Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lawan Tangguh


__ADS_3

Zhang Fei menghela nafas lega. Sudah dua kali Malaikat Maut menghampiri dirinya. Untunglah langit masih memberikan kepercayaan hidup, sehingga dia masih bisa selamat dari kematian.


Pendekar muda itu melompat mundur ke belakang sejauh tiga langkah. Keringat dingin terlihat sudah mengucur membasahi wajah dan pakaiannya.


Sungguh, walaupun dia sudah sering bertarung, tapi rasanya pertarungan yang baru saja dia alami, adalah sebuah pertarungan paling menegangkan.


Sampai detik ini, Zhang Fei masih merasakan lututnya sedikit lemas. Apabila dia mengingat serangan yang dilancarkan oleh anggota Dua Malaikat Tanpa Kehidupan, ia merasakan kengerian tersendiri.


"Bagus sekali. Rupanya walaupun sudah lama tidak turun tangan, kemampuan si Raja Tombak masih mengagumkan," kata Walikota Loo Ji Kun memuji kehebatan orang tersebut.


Sementara orang yang dipuji, dia justru tidak memberikan respon apapun. Jangankan membuka mulut, malah menoleh ke arahnya pun tidak. Seolah-olah dia tidak mendengar pujian barusan.


Sedangkan di sisi lain, Zhang Fei sedikit kaget ketika mengetahui julukannya.


Dari julukan tersebut, dia sudah bisa menakar sampai di mana kehebatannya.


"Tapi tidak malu juga apabila dia dijuluki si Raja Tombak. Kehebatan ilmu tombaknya sungguh jarang menemukan tandingan," ujarnya memuji pula.


Saat ini, si Raja Tombak masih berada di posisinya. Dia belum lagi menurunkan serangan. Seolah-olah dirinya sengaja memberikan waktu bagi Zhang Fei untuk melakukan persiapan.


Tetapi siapa sangka, pada saat semua orang sedang meningkatkan kewaspadaannya, tiba-tiba dari arah belakang sana terlihat ada satu bayangan yang meleset bagaikan kilat.


Belum lagi Zhang Fei melihat sosoknya dengan jelas, tahu-tahu dia sudah merasakan ada hawa golok yang sangat menekan. Hawa golok itu ibarat pisau yang dapat menggores kulit setiap saat.


Dengan gerakan cepat, Zhang Fei melayang mundur ke belakang. Tapi sebelum kakinya menyentuh tanah, dari arah depan tampak ada sebatang golok yang siap menembus jantungnya.


Wutt!!! Trangg!!!


Benturan keras terdengar. Percikan api membumbung tinggi ketika dua logam itu bertemu di tengah jalan.


Setelah terjadinya benturan, Zhang Fei langsung merasakan tangan kanannya ngilu dan sedikit panas.


'Ternyata bukan hanya ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tenaga dalamnya juga sudah hampir mencapai tahap sempurna. Dua Malaikat Tanpa Kehidupan benar-benar lawan yang tangguh. Aku tidak boleh gegabah saat menghadapinya,' batin anak muda itu berkata sambil memandangi musuh yang berdiri di hadapannya.


Wushh!!!

__ADS_1


Orang itu bergerak lagi. Kali ini, dia langsung menyerang secara beruntun menggunakan jurus goloknya yang sangat dahsyat.


Golok itu berkelebat ke sana kemari. Kilatan warna kehitaman mulai menyelimuti tubuh Zhang Fei. Cahaya golok terus bergerak. Mirip seperti penari yang sudah handal.


Zhang Fei melayani serangan lawan menggunakan jurus Pedang Penakluk Jagad. Benturan keras yang tak kunjung berhenti terus terdengar mewarnai pertarungan di antara mereka.


Orang itu terlihat sedikit kesulitan setelah Zhang Fei mengeluarkan salah satu jurus kelas atas miliknya. Goloknya tidak bisa mencapai target sasaran. Setiap kali golok tajam itu akan menyentuh tubuh Zhang Fei, selalu saja ada sebatang pedang yang akan merintanginya.


Pertarungan di antara mereka sudah berlangsung beberapa jurus lamanya.


"Apakah kemampuan si Raja Golok hanya sampai di sini? Kalau benar, aku sungguh kecewa," Walikota Loo Ji Kun kembali bicara dengan lantang.


