Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Identitas Para Petani yang Sebenarnya


__ADS_3

Petani tersebut kemudian berjalan menghampiri Zhang Fei dan si penjaga. Meskipun dia tidak bicara lagi, tetapi wajahnya masih menunjukkan bahwa kemarahannya belum juga reda.


Melihat rekannya turun, dua belas orang petani yang lain juga segera turun. Mereka pun turut menghampirinya.


Sepanjang kejadian tersebut, Zhang Fei terus menutup mulut. Tetapi matanya mengawasi mereka dengan seksama.


Sebagai orang yang sudah cukup pengalaman, tentu dirinya bisa membedakan mana orang persilatan dan mana orang awam. Walaupun itu hanya melalui gerak-geriknya saja, bagi Zhang Fei hal tersebut sudah lebih dari cukup.


Khusus untuk tiga belas petani itu, dalam hatinya dia merasa curiga. Gerakan mereka ketika turun dari atas kereta kuda terhitung ringan, wajahnya juga tidak menunjukkan rasa takut.


Padahal biasanya, para petani biasa akan sedikit memperlihatkan rasa takutnya ketika berhadapan dengan seorang penjaga. Apalagi saat ini, di sana bukan hanya ada penjaga saja. Bahkan ada pula Ketua Dunia Persilatan.


Akan tetapi meskipun mereka sudah mendengar siapakah anak muda tersebut, para petani itu tetap tidak menunjukkan sikap hormatnya.


Mereka terlihat mengabaikan kehadiran Zhang Fei.


"Sejauh ini, pemeriksaan macam apa yang telah kau lakukan kepada para petani ini?" tanya Zhang Fei setelah beberapa saat terdiam.


"Aku baru bertanya-tanya saja, Ketua," jawab penjaga itu sambil menundukkan kepala.


"Apakah kau sudah memeriksa apa isi dari setiap kereta kuda?"


"Belum," jawabnya sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa?" Zhang Fei menatap serius ke arah si penjaga. Orang yang ditatapnya semakin gemetaran, dia merasa seolah-olah ada sesuatu besar yang menekan pundaknya.


"Karena ... karena para petani ini tidak mau diperiksa isi dari kereta kudanya,"


Mendengar jawaban tersebut, seketika Zhang Fei mengerutkan kening. Kecurigaannya kepada tiga belas orang itu semakin besar.


Ia kemudian menatap ke arah petani tua yang tadi bicara. Meskipun Zhang Fei tidak membuka mulut, namun tatapan mata itu sudah cukup untuk mewakili semuanya.


"Itu karena isi dari kereta kuda kami bukan apa-apa, Tuan Muda. Kami hanya membawa hasil panen sawah ladang, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Jadi, aku rasa tidak masalah kalau kami menolak diperiksa," katanya secara tiba-tiba. Dia bicara dengan lancar dan gamblang.


Tidak terlihat adanya kegugupan walau sedikit pun.


"Kalau benar isi kereta kuda itu hanya hasil panen sawah ladang, lalu kenapa penjaga ini tidak boleh memeriksanya?"

__ADS_1


"Karena menurut kami, ini tidaklah penting,"


Zhang Fei menganggukkan kepala beberapa kali. Di seolah-olah percaya terhadap ucapannya. Padahal sejak awal, Zhang Fei sudah mulai meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi.


Hanya saja dia tidak mau melakukan hal itu. Zhang Fei ingin melihat dulu, apa yang bisa dilakukan oleh oara petani tersebut.


"Baiklah, kalau begitu, mana identitas kalian? Coba tunjukkan kepadaku," kata Zhang Fei sambil menyodorkan tangannya.


"Kami tidak membawa kartu identitas, Tuan Muda,"


"Hemm ..."


Suasana di sana seketika hening. Zhang Fei tidak bicara lagi. Dia hanya melihat tiga belas orang petani itu secara bergantian.


Angin pegunungan berhembus. Pakaian orang-orang itu berkibar karena terhembus gulungan angin. Panasnya terik matahari yang menyorot bumi, tidak bisa membuat mereka pergi dari perbatasan kota tersebut.


Empat Datuk Dunia Persilatan, saat ini terlihat masih duduk di atas punggung kuda. Sejak tadi ereka tidak melakukan apapun juga.


Keempat tokoh besar itu seperti sengaja membiarkan Zhang Fei mengurus masalah ini sendirian.


