Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bersemedi Bersama


__ADS_3

Jenderal Qi Guan seketika langsung menoleh meriam mendengar suara tersebut. Begitu melihat ke belakang, ternyata yang berbicara barusan bukan lain adalah Zhang Fei.


Anak muda itu sedang berdiri tegak sambil memandang ke arahnya. Tatapan mata itu memperlihatkan kekaguman yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


Jenderal Qi Guan tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya. Kemudian dia segera berbicara.


"Ucapanmu terlalu berlebihan, Tuan Muda. Aku bukanlah siapa-siapa. Kalau saja tidak ada Empat Datuk Dunia Persilatan dan juga dirimu, mungkin sejak awal aku sudah tewas. Sudah sejak tadi pula, pihak kita akan mengalami kekalahan telak,"


Nada bicaranya terdengar tegas dan dalam. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang menyombongkan diri. Jenderal Guan benar-benar bicara apa adanya.


"Jangan terlalu merendah seperti itu, Jenderal," kata Zhang Fei sambil membalas senyuman tersebut. "Buktinya saja, rencana yang telah kau susun itu benar-benar terbukti ampuh. Jenderal Guan memang tidak mengecewakan,"


Zhang Fei tertawa. Jenderal Guan juga sama.


Entah kenapa, walaupun kedua orang itu baru bertemu pertama kali, tapi mereka merasakan ada hal lain yang sulit untuk dijelaskan.


Seolah-olah telah terjadi kedekatan atau jalinan perasaan sahabat yang sangat dekat.


"Jenderal, aku harus mengobati dulu luka ini. Maaf tidak bisa bicara berlama-lama denganmu," ujar Zhang Fei menyudahi percakapan di antara keduanya.


"Oh, apakah luka itu amat serius?" tanya Jenderal Guan sambil menatap ke ulu hati Zhang Fei.


Dia baru menyadari akan hal tersebut. Rupanya Zhang Fei mengalami luka yang menurutnya cukup parah.


"Ah, tidak. Hanya dengan bantuan hawa murni saja, aku rasa luka ini sudah sembuh,"


"Baiklah. Kalau begitu silahkan, aku juga akan membereskan dulu semua ini,"


"Terimakasih. Aku pamit,"


Setelah memberikan hormat, Zhang Fei langsung segera pergi dari sana. Dia menuju ke hutan tempat di mana Empat Datuk Dunia Persilatan berkata.


Pada saat dirinya sampai, ternyata dugaannya memang tidak salah. Di sana Empat Datuk Dunia Persilatan sedang sama-sama melakukan semedi.


Mata mereka terpejam. Empat orang tua itu mengambil posisi bunga teratai. Dengan keadaan seperti itu, rasanya kalau ada ancaman di sekitar pun, mereka tidak akan bisa mengetahuinya. Sebab kalau sedang demikian, itu artinya orang yang dimaksud sudah melupakan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Karena tidak mau sampai terjadi apa-apa, akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk berjaga di tempat itu.


Ia duduk di bawah sebatang pohon rimbun. Sisa arak beberapa waktu lalu segera ia tenggak sampai habis.


Namun baru saja dua kali minum, guci arak sudah kosong.


"Sialan," gumamnya kesal sambil melemparkan botol arak.


Tidak lama kemudian, sekitar lima belas menit sudah berlalu kembali. Pada saat itu, tiba-tiba Empat Datuk Dunia Persilatan membuka matanya hampir secara bersamaan.


Orang yang pertama kali menyadari kehadiran Zhang Fei adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Anak Fei, mengapa kau terlihat sangat kesal?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Aku ingin minum arak, Tuan. Tapi sayangnya arak itu sudah habis,"


"Hahaha ... malang sekali nasibmu," Dewa Arak Tanpa Bayangan tertawa lepas. Tapi bersamaan dengan itu, dia juga segera mengambilkan arak yang ada di depannya, dan langsung di kempar ke arah Zhang Fei.


"Terimakasih, Tuan Kiang," jawabnya sambil menerima guci arak yang dilemparkan.


Karena sekarang semedi Empat Datuk Dunia Persilatan sudah rampung, akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk mendekat ke arah mereka.


