
"Tua bangka yang sudah bosan hidup. Berani sekali kau menjebakku," kata orang itu sambil menahan amarah.
"Hemm, kenapa tidak berani? Kau tahu? Semua yang terjadi saat ini, sebenarnya sudah aku prediksi dua hari lalu. Karenanya aku sudah menyiapkan segala macam rencana untuk menyambutmu," kata Pengemis Tongkat Sakti tersenyum penuh kemenangan.
Ketua Partai Tujuh Warna itu menggertak gigi. Dia sendiri tidak menyangka pihaknya akan masuk ke dalam jebakan musuh.
Ia merasa menyesal. Sayangnya penyesalan itu sudah tidak ada gunanya. Karenanya dia tidak mau berpikir macam-macam lagi.
"Baiklah, aku rasa kita tidak perlu basa-basi lagi. Rasanya kau pun sudah tahu apa tujuan kedatanganku kemari," katanya setelah ia diam beberapa saat.
"Ya, aku sudah tahu. Dan aku sudah siap untuk itu,"
Pengemis Tongkat Sakti memandang ke arah puluhan orang di depannya itu. Setelah diteliti, ternyata jumlah mereka ada sekitar lima puluh orang.
Lagi-lagi, apa yang dia prediksi benar-benar terbukti!
"Ternyata yang mereka bawa hanya pasukan inti saja," bisi Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Ya, sepertinya begitu. Jumlah mereka juga ada lima puluh orang," sahutnya.
Suasana di depan halaman itu seketika hening. Kedua belah pihak yang terlibat tidak ada yang berbicara. Mereka hanya saling pandang satu sama lain sambil mengukur kekuatan musuhnya.
Diam-diam, Ketua Partai Tujuh Warna yang mempunyai julukan si Dewa Tiga Senjata itu mengeluh.
Setelah kini, dirinya berhadapan langsung dengan pihak musuh, ia sendiri jadi tidak mempunyai keyakinan penuh akan meraih kemenangan.
"Ketua, siapa dua orang itu?" tanya orang di sisinya sambil memandang kepada Zhang Fei dan Kai Luo.
"Aku tidak tahu. Tapi mereka bukanlah lawan yang mudah. Kau harus hati-hati, Setan Kilat," bisiknya kepada orang yang berbicara tersebut.
Setan Kilat adalah Wakil Ketua Partai Tujuh Warna. Walaupun usianya baru menginjak lima puluh tahun, tapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.
Terutama sekali kemampuan dalam hal ilmu meringankan tubuh.
Konon katanya, ia mampu bergerak cepat seperti kilat menyambar. Sehingga dalam dunia persilatan pun, jarang ada yang mampu mengimbanginya. Kecuali hanya mereka yang merupakan tokoh angkatan tua saja.
"Baik, Ketua. Lalu, kapan kita akan memulai semua ini?" tanya Setan Kilat lebih lanjut.
"Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulainya,"
__ADS_1
Setan Kilat mengangguk. Dia kemudian memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk bersiap memulai pertempuran ini.
Sementara di pihak lain, selama keduanya berbicara, diam-diam Pengemis Tongkat Sakti juga telah memberikan isyarat kepada semua anggota seniornya untuk bersiap.
Orang tua itu sudah bertekad, pihaknya tidak akan menyerang kalau musuh belum memulai. Karena alasan itulah, sejak tadi ia dan orang-orang hanya diam menanti.
"Serang!"
Si Dewa Tiga Senjata berteriak dengan sangat lantang. Suara teriakannya membawa tenaga getaran yang menusuk gendang telinga. Walaupun murid senior Partai Pengemis sudah mempersiapkan diri, tapi tak urung beberapa dari mereka ada juga yang terpengaruh oleh getaran suara barusan, sehingga mereka merasakan sakit di bagian gendang telinganya.
Berbarengan dengan teriakan tersebut, Pengemis Tongkat Sakti juga sudah menyuruh semua anggotanya untuk menyambut serangan musuh.
Secara serempak, lima puluh orang murid senior sekaligus beberapa petinggi Partai Pengemis itu, juga langsung mengambil tindakan keras.
Dalam waktu yang sangat singkat, benturan nyaring antar senjata sudah mulai terdengar. Percikan api membumbung tinggi ke angkasa. Diiringi dengan suara teriakan untuk menakuti musuh-musuhnya.
