Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Melawan Pendekar Elit Istana Kekaisaran I


__ADS_3

Tidak lama setelah ucapan orang tua itu selesai, segera keluar dua orang pendekar yang bertubuh tinggi kekar. Kalau dilihat dari umur, mungkin keduanya baru mencapai sekitar empat puluhan.


Umurnya memang belum terlalu tua, akan tetapi kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi.


Dari sudut sebelah kiri, seorang pendekar dengan pakaian serba putih terlihat sedang berjalan ringan. Saking ringannya, sampai-sampai orang awam melihat bahwa kedua telapak kakinya tidak menapak ke tanah.


Pakaian putih itu dihiasi oleh garis-garis warna kuning keemasan. Sehingga membuat dirinya tampil lebih gagah lagi.


Dalam waktu sebentar, Pendekar Tangan Raja sudah tiba di sisi juru bicara. Ia segera menatap lekat-lekat ke arah Zhang Fei.


Bersamaan dengan kedatangannya, dari sudut sebelah kanan terlihat pula ada seorang yang berjalan. Orang ini langkahnya berat. Bahkan setiap tapak kakinya tampak sedikit melesat masuk ke dalam tanah.


Orang itu mengenakan pakaian merah hitam. Di punggungnya ada sebatang pedang bersarung hitam dengan ronce merah.


Meskipun pedangnya belum dicabut keluar, tapi semua pendekar sudah bisa merasakan hawa pedang yang begitu kuat.


'Inikah Pendekar Pedang Tetesan Darah yang dimaksudkan?' batin Zhang Fei bertanya-tanya sambil sesekali melirik sekilas ke arahnya.


Cara berjalan Pendekar Pedang Tetesan Darah memang lebih lamban dari Pendekar Tangan Raja. Tetapi jangan salah, setiap langkahnya seolah-olah membawa keuayan sebesar gunung.


Zhang Fei sendiri sempat bergidik ngeri ketika merasakan hawa pembunuh begitu kuat yang keluar dari setiap titik di tubuhnya.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Pendekar Pedang Tetesan Darah tiba di tempat yang telah disediakan.


Kini dua orang pendekar yang akan menjadi lawan Zhang Fei sudah berada di posisi masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu juru bicara memulai pertarungannya.


Hampir semua mata yang ada saat ini tertuju kepada dua sosok yang baru hadir tersebut. Para pendekar dunia persilatan juga bertanya-tanya di dalam hatinya terkait dari mana asal mereka berdua.


Perlu diketahui, Pendekar Pedang Tetesan Darah dan Pendekar Tangan Raja adalah merupakan pendekar elit dari Istana Kekaisaran.


Kalau situasi Istana Kekaisaran tidak benar-benar genting, mereka sangat jarang memunculkan dirinya.


Walau mendapat tugas lain dari Kaisar pun, para pendekar elit seperti mereka itu akan menjalankan tugasnya dengan sangat rahasia.


Sehingga sangat wajar kalau hampir tidak ada orang yang mengenalnya.


Akan tetapi, tidak terkenal bukan berarti tidak hebat. Kalau bicara soal kemampuan, rasanya kedua orang tersebut sudah setara dengan pendekar pilih tanding atau bahkan lebih daripada itu.


Suasana seketika kembali hening pada saat juru bicara memberikan isyarat untuk diam.


"Para pendekar yang akan bertarung sudah hadir di tengah-tengah kita. Sekarang, mari kita saksikan ujian kemampuan ini," kata si juru bicara dengan lantang.

__ADS_1


Dia kemudian menoleh ke arah Zhang Fei, "Tuan Muda Fei, siapa yang akan kau pilih sebagai lawan pertama?" tanyanya.


"Aku memilih Pendekar Tangan Raja," jawab Zhang Fei dengan cepat dan tegas.


"Baik," juru bicara itu mengangguk. "Pendekar Tangan Raja, silahkan masuk ke tengah arena,"


Orang yang dimaksud segera berjalan ke depan dan langsung mengadakan persiapan.


Kini kedua belah pihak yang akan bertarung sudah berhadapan satu sama lain.


"Mulai!" katanya berteriak.


Begitu ucaoan tersebut didengar, baik Zhang Fei maupun Pendekar Tangan Raja, keduanya langsung sama-sama menyerang dengan jurus-jurus tangan kosong.


Pendekar Tangan Raja tiba lebih dulu daripada Zhang Fei. Sepertinya dalam segi kecepatan serangan, Zhang Fei masih kalah sedikit di bawahnya.


