
Orang tua serba putih itu tersenyum kepadanya. Kemudian dia berkata, "Mari ikut aku,"
Setelah berkata demikian, ia kemudian berjalan menuju ke 'pintu' masuk. Zhang Fei mengikuti di belakang, disusul dengan monyet putih dan harimau.
Setelah berjalan beberapa jarak, akhirnya ia tiba juga di sebuah tempat. Tempat yang sederhana, tapi benar-benar mempesona.
Di sana ada sebuah gubuk. Gubuknya pun sederhana. Di sekitar gubuk itu terdapat taman bunga. Segala jenis bunga yang menebarkan bau harum, ada di taman itu.
Di kanan kiri terdapat pula kolam kecil berisi ikan-ikan cantik yang sedang berenang ke sana kemari.
Sekeliling gubuk itu, selain terdapat taman bunga dan kolam ikan, ada pula pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berjejer rapi.
Orang tua serba putih tidak masuk ke dalem gubuk. Ia berjalan ke arah sebuah batu yang berbentuk meja. Kemudian segera duduk di sana.
"Kemarilah, duduk di sini dan nikmati pemandangan yang ada," katanya sambil memberikan isyarat dengan tangan.
Zhang Fei mengangguk. Ia pun segera berjalan ke sana, dan duduk tepat di sisi orang tua serba putih.
"Tolong ambilkan dua guci arak," kata orang tua itu memberikan perintah.
Si monyet putih mengangguk. Ia lalu berjalan masuk ke dalam gubuk. Setelah keluar, binatang itu sudah membawa dua guci arak di tangannya.
Dia langsung memberikannya kepada orang tua serba putih.
"Benar-benar monyet yang pintar," ujar Zhang Fei memuji.
"Untuk melatih keduanya sampai pintar seperti sekarang, itu bukanlah suatu hal yang mudah," kata orang tua serba putih sambil tersenyum.
Zhang Fei mengerti akan hal tersebut. Melatih binatang untuk menjadi pintar, memang membutuhkan perjuangan yang keras. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai ke titik tersebut.
Orang tua serba putih membuka segel arak. Ia kemudian memberikannya kepada Zhang Fei.
Mereka berulang arak!
Lewat beberapa saat kemudian, suasana di sana langsung hening. Orang tua serba putih belum bicara. Begitu juga dengan Zhang Fei.
Sekitar sepuluh menit ke depan, barulah terdengar orang tua itu menghela nafas.
__ADS_1
"Kau percaya kalau aku adalah Kakekkmu?" tanyanya tiba-tiba.
Zhang Fei tidak menjawab. Dia tetap diam dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk.
"Kalau kau tidak percaya, aku bisa membuktikannya,"
Orang tua itu kemudian merogoh saku baju. Setelahnya, ia mengeluarkan sebuah kalung berikut liontinnya. Kalung yang dimiliki oleh orang tua tersebut, ternyata benar-benar mirip dengan kalung milik Zhang Fei.
"Ini adalah kalung warisan Keluarga Zhang. Setiap anak lelaki dari Keluarga Zhang yang menjadi pendekar, pasti memiliki kalung ini. Sayangnya, keluarga kita sudah banyak yang meninggal. Sehingga saat ini, sudah tidak tersisa lagi Keluarga Zhang. Kecuali hanya kau seorang," ujarnya sambil melirik ke arah Zhang Fei.
Anak muda itu masih diam. Dia sedang menunggu di orang tua melanjutkan bicaranya.
"Terkait ucapanmu tadi, memang benar. Dulu aku menyuruh Ayahmu, Zhang Xin, untuk mengatakan kepadamu bahwa diriku telah tiada,"
"Kenapa demikian?" tanya Zhang Fei dengan cepat.
"Ada beberapa alasan mengapa aku melakukan hal itu. Pertama, karena aku tidak ingin kau mati di usia muda. Sebab sejak dulu, Keluarga Zhang dikenal sebagai keluarga pendekar. Sebagai seorang pendekar, sudah tentu akan ada banyak orang yang menginginkan nyawanya. Apalagi, setiap leluhur kita selalu menjadi pendekar tersohor di Tionggoan,"
"Dan kedua, supaya orang-orang persilatan, khususnya dari aliran sesat, benar-benar menyangka bahwa aku ini telah tiada,"
"Kenapa Kakek tidak hadapi saja mereka itu?" tanya Zhang Fei yang mulai percaya terhadap ucapannya.
