Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 73 KERJASAMA MUSUH


__ADS_3

"Kenapa? Nggak boleh? Ah... Apa lu mau gue bongkar rahasia lu? Lu stalker mereka kan?"


Seru Jovas tersenyum licik, ia sengaja menyaringkan suara untuk menggertak Devi.


Devi terkesiap, tak menyangka bahwa modusnya bisa terendus dengan mudah. Buru-buru ia menyumpal mulut Jovas dengan tangannya supaya diam.


"Ng... Ng...." Ceracau Jovas tidak jelas, tetapi ia berhasil menyingkirkan tangan Devi dari mulutnya.


"Lu gila apa? Lu mau bikin gue mati di depan umum?" Kesal Jovas sambil menggosok mulutnya berulang kali, membersihkan jejak tangan Devi. Raut wajahnya mengkerut dan tak lama ia seperti hendak muntah.


"Puiiihhh... Bau banget, lu habis makan jengkol pake ceker tangan?" Tuding Jovas melirik kesal pada Devi yang nampak cengar-cengir.


"He he... Kok lu tahu?" Tanya Devi tanpa merasa bersalah, malah ia menciumi tangannya sendiri.


"Bener juga... Bau sedap." Timpal Devi sambil menghirup tangannya, menikmati aroma jengkol yang menempel di sana.


Jovas nyengir, ia malah geli melihat tingkah blak-blakan Devi. "Cewek macam apa lu, jaim dikit kek. Hiii...." Seru Jovas bergidik.


Devi mendelik, ia mulai mengingat wajah pria yang mengejeknya itu. Telunjuknya mengacung pada Jovas, "Aaah... gue ingat sekarang, lu cowok yang kemarin di mall kan? Yang berantem gaje sama Manda."


Jovas tadinya ingin menampakkan wajah sombong, tapi batal gara-gara kata 'Gaje'.


"Gaje gimana maksud lo? Gue jelas marahin dia kok." Sombong Jovas.


"Kenapa harus dimarahin? Emang dia siapa lo?" Selidik Devi kepo.


"Cewek gue!" Ungkap Jovas dengan percaya diri.


Devi ternganga, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar. "Serius itu cewek lu? Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku." Nyinyir Devi.


Jovas agak kelabakan, tapi dengan cepat ia tepis kecurigaan Devi. "Ya seriuslah, makanya gue marah kemarin dia kepergok jalan sama cowok lain."

__ADS_1


Devi mengangkat satu alis, "Hmm... Masa sih? Perasaan gue lihat lu juga gandengan sama cewek lain. Kayaknya iya deh, coba gue cek galeri foto gue bentar." Ujar Devi, lalu dengan cepat membuka ponselnya dan memastikan jepretannya kemarin menampakkan wajah Jovas serta gebetannya.


Jovas merebut ponsel Devi, awalnya ia tidak percaya dengan perkataan Devi, tapi begitu melihat foto dalam ponsel cewek itu memang ada potret dirinya dan Bella, ia lany terkejut dan merinding. "Buset, segitunya lu stalkerin orang sampe gue juga kena imbasnya."


Devi merebut balik ponselnya lalu tak acuh membuang muka. "Nggak ada urusan sama lu, huh!"


"Hapus nggak tuh foto! Gue nggak terima orang main curi foto gue." Jovas menyentuh pundak Devi agak kasar, tapi Devi menggeliat agar bisa mengelak.


"Ogah, ini koleksi pribadi gue. Lu nggak berhak perintah gue." Tolak Devi tegas.


"Gue juga punya hak nggak berada dalam koleksi hp lu. Hapus nggak atau gue laporin ke Manda kalau lu buntutin dia." Ancam Jovas.


Telinga Devi langsung panas mendengar ancaman itu, ia segera melirik Jovas dan merubah raut wajahnya menjadi lebih bersahabat. "Jangan dong hehe... Iya deh gue hapus ntar. Eh, tapi kalau lu laporin ke dia, gue juga bisa lapor balik kalau lu juga ngikutin dia diam-diam." Seru Devi, tiba-tiba dia bisa jadi pintar dan penuh akal.


