
Seo Jun terpaku sejenak mendengar teriakan Devi yang ngotot membeberkan pembenaran atas keteledoran yang ia lakukan. Sebenarnya Seo Jun tak bisa bersikap dingin pada orang, apalagi terhadap wanita, namun jika sudah sekali mengecewakannya maka akan lain cerita. Si Oppa itu akan kehilangan respek pada orang tersebut, sama seperti yang terjadi pada Sofie lalu sekarang dialami Devi.
“Sudahlah, jangan bikin keributan di tempat umum. Aku mau lewat, jangan halangi jalan orang.” Ujar Seo Jun meminta jalan pada dua gadis yang penuh semangat membara menghadangnya.
Devi terpaksa membuka jalan sehingga ada sedikit celah untuk Seo Jun lewat, hanya saja Sofie tetap keras kepaa berdiri dan membiarkan Seo Jun menabrak pundaknya karena tak bisa menghindar. Sofie berbalik kemudian sigap bersandar di etalase dan memandang pria tampan di sampingnya tanpa berkedip.
Seo Jun risih dipelototi seperti itu, seakan dia adalah santapan lezat yang siap dilahap. Namun ia memilih tidak bereaksi dan segera meminta ponselnya kepada si pemilik konter. Setelah memeriksa sekilas dan yakin bahwa ponselnya sudah tidak ada kendala, Seo Jun tersenyum ramah kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda terima kaasih pada pemilik konter itu.
“Oppa, tunggu. Aku mulai bekerja hari ini, jadi kemanapun kamu selama liburan di Indonesia akan ditemani olehku.” Devi bergegas menghadang Seo Jun ketika pria itu berbalik.
Tak mau kalah, Sofie pun menghadang persis di samping Devi berdiri, dari tatapan dan raut wajahnya yang sudah putus urat malu, iapun ikut bersuara. “Oppa, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Sebagai bentuk tanggung jawabku, aku akan traktir kamu keliling Bali. Gimana?” Celetuk Sofie spontan, tanpa berpikir panjang akan reaksi Reagan ketika mendengarnya.
Reagan yang saat itu berdiri tak jauh dari Sofie pun segera menghampiri dan menarik lengan Sofie, namun dengan sewot Sofie menyingkirkan tangan pria itu dari lengannya.
“Beb, lu sadar nggak sih? Barusan lu nawarin tur gratis ke orang. Bisa bangkrut Bandar kalau dia oke.” Protes Reagan ketus.
Sofie hanya mendelik lalu mendorong Reagan agar menjaga jarak dengannya, “Lu kali yang bangkrut, bokap gue tajir melintir, hanya biayain satu orang liburan doang mah cuman keluarin secuil uang bokap.” Sombong Sofie.
Seo Jun tak mengerti dan tak menaruh perhatian lebih pada apa yang ditawarkan Sofie, ia pun meneruskan langkahnya keluar dari kerumunan sesak yang diciptakan orang-orang yang penuh ambisi padanya.
__ADS_1
Devi nyaris menangis saking galaunya melihat sikap dingin Seo Jun. Ia tak menyangka pria itu akan semarah itu. “Oppa, aku bersungguh-sungguh! Kenapa kamu tidak punya perasaan? Aku akui semua memang salahku, tapi aku tidak pernah sengaja menelantarkanmu! Aku tahu kecerobohanku membuatmu kesusahan bertahan di kota yang asing bagimu, tapi aku pun mencarimu siang malam. Aku juga tersiksa karena kesalahanku, dan Moon pun siap memberikan sanksi tegas padaku. Aku siap menerima semua itu asalkan kamu memaafkanku!” Teriak Devi dalam bahasa Korea. Pekikan penuh kepasrahan saking ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi kerasnya hati Seo Jun.
Seo Jun berhenti melangkah, ditatapnya wajah Devi yang tampak akan menangis. Ketika Seo Jun tidak mendapati Devi di bandara, ia memang terombang ambing layaknya layangan putus yang terseret angin, ke sana kemari
tidak ada kepastian. Hingga ia bertemu dengan Sofie lalu berakhir pada Manda yang membuatnya nyaman. Hanya seorang Manda saja sudah cukup menemani bagi Seo Jun. Pria itu larut dalam pikirannya, ia harus membuat keputusan. Memberikan Devi kesempatan atau tidak sama sekali. Tetapi jika ia menerima Devi, itu berarti waktunya bersama Manda akan terganggu. Sampai pada pikiran itu, tiba-tiba Seo Jun kebingungan. Untuk apa ia berpikir sejauh itu? Apa dia sudah mulai merasakan sesuatu yang spesial pada Manda?