Ketika mendengar ucapan tersebut, ekspresi wajah si Raja Golok terlihat mengalami perubahan. Ia seperti kesakitan, seolah-olah ada sebatang cambuk yang telah memecutnya dengan sangat keras.


Detik itu juga, gerakannya langsung berubah. Cahaya golok semakin banyak dan menyilaukan mata. Kesiur angin tajam berdecit menusuk telinga.


Gulungan sinar kehitaman mulai mengurung Zhang Fei semakin rapat. Setelah si Raja Golok meningkatkan kemampuannya, dia merasa sedikit kewalahan.


Untuk menyerang balik dirinya belum mampu. Untuk menghindari serangan, hal itu jauh lebih sulit lagi.


Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!


Srett!!!


Ketika dirinya sedang bertempur sengit. Pada saat itulah dari arah depan, ada sebatang tombak yang melesat bagaikan petir. Belum lagi Zhang Fei menghindar, tahu-tahu mata tombak telah berhasil merobek iga sebelah kirinya.


"Ahh ..."


Sambil melompat mundur mencari posisi aman, anak muda itu juga terdengar mengeluh tertahan. Ia kemudian menoleh ke bagian tubuh yang terluka.


Tampak di sana sudah ada darah segar yang keluar cukup banyak. Rasa perih mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


Zhang Fei segera menyalurkan hawa murni. Niatnya ingin menutup luka supaya darahnya tidak keluar lagi.


Sayangnya hal tersebut tidak berjalan dengan mulus. Sebelum lukanya tertutup, Dua Malaikat Tanpa Kehidupan sudah melesat kembali.

__ADS_1


Kali ini mereka menyerang secara bersamaan!


Zhang Fei tercekat. Rasa percaya dirinya langsung lenyap begitu saja.


Kalau menghadapi satu dari mereka saja sudah sangat sulit, lalu apa jadinya apabila ia harus menghadapi keduanya secara bersamaan?


Dia tidak tahu. Ia tidak berani membayangkan lebih jauh lagi.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Dalam kekagetannya, Zhang Fei masih terus berusaha mengimbangi gerakan lawan. Jurus terakhir dari rangkaian Kitab Pedang Dewa sudah digelar beberapa saat yang lalu.


Biasanya, ketika ia sudah mengeluarkan jurus Murka Pedang Dewa, maka keadaannya akan mengalami perubahan.


Tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk sekarang. Bahkan walaupun dia sudah mengeluarkan sembilan bagian tenaga dalamnya, Zhang Fei masih belum bisa unggul dari Dua Malaikat Tanpa Kehidupan.


Tanpa disadari, pertempuran yang sengit itu sudah mencapai lima puluh jurus. Semakin lama bertarung, posisi Zhang Fei semakin tidak menguntungkan.


Golok dan tombak yang tajam itu sudah beberapa kali menorehkan luka di tubuhnya. Rasa perih semakin menyiksa. Kematian mulai terbayang dalam pikirannya.


Di satu sisi lain, Yu Yuan dan Yin Yin juga terlihat cemas menyaksikan posisi Zhang Fei. Dua gadis cantik itu sebenarnya ingin memberikan bantuan. Dalam hati masing-masing, mereka rela mengadu nyawa demi membantu menyelamatkan nyawa pemuda itu.


Sayang sekali, untuk saat ini tidak ada yang sanggup dilakukan oleh keduanya. Jangankan untuk memberikan bantuan, malah untuk berdiri saja, mereka sudah tidak sanggup lagi.


Selain hanya berdoa dan menggigit lidah, memangnya apalagi yang bisa mereka lakukan saat ini?


Srett!!! Srett!!!


Di arena pertempuran, Dua Malaikat Tanpa Kehidupan kembali berhasil memberikan luka. Zhang Fei memekik nyaring. Ia sampai jatuh bergulingan di atas tanah.


Dari semua lawan yang pernah ia hadapi, rasanya cuma Dua Malaikat Tanpa Kehidupan saja yang mampu membuatnya sampai seperti ini.


Keduanya benar-benar lawan yang tangguh!


"Hahaha ... bocah keparat, apakah sekarang kau percaya akan ucapanku tadi?"

__ADS_1


Walikota Loo Ji Kun tertawa lantang dan penuh kemenangan saat melihat kondisi Zhang Fei yang semakin mengenaskan itu. Kesombongannya telah kembali, rasa percaya dirinya juga sudah muncul lagi.


__ADS_2