Tiba-tiba Zhang Fei melakukan gerakan. Dua jari tangan meluncur ke depan, dia berniat menotok urat nadi leher petani yang ada di hadapannya.


Gerakan itu sangat cepat. Serangannya juga tiba-tiba. Dengan dasar seperti itu, rasanya pendekar kelas dua pun tidak bisa menghindarkan diri lagi.


Namun siapa nyana, tepat sebelum totokan Zhang Fei mengenai urat nadi lehernya, orang tersebut malah sudah berhasil menghindarinya. Dia menarik tubuhnya mundur ke belakang.


Serangan barusan seakan-akan sudah ia tebak sebelumnya.


Peristiwa singkat itu menjadi bukti penguat bahwa mereka memang bukan orang biasa.


Zhang Fei tersenyum sinis. Dengan segera dia menarik kembali serangannya.


"Kau pikir aku tidak tahu siapa kalian sebenarnya?"


"Apa maksudmu, Tuan Muda? Barusan itu hanya kebetulan saja. Mungkin itu hanya refleks dari seseorang," jawab si petani tua sambil berusaha mengelak.


"Tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang juga sebutkan siapa kalian sebenarnya! Kalau tidak mau, maka terpaksa aku sendiri yang akan melakukannya,"

__ADS_1


Petani tua tersebut langsung terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa lagi berkata-kata. Matanya melirik ke arah dua belas orang petani yang lain. Seolah-olah dia sedang melakukan diskusi lewat tatapan mata.


Wutt!!!


Seorang petani di antara dua belas orang yang lain tiba-tiba melepaskan beberapa senjata rahasia. Serangan itu sangat mendadak, dua penjaga kota perbatasan menjadi sasarannya!


Untunglah Zhang Fei masih ada di sana. Sehingga walaupun serangan yang berbahaya, namun nyawa para penjaga tersebut masih bisa diselamatkan.


Crapp!!!


Enam batang jarum perak dengan ukuran sangat kecil sudah terjepit di antara jari-jarinya.


Bersamaan dengan itu, lima orang petani langsung melompat dan melancarkan lagi senjata rahasia yang lain. Sedangkan petani sisanya, mereka bersama-sama mundur dan mengambil sesuatu dari dalam kereta kudanya.


Dua rangkaian kejadian itu terjadi hampir secara bersamaan.


Dengan segera Zhang Fei melakukan gerakan dan menangkis senjata rahasia yang baru saja datang. Setelahnya dia segera menyambut pula serangan jarak dekat yang diberikan lawan.


Rangkaian kejadian itu sangat cepat. Siapa pun tidak bisa membayangkannya. Apalagi setiap serangan yang diberikan lawan tidak main-main.


Dari sini saja, Empat Datuk Dunia Persilatan sudah bisa menilai bahwa para petani tersebut setidaknya adalah pendekar yang sudah banyak pengalaman.


Beberapa saat kemudian, setelah berhasil menyelamatkan nyawa dua penjaga dan nyawanya sendiri, Zhang Fei segera kembali ke posisinya.


Tapi belum lagi dia mendapatkan posisi, para petani itu sudah menyerangnya lagi. Kali ini mereka tidak menggunakan kedua lengan, melainkan menggunakan senjata yang baru saja diambil dari dalam kereta kuda.


"Cepat selamatkan diri kalian," teriak Zhang Fei kepada dua orang penjaga itu.


Tanpa bicara, mereka segera menurutinya. Dua orang penjaga melompat mundur dan berdiri di sisi Empat Datuk Dunia Persilatan.


Sementara Zhang Fei, saat ini dia sudah terkepung di antara dua belas orang tersebut.


"Di antara tiga belas orang, aku rasa hanya lima orang saja yang merupakan pendekar kelas satu," kata Orang Tua Aneh Tionggoan tiba-tiba memberikan tanggapannya.


"Benar," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan merasa setuju. "Aku rasa kita tidak perlu turun tangan. Kita serahkan saja semuanya kepada an ... maksudku Ketua Fei," dia buru-buru meralat ucapannya setelah teringat bahwa saat ini mereka sedang berada di dunia luar.


Di depan sana, sekarang tiga belas orang petani itu sudah mulai menunjukkan siapa dirinya!

__ADS_1


__ADS_2