Di tengah malam yang sepi sunyi, di bawah langit yang gelap karena cuaca mendung, kini telah berlangsung sebuah pertempuran yang pastinya akan berjalan sengit.
Para murid senior Partai Pengemis, langsung memilih lawannya masing-masing. Walaupun mereka hanya menggunakan tongkat bambu hijau, tapi karena sebelumnya tongkat itu sudah disalurkan tenaga dalam, maka tentu saja, tidak mudah bagi musuh untuk mematahkannya.
Sementara di sisi lain, terlihat di tengah-tengah halaman sana, ada Zhang Fei yang sudah mulai terlibat dalam pertarungan. Anak muda itu kini sedang melawan empat orang musuh sekaligus.
Walaupun ia dikeroyok oleh empat orang, tapi nyatanya, tidak terlihat sedikit pun bahwa anak muda itu kewalahan. Malah sebaliknya, Zhang Fei tampak menikmati pertarungannya tersebut.
Tiga orang murid senior menyerang menggunakan senjatanya masing-masing. Tiga batang golok panjang terus berkelebat tanpa pernah berhenti.
Petinggi yang ikut terlibat, tampak menggunakan senjata berupa pedang kembar.
Di antara empat musuh, tentu saja yang paling lihai adalah di petinggi itu sendiri. Sudah beberapa kali pedang kembarnya hampir menyambar tubuh Zhang Fei.
Untunglah dia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang bisa diandalkan. Sehingga ia bisa menghindari serangan tepat pada waktunya.
Belasan jurus sudah berlalu kembali. Tapi sampai sekarang, Zhang Fei belum juga mengeluarkan Pedang Raja Dewa.
Hal itu bukan sengaja ia lakukan karena memandang rendah musuh. Tidak, bukan itu alasannya.
Melainkan karena empat lawan, terutama sekali si petinggi, sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk Zhang Fei mencabut senjatanya.
"Hei, berikan aku kesempatan untuk mengambil nafas," teriaknya di tengah-tengah pertarungan yang sedang berjalan sengit itu.
__ADS_1
Bersamaan dengan ucapannya, ia segera mengumpulkan tenaga sakti dan langsung menyalurkannya lewat serangan pukulan tangan kosong.
Wutt!!!
Segulung angin berhawa panas memburu ke depan. Disusul kemudian dengan serangan susulan yang lebih ganas lagi.
"Pukulan Tanah Merah!"
Empat orang musuhnya tercekat. Karena tidak mau mati konyol, akhirnya mereka berlompatan ke sana kemari untuk menghindari pukulan yang berbahaya itu.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Zhang Fei pun segera melompat ke tengah udara. Dia langsung mencabut Pedang Raja Dewa dari sarungnya!
Sringg!!!
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wushh!!! Wutt!!!
Tubuhnya meluncur deras ke depan sana. Ia langsung mengeluarkan salah satu jurus ampuh dari rangkaian Kitab Dewa Pedang.
Bayangan pedang langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Empat orang musuh yang kini sudah bersatu kembali, seketika segera merasakan adanya tekanan dari hawa pedang yang teramat pekat.
Zhang Fei tidak memberikan waktu longgar bagi mereka. Dia terus bergerak cepat sambil mengincar seluruh tubuh lawannya.
Dalam sepuluh jurus, satu orang murid senior telah tewas karena lehernya ditebas pedang pusaka itu.
Tidak sampai di situ saja, ia kembali melanjutkan lagi usahanya dengan menyerang musuh yang tersisa. Pedang Raja Dewa terus berkelebat di tengah udara.
Kilatan cahaya tajam menerpa. Pandangan mata mereka menjadi kabur. Tidak berapa lama kemudian, dua orang murid senior sisanya tiba-tiba berteriak nyaring.
Mereka melompat mundur ke belakang. Di beberapa bagian tubuhnya telah tercipta luka tebasan pedang yang cukup dalam.
Darah segar mengucur cukup deras. Wajah mereka pusat paci.
Keduanya langsung menyalurkan hawa murni dan menotok beberapa urat penting untuk menghentikan darah yang terus keluar itu.
Sementara di sisinya, saat ini Zhang Fei justru sudah bertarung sengit melawan petinggi dari Partai Tujuh Warna.
Tiga batang pedang yang tajam terus beradu hingga menimbulkan bunyi nyaring menusuk telinga.
__ADS_1