
"Kalau boleh, apakah Jenderal Guan bisa menyebutkan data lengkap itu kepada kami?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Tentu saja, Tuan Kai,"
Jenderal Qi Guan kemudian mengambil sepucuk surat dari balik saku bajunya. Surat itu berdiri tentang informasi yang dimaksud oleh dirinya.
"Musuh yang akan menyerang kemari berasal dari Kekaisaran Zhou. Pasukan yang akan mereka bawa khusus ke daerah perbatasan Timur ini kurang lebih sekitar dua ribu orang. Dengan dipimpin oleh lima orang Jenderal besar yang sudah banyak pengalaman di medan pertempuran,"
"Pasukan tersebut terbagi menjadi lima bagian. Mereka ada yang khusus memegang kendali busur panah, tombak, pedang, golok, dan juga pasukan berkuda. Setiap pasukan tersebut sudah ahli di bidangnya masing-masing. Jadi kemampuan mereka jelas tidak bisa dipandang sebelah mata," kata Jenderal Qi Guan menjelaskan isi surat yang ia dapatkan dari prajuritnya.
Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala beberapa kali. Walaupun sudah mendengar informasi lengkapnya, tapi dari masing-masing belum ada yang berbicara. Sepertinya mereka sedang menunggu Jenderal Qi Guan melanjutkan lagi ucapannya.
"Sedangkan pasukan kita yang ada di sini jumlahnya hanya ada sekitar seribu lima ratus orang. Dipimpin oleh tiga orang Jenderal, dan aku sebagai Kepala Jenderalnya. Walaupun jumlah kita sedikit berada di bawah mereka, tapi aku masih punya keyakinan untuk bisa menang dalam pertempuran nanti,"
"Alasannya karena pertama, aku sudah menguasai daerah sekitar. Kedua, aku juga sudah mempunyai rencana matang untuk menghadapi serangan nanti. Hanya saja yang menjadi kekhawatiranku adalah ..."
Jenderal Qi Guan tiba-tiba berhenti bicara. Dia tidak menyelesaikan ucapannya. Seolah-olah ada perkataan yang tidak enak untuk ia utarakan.
"Adalah apa, Jenderal Guan?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat.
"Aku takut di dalam pasukan musuh nanti, terdapat banyak tokoh-tokoh dunia persilatan yang kemampuannya tidak bisa dianggap enteng. Maka dari itulah, dengan segala maaf, terpaksa aku harus melibatkan kalian dalam peperangan nanti,"
Jenderal Qi Guan sudah mengantongi banyak pengalaman di medan peperangan. Baik itu peperangan yang benar-benar besar sehingga melibatkan puluhan atau bahkan ratusan ribu orang, maupun peperangan kecil seperti yang akan terjadi tiga hari nanti.
Dan dari semua pengalamannya tersebut, ia selalu mendapati dalam setiap peperangan, pasti ada saja tokoh-tokoh dunia persilatan yang ikut terlibat.
__ADS_1
Karena alasan itulah, ia meminta bantuan kepada Ketua Dunia Persilatan untuk menghadirkan juga tokoh-tokoh rimba hijau yang mempunyai kemampuan tinggi.
Kalau masalah menghadapi prajurit saja, mungkin ia masih sanggup mengatasinya. Apalagi pengalaman yang dia miliki sudah tidak perlu diragukan lagi.
Tapi kalau menyangkut tokoh-tokoh dunia persilatan, ia masih ragu. Karena kemampuan prajuritnya, jelas tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang rimba hijau.
Mereka yang hadir kembali menganggukkan kepala. Ucapan Jenderal Qi Guan sangat masuk di akal.
Apalagi di zaman ini, para pendekar bayaran, khususnya pendekar aliran hitam jumlahnya jauh lebih banyak daripada pendekar aliran putih.
"Hal itu sudah pasti, Jenderal Guan. Aku sendiri sangat yakin bahwa dalam peperangan nanti, pasti tidak sedikit tokoh-tokoh dunia persilatan dari Kekaisaran Zhou yang terlibat. Malah kemungkinan besar tokoh yang hadir bukan hanya berasal dari aliran hitam saja, dari pendekar aliran putih pun, aku rasa tidak terkecuali. Karena para pemimpin mereka, pasti akan mengatakan bahwa semua ini demi membela dan memperjuangkan tanah air," gumam Orang Tua Aneh Tionggoan menyampaikan pendapatnya.
