
Seo Jun tertawa kecil, ia pun mulai meneguk jatahnya. Mereka mulai menghabiskan satu botol … Dua botol … Dan entah bagaimana ceritanya, dua orang yang berlainan jenis serta minum bersama dalam satu ruangan itu berakhir di atas ranjang. Antara tepar dan mabuk, mereka terkapar di atas sana.
Keesokan harinya….
“Aaarrggghhh!” Pekikan kencang mengawali hari yang sudah terlanjur siang. Manda shock bukan main ketika
mendapati dirinya tertidur satu ranjang bahkan di bawah selimut yang sama dengan Seo Jun. Pria itu bahkan tidak terguncang sama sekali meskipun teriakan Manda senyaring itu. Seo Jun masih tertidur pulas dan sesekali terdengar suara ngoroknya.
Kesadaran Manda belum sepenuhnya terkumpul, ia memegangi kepala yang terasa berputar-putar hingga berat untuk bangun. Manda bergegas menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, jantungnya nyaris meloncat keluar saking kaget dan takut telah terjadi sesuatu tadi malam.
“Keperawananku?” Pekik Manda kelabakan, namun setelah melihat kondisi tubuhnya di balik selimut, mulutnya seketika bungkam. Entah dirinya yang terlalu lebay atau memang wajar mencemaskan keutuhan harga dirinya, tetapi hati Manda kembali lega saat mendapati pakaiannya masih utuh membungkus tubuhnya dan tidak ada keanehan fisik pula.
“Syukurlah.” Gumam Manda menghela napas lega. Ia melirik Seo Jun yang juga masih mengenakan jasnya, Manda nyengir dan bergidik melihat si oppa tidur dengan pakaian berlapis itu. Andai Manda yang seperti itu, dijamin ia tidak akan bisa tidur selelap itu karena tak bebas bergerak.
“Eh tunggu, apa benar nggak ada yang terjadi?” Manda menakuti dirinya sendiri, pasalnya ia belum mengingat betul
kejadian tadi malam ketika Seo Jun mengajaknya minum dan ia mengangguk setuju. Bergegas Manda beranjak dari ranjang kemudian berlari ke TKP (tempat kejadian perkara) mabuk-mabukan semalam.
Manda memegangi kepalanya yang terasa pusing namun dipaksakan berlari serta fokus mengingat kejadian malam itu. Bola matanya memandangi seisi ruangan beserta sudut-sudutnya, kondisi ruang tamu yang seperti kapal pecah. Botol kosong bekas minuman alkohol itu beberapa berserakan di lantai. Manda mendekati pusat kapal pecah itu lalu merapikan umpulan botol sembari menghitung berapa banyak yang mereka habiskan.
“OMG… Habis tujuh botol? Dari selusin ludes segini?” Pekik Manda antara percaya atau tidak, betapa ganasnya mereka menghabiskan minuman itu. Tetapi rasa pusing bahkan tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya itu menguatkan fakta bahwa Manda dan si oppa memang menghabiskan minuman alkohol sebanyak itu.
Manda memukul pelan kepalanya, terus memaksa mengingat semuanya. Ya, semuanya tanpa ada yang tertinggal. Ia mencoba merunutkan kronologinya, “Dia ngajak aku minum trus aku iyain, trus dia kasih aku satu gelas suruh nyicipin, trus aku minum, trus dia tanya enak nggak, trus aku bilang iya. Trus dia ketawa dan ikut minum, trus habis sebotol, dua botol, trus ….” Kata terus yang nyaris sepanjang gembong kereta itu terjeda begitu Manda mengingat sebuah aib yang dilakukannya.
__ADS_1
Bola mata Manda membulat besar, ia menutup wajahnya lalu berteriak kencang. “Aarrrghhh….”
Flashback tadi malam….
“Oppa, lanjut lagi minum.” Pinta Manda yang sudah cegukan saking banyaknya minum. Ia terbawa suasana sakit hati dan sekalian saja melampiaskan dengan minum sepuasnya, mumpung ada di tempat yang aman dan sekiranya jika tumbang maka ia tidak terluntang lantung di jalan.