Baru saja dia duduk dan akan mengajukan tanya, Orang Tua Aneh Tionggoan malah sudah bicara lebih dulu.


"Keadaan kami sudah lumayan membaik, anak Fei. Kau tidak perlu khawatir soal ini. Hanya saja memang, kalau ingin kembali sembuh total, setidaknya kami harus menutup diri selama kurang lebih dua minggu," katanya dengan nada serius.


Perkataan itu segera mendapat anggukan dari tiga datuk lainnya. Mereka semua tentu saja setuju dengan apa yang diucapkan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan.


Sebab hakikatnya, mereka berempat telah mengalami luka yang hampir sama.


Sementara di sisi lain, Zhang Fei tampak senang mendengar hal tersebut. "Syukurlah kalau begitu. Aku hanya takut kalian terluka oleh para iblis tadi,"


"Walaupun usia sudah tua, tapi kalau bicara soal kemampuan, aku rasa kami masih berani melayaninya," sahut Pendekar Tombak Angin Cao Ping seraya tertawa.


Empat Datuk Dunia Persilatan tertawa lantang. Keadaan di sekitar sana kembali ramai oleh suara tawa mereka.

__ADS_1


Sedangkan khusus untuk Zhang Fei, dia malah tidak dapat tertawa lepas seperti empat orang tua di depannya itu. Dadanya terasa sesak dan sakit apabila ia tertawa lantang.


Sepertinya luka akibat tusukan Jarum Emas milik Nenek Tua Seribu Jarum sudah mulai bereaksi. Sehingga Zhang Fei menjadi tidak bisa bebas dan leluasa.


Tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan mengerutkan kening. Ia merasa aneh karena Zhang Fei tampil tidak seperti biasanya. Lebih daripada itu, wajah pendekar muda tersebut bahkan terlihat mulai memucat.


"Anak Fei, apa yang telah terjadi kepadamu?" tanyanya dengan ekspresi wajah serius.


"Sepertinya luka tusukan Nenek Tua Seribu Jarum mulai bereaksi, Tuan Kai," jawabnya sambil tersenyum getir.


"Apakah datuk sesat itu juga hadir di sini?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan yang juga terkejut mendengarnya.


"Ada, Tuan Kiang. Bahkan aku telah bertarung dengannya,"


"Dan luka tusukan itu, diciptakan olehnya?" tanya Dewi Rambut Putih memastikan kembali.


"Benar, Nyonya Ling," kata Zhang menganggukkan kepala.


"Aneh," Pendekar Tombak Angin juga mengerutkan kening. Dia sendiri merasa heran, kalau benar luka itu diakibatkan oleh Nenek Tua Seribu Jarum, lalu mengapa bekas tusukannya terlihat agak besar? Bukankah jarum yang dia gunakan dalam setiap pertarungannya, adalah jarum yang berukuran sangat kecil?


Hal ini jelas mendatangkan keheranan di benaknya.


Zhang Fei sepertinya menyadari akan hal tersebut. Jadi, sebelum orang lain bertanya lebih jauh, dia segera menjelaskannya duluan.


"Nenek Tua Seribu Jarum rupanya mempunyai sepasang senjata yang diberi nama Jarum Kembar Emas Perak. Aku sendiri cukup terkejut akan hal ini," katanya menjelaskan.


"Apa? Jadi, dia sampai mengeluarkan Jarum Kembar Emas Perak saat bertarung melawanmu?" orang yang pertama kali bereaksi cepat adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Zhang Fei.


"Benar, Tuan Kiang. Kalau tidak begitu, bagaiamana mungkin aku bisa tahu bahwa Nenek Tua Seribu Jarum mempunyai senjata seunik itu,"


Zhang Fei masih bisa membayangkan bagaimana bentuknya dengan jelas. Walaupun bentuk senjata itu sederhana, tapi justru sangat berbahaya.


"Cepat, cepat kemari," kata Orang Tua Aneh Tionggoan dengan ekspresi wajah serius. "Duduk bersila di depanku dan pejamkan matamu,"


Zhang Fei langsung menuruti ucapannya. Ia segera menghampiri Orang Tua Aneh Tionggoan dan duduk bersila di depannya.

__ADS_1


__ADS_2