Zhang Fei mendengar ucapan orang tua itu dengan baik. Malah sekarang, dalam hati kecilnya ia merasa terharu. Sebab tidak disangka bahwa kakeknya ternyata masih hidup.
Lebih dari itu, ia lebih bahagia karena rupanya tokoh yang dimaksud oleh mendiang Telapak Tangan Kematian Pek Ma, ternyata masih keluarganya sendiri.
Teringat akan hal itu, tiba-tiba dia menjatuhkan diri dan berlutut di hadapannya.
"Kakek, aku telah berlaku lancang terhadapmu. Baik ucapan maupun tindakan yang aku lakukan tadi, sesungguhnya sudah melebihi batas. Kalau kau ingin menghukumku, aku siap menerimanya," ujar anak muda itu sungguh-sungguh.
Saat ini, ia memang tidak bercanda. Zhang Fei sedang serius.
Walaupun sifatnya terkadang sering berangasan dan keras kepala, tapi sebenarnya dia adalah anak muda yang mengenal sopan santun.
Ia biasa berlaku seperti itu hanya kepada musuh-musuhnya saja.
Di satu sisi lain, mungkin hal tersebut sedikit banyaknya timbul akibat pergaulannya dengan gurunya, Lima Malaikat Putih.
__ADS_1
Seperti yang diketahui, mereka adalah mantan tokoh aliran sesat yang dikenal dengan sifatnya tanpa ampun dan tidak mengenal tatakrama.
Maka dari itu, wajar apabila ia sedikit terpengaruh oleh pembawaan mereka.
Namun dibalik semua itu, dia sebenarnya mempunyai perasaan yang peka. Ia pun sangat memandang tinggi sopan santun. Terutama sekali terhadap orang tuanya.
Maka dari itu, setelah ia tahu bahwa orang tua serba putih tersebut adalah kakeknya, Zhang Fei benar-benar merasa menyesal.
Sedangkan di sisi lain, melihat cucunya berlutut bahkan hendak bersujud, tentu saja orang tua serba putih itu tidak tega.
Dia segera memegang bahu Zhang Fei dan menyuruhnya berdiri.
"Kau tidak perlu seperti ini, anak Fei, bangunlah,"
Zhang Fei menuruti ucapannya. Dia langsung berdiri dan kembali duduk di sisinya.
"Ngomong-ngomong, apakah kau tahu siapa namaku?" tanyanya lagi.
"Tidak," jawab anak muda itu seraya menggelengkan kepala. "Ayah selalu merahasiakan semua hal tentang Kakek. Mungkin tujuannya supaya tidak banyak yang tahu siapakah Keluarga Zhang sebenarnya,"
"Benar," jawabnya membenarkan. "Karena kalau semua orang tahu, sudah pasti keluarga kita tiada sejak lama,"
ia kemudian menenggak arak. Setelah tiga kali, dirinya berkata lagi. "namaku adalah Zhang Liong. Aku merupakan keturunan kelima dari leluhur Zhang Yi,"
Pada saat menyebutkan nama terkahir, terlihat perubahan di wajah orang tua tersebut. Suaranya juga mendadak berubah menjadi dalam. Seolah ia benar-benar menghormati nama itu.
Zhang Fei bisa melihat perubahan yang terjadi, maka dari itu dia pun segera menanyakannya.
"Kakek, siapakah leluhur Zhang Yi itu?" tanyanya sambil memberikan ekspresi ingin tahu.
"Kau ingin mengetahuinya?"
"Sangat ingin. Sebagai keturunan Keluarga Zhang, tentu saja aku harus mengetahuinya,"
Kakek tua bernama Zhang Liong itu tersenyum. Dia mengelus jenggotnya yang putih sambil menatap ke arah Zhang Fei lekat-lekat.
Dalam pada itu, tiba-tiba ia tersenyum. Senyuman yang mengandung banyak makna.
__ADS_1
Ia melihat bahwa Zhang Fei ini adakah anak yang istimewa. Seperti ada sesuatu lain di dalam dirinya.