Hantaman telapak tangan beruntun sudah dikeluarkan. Setiap satu telapaknya mampu menghancurkan batu sebesar kerbau. Dari sini bisa dibayangkan betapa tingginya tenaga dalam yang dia miliki.


Untungnya kemampuan Zhang Fei sudah mengalami juga kemajuan pesat. Sehingga dia tidak terlalu takut untuk beradu telapak dengan lawan.


Plakk!!!


Benturan antar telapak tangan terjadi. Kedua pendekar itu terdorong mundur satu langkah ke belakang.


Gulungan angin transparan datang menerjang bagaikan ombak. Pendekar Tangan Raja mendorongkan tangannya ke depan untuk menghalau jurus tersebut.


Blamm!!!


Adu tenaga dalam para akhirnya tidak bisa dihindarkan lagi. Ledakan yang menerbangkan debu tebal berlangsung singkat.


Kini giliran Pendekar Tangan Raja yang menyerang dengan jurus miliknya.


"Telapak Buddha Menembus Langit!"


Wutt!!!


Tubuhnya melesat ke depan sana. Begitu tiba di hadapan Zhang Fei, Pendekar Tangan Raja langsung menghujani anak muda tersebut dengan bayangan-bayangan telapak tangannya.


Zhang Fei merasa tertekan. Posisinya sedikit terdesak setelah terus-menerus dihujani serangan tanpa berhenti.


Beberapa bagian tubuhnya sudah terkena serangan itu cukup telak. Untung Zhang Fei sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga akibat yang ditimbulkan pun tidak terlalu parah.

__ADS_1


Pertarungan tersebut menjadi bahan perhatian semua orang. Mereka yang hadir tampak sangat serius menyaksikannya.


Kaisar dan Empat Datuk Dunia Persilatan yang duduk di atas mimbar juga sama. Selain kagum kepada orang-orang yang terlibat, mereka juga merasa terpukau karenanya.


Ini bisa dibilang peristiwa pertama mereka bisa melihat sepak terjang pendekar elit Istana Kekaisaran secara langsung.


Dan setelah menyaksikannya, semua orang merasa puas.


Kemampuannya benar-benar berbeda dari para pendekar kebanyakan.


Akan tetapi Zhang Fei tidak menyerah begitu saja. Walaupun terus diserang tanpa pernah memberikan waktu jeda, namun ia masih bisa bertahan di posisinya.


Sesaat yang lalu ketika mendapat kesempatan baik, dengan segera Zhang Fei mengeluarkan jurus tangan kosong andalannya.


Ketika jurus Telapak Dewa Maut digelar, seketika itu juga Pendekar Tangan Raja merasakan hal lain.


Tiba-tiba tenaga yang terkandung dalam setiap serangannya tidak berfungsi. Seolah-olah dirinya telah memukul ke dalam samudera paling dalam.


Tidak hanya itu saja, bahkan dia pun merasakan ada daya tarik yang luar biasa dari tubuh lawan.


'Bagus. Jurus Telapak Dewa Maut milikku ternyata sudah mengalami banyak perubahan. Daya sedotnya semakin bertambah hebat. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membalas semuanya,'


Wushh!!!


Zhang Fei menambah tenaganya. Dia mendorong tubuh Pendekar Tangan Raja lalu menyusulnya dengan mengirimkan serangan balasan yang cepat dan dahsyat.


Ribuan telapak tangan seolah-olah telah memenuhi arena pertarungan. Pendekar Tangan Raja tercekat, ia ingin menghindari semua serangan lawan. Tapi sayangnya usaha itu tidak membuahkan hasil.


Sehingga mau tidak mau ia harus menjadi samsak hidup bagi lawannya.


Telapak tangan Zhang Fei semakin memburu. Hawa panas yang dikeluarkannya semakin bertambah hebat lagi.


Tanpa terasa pertarungan tersebut telah mencapai enam puluh jurus. Selama itu, posisi mereka selalu bergantian. Hanya saja karena telah menemukan titik lemah lawan, Zhang Fei lebih banyak berada di posisi yang menguntungkan.


"Hiatt!!!"


Zhang Fei menerjang ke depan. Gerakannya seperti seekor harimau yang akan menerkam mangsa.


Blamm!!!


Telapak tangan itu dengan telak mengenai ulu hati. Pendekar Tangan Raja terlempar tujuh langkah dan langsung muntah darah pada saat itu juga.

__ADS_1


"Aku menyerah," katanya dengan posisi berlutut.


__ADS_2