Seo Jun tidak mengerti apa yang dikatakan Manda, tapi ia hanya menebak bahwa gadis itu masih ingin meneguk
minuman itu. Seo Jun menurutinya, ia pun membuka botol ke-empat lalu menuangkan ke gelas Manda. Semenjak kematian orangtuanya, Seo Jun belum sempat melampiaskan rasa sedih, marah dan tak ikhlasnya dengan minuman ini. Itulah sebabnya ketika mulai frustasi dengan kelakuan Moon yang protektif, Seo Jun sangat ingin minum soju dan berharap perasaannya bisa lega setelah itu. Awalnya ia berniat minum seorang diri, tetapi saat melihat Manda yang sakit hati bertemu mantan yang mengkhianatinya, ia pun jadi prihatin dan mengajaknya berbagi rasa.
Manda tertawa seorang diri, kesadarannya mulai tak terkontrol dan di bawah pengaruh efek alkohol. Ia menceracau
dan sesekali berteriak seperti orang marah, dan Seo Jun yang masih sadar hanya tersenyum geli melihatnya. Ia pun tak ingin bertanya tentang apa yang sedang Manda umpat, yang jelas gadis itu pasti mengeluarkan segala uneg-unegnya.
“Dasar cowok mata keranjang! Dasar teman palsu! Teman nikung teman, Bella… Aku benci kamu! Jovas… ha ha ha apalagi kamu, aku sangat benci!” Pekik Manda tak karuan lalu tertawa sendiri, ia merebut botol soju dari tangan Seo Jun kemudian minum langsung dari botolnya.
Agak lama panggilan itu baru tersambung, Seo Jun mendengar suara gadis di seberang itu agak serak, ia yakin
gadis itu sudah tertidur dan panggilan itu membangunkannya.
“Kamu sudah tidur? Apa aku mengganggumu?” Tanya Seo Jun pelan.
“Tidak, aku barusan baring di kasur. Oppa, akhirnya kamu menghubungiku.” Lirih Moon dengan suara serak. Demi bisa bicara dengan Oppa yang sudah dirindukannya, ia rela sekalipun tidak tidur dan harus berbohong bahwa ia belum mengantuk. Moon sangat mengharapkan kabar dari Seo Jun di setiap waktu namun ia sadar hal itu mustahil karena ia hanya dianggap sebagai sepupu yang manis. Seo Jun tidak tahu betapa menderitanya Moon
__ADS_1
mengharapkan panggilan itu masuk, ia menunggu bahkan hingga ketiduran beberapa malam lalu.
Seo Jun tersenyum seringai, ia jelas tahu Moon sedang berbohong dan rasa kecewanya muncul tak bisa dipungkiri. Orang kepercayaannya ternyata tak beda dengan yang lain, penuh kepalsuan dan hanya baik untuk menjilatinya. Kebohongan yang tak akan diakui meskipun terbukti benar, dan Seo Jun akan mengetes Moon sekarang.
“Untuk apa kamu mengirim Devi sebagai mata-mata?” Tanya Seo Jun tegas.
Moon terkesiap, ia tak menyangka akan ketahuan secepat itu. saking kagetnya hingga ia tidak tahu harus memberi
jawaban apa, jika ia mengaku maka ia akan kehilangan respek dari Seo Jun tapi jika ia ketahuan berbohong, bukankah hasilnya sama saja?
“Moon?” Seo Jun memanggil lagi untuk menagih jawaban.
Moon menggeleng cepat, “Ah, tidak. Dia hanya mengeluh tidak diterima olehmu, dan aku memintanya mencoba membujukmu lagi. Siapa tahu kamu butuh bantuan dia selama di sana.” Jawab Moon lirih.
Seo Jun nyengir, kini ia tidak bisa menutupi rasa kecewanya. “Dia tidak membujukku tapi menguntitku, memotret apapun yang kulakukan lalu mengirim padamu termasuk mengirimimu foto gadis yang bersamaku.” Ujar Seo Jun tegas.
Moon ketakutan hingga tak bisa berkata-kata, dalam keheningan mendadak itu tiba-tiba terdengar suara Manda
yang merengek manja dan membuat Moon mengernyit penasaran.
“Oppa… Oppa… ha ha ha… I lov….”
Moon semakin kesal karena tiba-tiba panggilan itu terputus hingga membuatnya nyaris mati penasaran. Seo Jun bersama seorang wanita selarut malam ini dan wanita itu terdengar manja lalu Seo Jun memutuskan panggilan. Moon merasa hampir gila memikirkannya, ia mencoba menghubungi balik Seo Jun tetapi tidak tersambung. Nomor Seo Jun tak aktif lagi, saking kesalnya Moon membanting ponselnya. Hatinya tak karuan berpikir buruk bahwa Seo Jun sedang bermesraan dengan wanita bernama Manda itu.
__ADS_1
***
Ada yang tahu Manda mau ngomong apa ya?