Yang lain langsung mengangguk. Mereka pun setuju dengan perkataannya.
"Maka dari itu, Jenderal Guan tidak perlu meminta maaf atau merasa tidak enak terhadap kami. Karena tidak diminta pun, kami pasti akan melibatkan diri dalam peperangan ini," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Dalam hal ini, Kekaisaran Song kita adalah korban. Korban dari kelicikan dan intrik politik dari mereka yang menjadi dalang utamanya. Aku yakin, tujuan dalang utama dibalik layar ini, sebenarnya adalah menyatukan kembali empat Kekaisaran dan menjadi penguasa di dalamnya,"
"Tuan Kiang, apakah dalang utama itu berasal dari aliran putih?" tanya Zhang Fei secara tiba-tiba.
"Tentu saja bukan, anak Fei. Kalau dia memang berasal dari aliran putih, lalu apa gunanya mereka mengadu domba beberapa pihak yang ada dan membuatnya terpecah belah? Dalang utama itu tentu saja berasal dari aliran hitam. Hanya saja, kita belum tahu siapa dia,"
"Benar. Dan aku sendiri merasa kagum kepadanya. Dengan kehebatan dan kecerdasan otaknya, orang itu bisa dengan mudah mengacaukan Empat Kekaisaran," kata Dewi Rambut Putih Giok Ling.
Perlu diketahui, Daratan Tengah (Tionggoan) dulunya menyatu dalam satu kesatuan. Dulu hanya ada satu Kekaisaran besar. Semuanya menyatu dalam satu pemerintahan.
__ADS_1
Tapi seiring berjalannya waktu, Daratan Tengah menjadi terpecah menjadi empat bagian. Walaupun setiap Kekaisaran tidak bisa dikatakan sangat besar, tapi tetap saja, kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing Kekaisaran juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Maka dari itulah, kekacauan di era sekarang benar-benar akan menjadi malapetaka terbesar dan terkelam dalam sejarah Tionggoan.
Keadaan di dalam hutan tersebut tiba-tiba menjadi hening. Semua orang yang ada saat ini sedang bergelut dengan jalan pikirannya masing-masing.
Diam-diam, Zhang Fei sedang membayangkan bagaimana kemampuan tokoh-tokoh dari Kekaisaran lain.
Apakah kemampuan mereka setara dengan para tokoh dunia persilatan Tionggoan? Ataukah malah lebih tinggi dari apa yang dibayangkannya sekarang?
Saat ini, negerinya telah terbelah menjadi empat bagian. Itu artinya tugas untuk menyatukan Tionggoan jadi lebih berat lagi.
Lalu, apakah dia bisa menyatukannya kembali? Benarkah kelak, impian keluarganya bisa tercapai?
Lewat lima belas menit kemudian, obrolan di antara mereka kembali dilanjutkan. Setelah hari mulai gelap, Jenderal Qi Guan minta izin untuk kembali ke tenda.
Setelah kepergiannya, para tokoh yang ada pun segera berdiskusi kembali terkait rencana yang akan mereka jalankan saat peperangan berlangsung nanti.
"Saat terjadi peperangan, usahakan kita harus selalu berkomunikasi. Kita juga jangan terlalu berfokus terhadap musuh utama. Bagaimanapun juga, kita harus membantu Jenderal Guan dan yang lainnya. Sebisa mungkin, kita harus meminimalisir korban yang berjatuhan," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada semua yang hadir.
"Ya, aku setuju. Di satu sisi kita harus bisa menyerang atau membasmi musuh sebanyak mungkin. Tapi di sisi lain, kita juga harus bisa menjaga keutuhan pasukan sendiri," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Baik, kami mengerti," jawab yang lainnya secara bersamaan.
"Apakah masih ada arahan lain lagi, Tuan?" tanya Zhang Fei.
__ADS_1
"Aku rasa tidak ada. Untuk saat ini hanya itu saja. Masalah lainnya, kita bisa bictakan nanti saja," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita makan. Sudah dari tadi perutku terasa lapar," kata Zhang Fei sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.