Jovas sedikit kelabakan, ia tak menyangka dituding balik secepat itu. "Apa salahnya ngikutin cewek gue sendiri. Lu yang nggak bener, atas dasar apa lu buntutin dia!"


Devi menatap licik ke arah Jovas, "Lu kira gue percaya kalau dia cewek lu? Jelas-jelas cewek di sebelah lu itu lebih mesra, gue rasa lu yang keganjenan ngejar dia kan?"


Jovas to the point demi menghindari interogasi Devi.


"Cowok kulit pucet pula, bilang aja lu sirik, kulit lu dekil." Sewot Devi yang tak terima Seo Jun dijelekin.


Jovas memutar bola matanya, "Whatever, gue cuma nawarin sekali, kita kerjasama atau jalan sendiri-sendiri. Deal or not?"


Devi mengernyitkan dahi, tawaran yang terdengar menggiurkan tetapi ia belum tahu tujuan Jovas yang sebenarnya. Tapi kalau dipikir-pikir lebih baik dua kepala yang bekerja, itu akan mempermudah kerjaan Devi juga.


"Oke deal...." Devi menjulurkan tangannya sebagai bentuk persetujuan kerjasama, dan Jovas pun menerimanya.


⏳⏳


Manda melirik ke arah Seo Jun yang berdiri menatap rumah sakit, kali ini Manda sudah tahu kesulitan Seo Jun dan tak bisa menutup sebelah mata. Walaupun agak takut-takut, Manda memberanikan diri meraih tangan Seo Jun untuk digenggam.

__ADS_1


Seo Jun terkesiap, ia melirik tangannya yang kini sudah digenggam Manda. Tatapannya berpindah melihat wajah Manda, terlihat senyuman gadis itu memesona dan anehnya membuat Seo Jun merasa tenang.


"Lets go." Seru Manda kemudian mereka berjalan memasuk rumah sakit dengan tangan saling bertautan.


Andai dari kemarin seperti ini, aku nggak perlu sembunyi di toilet. Gumam Seo Jun kegirangan dalam hati.


"Nanti aku kenalin sama ayahku, kemarin aku sudah sempat cerita, dia ingin ketemu kamu." Seru Manda, ia agak kikuk karena sedari tadi hanya diam bergandengan tangan.


"Okay." Jawab Seo Jun singkat, ia tak menyangka Manda sudah menceritakan tentangnya. Andai kemarin ia sedikit lebih berani, mungkin hari ini menjadi pertemuan kedua mereka.


Orang-orang yang berpapasan dengan Manda pasti melirik antusias dan salah paham, Manda yakin seratus persen dari mereka pasti mengira ia dan Seo Jun adalah kekasih. Lagipula mereka terlalu mencolok, datang ke rumah sakit dengan bergandengan tangan.


Sesampainya di depan ruang perawatan ayahnya, Manda melepaskan pegangan tangan. Seo Jun pun tidak bicara apapun, ia sibuk mengontrol debaran jantungnya. Ia melirik sekilas pada Manda yang berdiri di sampingnya.


Apa dia tidak merasa canggung? Gumam Seo Jun heran dengan sikap tenang Manda.


"Ayah, aku datang." Ujar Manda pelan sembari membuka pintu. Senyumnya yang lebar itu seketika terkatup saat mendapati ruangan yang kemarin masih ditempati ayahnya telah kosong.


"Eh?" Gumam Manda singkat, ia masih bingung apa yang terjadi.


"Where is your father?" Tanya Seo Jun ikut bingung.


Manda menggeleng pelan, "I don't know." Jawab Manda singkat kemudian ia segera berlari membuka pintu toilet dalam ruangan itu, tetap saja ia tak mendapati apapun di dalam sana.


"Ayah, apa yang terjadi padamu? Maafkan aku ayah." Tiba-tiba Manda merasa sangat bersalah telah meninggalkan ayahnya begitu saja, kemarin saking paniknya ia tak sempat mampir untuk berpamitan.


Sekarang Manda sungguh ketakutan, ia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya lalu ia menjadi sebatang kara.


"Tidaak!" Pekik Manda histeris membuat Seo Jun segera berlari mendekapnya.


⏳⏳⏳

__ADS_1


__ADS_2