Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiba di Kotaraja


__ADS_3

Mendengar itu, Tiga Datuk Dunia Persilatan langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Sebelum berbicara lebih jauh, orang-orang tersebut lebih dulu bersulang arak sampai menghabiskan beberapa guci.


Perlu diketahui, bagi para pendekar, bersulang arak adalah salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan. Maka dari itu tidak heran kalau setiap pertemuannya pasti akan ada kegiatan semacam ini.


"Apakah kalian sudah menerima surat yang aku berikan?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan setalah selesai minum.


"Kalau belum menerimanya, bagaiamana mungkin kami bisa datang kemari?" sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Sebenarnya, mengapa Kaisar ingin mengundang kita ke Istana Kekaisaran?" tanya Dewi Rambut Putih merasa penasaran.


"Terkait hal ini, aku sendiri belum tahu," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Tapi menurutku, undangan yang beliau berikan ini masih ada sangkut pautnya dengan peperangan yang berlangsung di perbatasan Timur,"


"Hemm ... sepertinya memang begitu," Pendekar Tombak Angin merasa setuju dengan ucapannya.


"Mungkinkah Kaisar akan memberikan hadiah kepada kita?" tanya Zhang Fei sambil memandang ke arah empat orang tua itu.


"Itu pun bisa jadi," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.


"Ah, sudahlah. Apapun tujuannya, kita tetap harus memenuhi undangan itu," kata Dewa Arak Tanpa menyudahi pembahasan di antara mereka.


Sementara itu, di tengah pembicaraan, tiga orang pelayan tampak berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi makanan.


Setelah meletakkan pesanan di atas meja, mereka segera pergi kembali.


Tiga Datuk Dunia Persilatan langsung menyantapnya dengan lahap. Beberapa saat kemudian, setelah ketiganya selesai makan, obrolan yang tertunda pun segera dilanjutkan kembali.


Mereka mulai membahas keadaan dalam dunia persilatan beberapa waktu belakangan ini. Masing-masing dari mereka memberikan laporannya tersendiri.


Tidak terkecuali dengan Zhang Fei.


Ia menceritakan 'temuannya' saat dalam pengembaraan kepada Empat Datuk Dunia Persilatan tersebut.


"Aih, rupanya kita telah mengalami hal yang sama," kata Dewi Rambut Putih sambil menghela nafas berat.

__ADS_1


"Keadaan semacam ini sebenarnya jauh lebih berbahaya lagi. Aku lebih memilih pihak musuh bergerak secara terang-terangan daripada sembunyi-sembunyi seperti sekarang," sambung Pendekar Tombak Angin setelah selesai minum arak.


"Sudahlah. Walaupun keadaan seolah-olah telah kembali seperti semula, tapi kita semua tetap harus waspada. Karena aku yakin, kalau waktunya sudah tiba, malapetaka yang sebenarnya baru akan benar-benar datang," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan penuh rasa yakin.


"Ya, itu benar. Saat ini, pihak musuh sedang menunggu kita lengah dan terlena. Karena itulah kita tidak boleh menganggap enteng keadaan sekarang," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan kembali.


Percakapan para tokoh dunia persilatan itu terus berlangsung sampai beberapa menit. Setelah matahari sudah lewat dari tengah kepala, mereka memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanannya.


Dewa Arak Tanpa Bayangan berjalan ke arah kasir. Dia langsung membayar semua biaya makan. Setelah selesai, mereka pun segera keluar dari tempat tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


Lima bayangan manusia melesat cepat bagaikan kilat. Baru beberapa detik saja, mereka sudah berada cukup jauh dari rumah makan tadi.


Perjalanan menuju ke Istana Kekaisaran itu dilakukan dengan perasaan gembira.


###


Tanpa terasa sepuluh hari sudah berlalu kembali. Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan kini sudah tiba di Kotaraja.


Ketika tiba di Kotaraja, saat itu waktu sudah masuk sore. Keadaan di sana benar-benar ramai. Malah jauh lebih ramai daripada semua kota yang pernah disinggahi sebelumnya.