***
Manda berdiri menatap Seo Jun dari kejauhan sambil geleng kepala. Lagi-lagi pria itu menimbulkan perhatian sekitar dengan memancing emosi seorang gadis yang berteriak lantang padanya. Entah apa yang diumpatkan gadis itu, yang pasti Manda bisa merasakan emosinya hanya dengan melihat dan mendengar ekspresi gadis itu.
Manda menoleh ke sekeliling, para pengunjung yang kebetulan berjalan melintasi konter itu terhenti dan membuat lingkaran mengerumuni Seo Jun. Manda bahkan kesulitan mengintip Seo Jun lantaran terhalang oleh punggung para penonton. Gadis itu berjinjit agar bisa melihat namun tetap saja gagal.
Baru beberapa langkah, ponsel Manda berbunyi. Ia mengernyitkan dahi begitu mengetahui nomor tak dikenal yang menghubunginya. Perasaan Manda, ia begitu ketat merahasiakan nomor ponselnya, hanya kalangan terdekat
yang tahu. Tepatnya hanya ayah dan sahabatnya yang tahu, namun nomor yang masuk sekarang bukanlah nomor yang tersimpan dalam kontak ponsel. Meski demikian, Manda tetap menerima panggilan itu dengan sedikit ragu.
“Halo?” Ujar Manda dengan suara sedikit pelan.
“Selamat siang, nona Manda. Ini dari pengawas penjara, ayah anda saat ini mengalami sakit jantung. Dia meminta kami menghubungi anda untuk menjenguknya.” Ujar suara seorang laki-laki yang menelpon Manda.
__ADS_1
Manda terguncang mendapati kabar itu, tangannya pun mulai gemetaran. “Lalu sekarang ayah saya dirawat di mana pak?” tanya Manda tergesa-gesa.
“Di rumah sakit tentara, di jalan X. Waktu jenguk anda hanya sampai jam lima sore ini.” Suara bariton pria itu mengingatkan Manda bahwa ia hanya punya kesempatan kurang dari dua jam dihitung sejak sekarang.
Manda melirik jam di layar ponselnya setelah perbincangan singkat via telpon itu berakhir. Jarak rumah sakit dari Mall ini ada di pertengahan, sebenarnya tidak memakan waktu lama jika jalanan lenggang. Namun jika ia tidak beranjak dari sini sekarang juga, kecil harapan ia sampai di rumah sakit tepat waktu. Manda menatap kerumunan di depan yang belum bubar, ia menggigit bibir bawahnya, bingung harus berbuat apa sekarang.
“Ayahku hanya ada satu, jika aku terlambat datang, aku pasti menyesal seumur hidup.” Ucap Manda mantap, kemudian menganggukkan kepala. Langkah kakinya mantap mendatangi kerumunan yang masih padat itu, Manda
seolah bersinar ketika menyibak orang-orang yang menghalangi jalannya menuju si oppa yang terjebak.
Begitu sosok Manda terlihat oleh Seo Jun, pria itu tersenyum lebar menyambutnya. Seolah menunjukkan dengan sombong bahwa pahlawannya muncul menyelamatkannya. “Manda ….” Pekik Seo Jun girang.
Manda yang awalnya berjalan penuh percaya diri pun langsung terhanyut perasaan gara-gara panggilan itu. Dia manggil namaku? Baru kali ini dia manggil namaku … Dengan lembut pula. Batin Manda senang, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya agar kembali pada kenyataan.
Sementara itu Devi dan Sofie dengan kompak menatap tajam dan sewot pada gadis yang muncul tiba-tiba dan berpotensi menjadi saingan berat mereka.
***
Gimana? Seru kan guys? Ada yang bisa nebak kelanjutannya gimana? Haruskah kita memberi Devi kesempatan? Hehehe ^^
__ADS_1