedas, namun tidak semua cabe bisa ditolerir olehnya. Hanya bubuk cabe yang dapat dikonsumsi, dan ia tidak tahu bahwa makanan pedas di sini ternyata menggunakan cabe asli.


Manda serba salah, perasaan apa yang dilakukannya untuk misi penyelamatan malah berujung mencelakakan.


Ia tidak percaya begitu saja dengan keluhan Seo Jun, teh bekas diminum pria itu pun ia coba dengan menyeruput dari sisi yang berbeda – biar menghindari ciuman langsung. Manda nyaris memuntahkannya juga, akhirnya ia sependapat pada bosnya. Teh manis hangat itu lebih tepat disebut teh yang baru mendidih saking panasnya.


“Sorry bos, i’m Sorry.” Sesal Manda. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Niatnya membuat bosnya kenyang dengan puas malah berujung kacau. Apanya yang senang, sekarang bibir pria itu malah persis habis disengat tawon, merah dan bengkak.

__ADS_1


Sepertinya ini memang hari sialmu bos, i’m really sorry. Sesal Manda.


***


__ADS_2