Di antara kelima orang itu, yang paling terpana dengan keadaan di Kotaraja adalah Zhang Fei. Seumur hidupnya, baru kali ini saja dia berkunjung ke Kotaraja.


'Akhirnya impianku bisa terwujud,' ucapnya dalam hati.


Sejak dulu, dia sangat ingin sekali berkunjung ke Kotaraja. Zhang Fei ingin menambah pengalamannya, apalagi menurut berita yang sering terdengar, keadaan di Kotaraja itu benar-benar memukau.


Dan sekarang dia percaya bahwa berita tersebut ternyata bukan omong kosong.


Lima tokoh dunia persilatan tersebut berjalan di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang tanpa henti. Jalanan besar itu ramai dipadati oleh pribumi maupun wisatawan yang sengaja datang berkunjung.


Para pedagang yang menjajakan barang dagangannya mulai terdengar. Bau harum masakan yang berasal dari rumah makan mewah segera tercium dengan jelas. Baru arak berkualitas tinggi juga tidak terkecuali.

__ADS_1


Semua pengalaman itu bisa dirasakan oleh setiap orang yang berada di pusat Kotaraja.


Zhang Fei tampak menjilati bibirnya beberapa kali. Sepertinya dia mulai tidak tahan dengan godaan bau arak yang tercium tersebut.


"Tuan Kai, apakah kita akan langsung ke Istana Kekaisaran?" tanya Zhang Fei kepada Orang Tua Aneh Tionggoan yang berada di sisinya.


"Entahlah, anak Fei. Aku ikut yang lain saja," katanya menjawab sambil mengangkat kedua pundak. "Setan arak, bagaiamana? Apakah kita akan langsung menuju ke Istana Kekaisaran?"


"Menurutku tidak usah. Lebih baik sekarang kita istirahat dulu. Biar besok saja kita ke sana nya," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Benar itu, aku rasa yang lain juga merasa lelah," sambung Dewi Rambut Putih.


Mendengar ucapan mereka, seketika Zhang Fei merasa senang. Itu artinya, malam nanti dia bisa berjalan dan melihat-lihat pemandangan malam di Kotaraja ini.


Setelah keputusan ditetapkan, akhirnya mereka segera mencari penginapan yang terdapat di sana.


Karena itu adalah pusat kota, maka untuk mencari sebuah penginapan bukanlah perkara sulit. Baru sebentar saja, mereka sudah menemukannya.


Khusus untuk Zhang Fei, dia tidak langsung masuk ke kamar yang disewa. Ia memilih untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Setelah mengisi perut sampai kenyang, anak muda itu mulai menambah pengalamannya.


Dia ingin berkunjung ke tempat-tempat yang sering dijadikan wisata oleh banyak orang.


Di Kotaraja, tempat wisata memang sangat banyak. Mulai dari wisata pemandangan alam, bangunan bersejarah, atau bahkan wisata-wisata lainnya. Semua itu bisa ditemukan dengan mudah.


Dari mulai matahari tenggelam sampai tengah malam, entah sudah berapa tempat wisata yang dikunjungi oleh Zhang Fei.


Ia benar-benar menghabiskan waktunya untuk menambah pengalaman pribadi.


Setelah tengah malam benar-benar tiba, Zhang Fei segera kembali ke kamar penginapannya. Dia merasa lelah. Tapi rasa lelahnya itu sudah terbayar lunas.


Pengetahuannya tentang berbagai hal secara tidak langsung telah bertambah. Dan hal itu pastinya akan sangat berguna di kemudian hari.


Sekarang Zhang Fei sudah berada di dalam kamar. Rasa kantuknya mulai menyerang tubuh. Baru saja merebahkan diri di atas kasur, dia langsung tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Pagi harinya, setelah selesai membersihkan diri, dia langsung turun ke bawah. Kebetulan di tempat tersebut selain tersedia penginapan, juga ada tempat makan yang cukup mewah.


Di meja makan yang sudah dipesan kemarin, rupanya Empat Datuk Dunia Persilatan sudah berkumpul. Sepertinya mereka sedang menunggu kedatangan Zhang Fei.


__ADS_2