Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Lencana Naga


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian, setelah keenam orang di dalam ruangan itu membicarakan banyak hal, akhirnya pertemuan mereka selesai juga.


Inti dari pembahasan tersebut adalah bahwa mereka akan bekerja sama untuk menyatukan kembali dunia persilatan. Malah kalau bisa, para tokoh itu berencana untuk menggabungkan pula aliran hitam dan aliran tengah dengan tujuan untuk menyelamatkan negeri tercintanya.


Terkait keberhasilan dari niat dan rencana itu, mereka sendiri tidak terlalu memikirkannya. Yang jelas, untuk saat ini harus berusaha dulu. Berusaha sekeras mungkin. Berusaha walau dengan cara apapun juga.


Bukankah usaha yang keras, akan mendapatkan hasil yang maksimal?


Satu orang pelayan di Gedung Dunia Persilatan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Pelayan itu membawa nampan berisi arak dan daging segar.


Suara arak yang dituang ke dalam cawan sudah terdengar. Keenam orang tersebut bersulang arak untuk yang kesekian kalinya.


Mereka terus bercanda tawa sampai tengah malam tiba.


Karena sudah merasa cukup, akhirnya Empat Datuk Dunia Persilatan berniat untuk undur diri. Tetapi sebelum itu, Ketua Beng Liong lebih dulu menahan mereka.


"Sebentar dulu, Tuan-tuan. Aku akan memberikan lencana yang dimaksudkan dalam pembahasan tadi," katanya.


Tidak mau menunggu jawaban, Ketua Dunia Persilatan tersebut segera keluar dari ruangan untuk membawa lencana.


Beberapa saat kemudian, Pendekar Dewa Langit Beng Liong sudah kembali lagi. Di belakangnya ada seorang pria tua yang membawa nampan. Di atas nampan tersebut ada lima buah lencana bergambar kepala naga putih.


"Ini adalah Lencana Naga. Di Kekaisaran Song, hanya Ketua Dunia Persilatan saja yang mempunyai lencana seperti ini," ujarnya.


Bersamaan dengan dirinya berkata, pelayan tadi segera memberikan kelima lencana kepada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Terimakasih, Ketua," ucap mereka secara bersamaan.


"Tidak perlu sungkan. Aku rasa kalian tidak merasa keberatan dengan tugas ini,"


"Tentu saja, tidak. Kami malah merasa bangga karena bisa membantu Ketua dalam membereskan persoalan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili yang lainnya.


Dalam pada itu, diam-diam Zhang Fei memperhatikan Lencana Naga pemberian Ketua Dunia Persilatan.


Lencana itu ternyata terbuat dari emas murni. Gambar naga yang terdapat di atasnya diukir dengan sangat indah, sehingga seolah-olah hidup dan mempunyai nyawa.

__ADS_1


Seumur hidup, rasanya dia baru melihat lencana yang sangat indah dan antik seperti ini.


Sementara itu, setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara kembali mewakili yang lainnya.


"Ketua, hari sudah larut malam. Aku rasa, kami harus pamit undur diri sekarang juga,"


"Ah, kenapa kalian tidak menginap di sini saja?"


"Terimakasih, Ketua. Kami tidak mau merepotkanmu,"


"Aih, baiklah. Aku tidak bisa memaksa kalian,"


"Selamat bertemu di lain waktu, Ketau. Kami pamit,"


Mereka membungkukkan badan, memberikan hormat kepada Ketua Dunia Persilatan. Setelah selesai, orang-orang itu pun segera pergi dari sana.


Ketua Beng Liong mengantarkan kepergian lima orang tamu istimewanya sampai di pintu depan.


"Kalau ada apa-apa, kita bisa berkabar lewat sepucuk surat," katanya sebelum mereka benar-benar pergi.


Kelima orang itu segera melangkahkan kakinya keluar dari Gedung Ketua Dunia Persilatan. Semua orang yang ada di sana, langsung membungkukkan badan ketika melihat mereka.


Setelah tiba diluar, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan menghentikan langkahnya. Ia segera bicara kepada sahabat-sahabatnya.


"Apakah kalian masih punya waktu senggang?" tanyanya dengan serius.


"Tentu saja. Memangnya ada apa?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.


"Aku punya beberapa hal yang harus dibicarakan dengan kalian. Sekaligus kita juga akan memulai menyusun rencana,"


"Baiklah. Untuk tugas ini, kami serahkan semuanya kepadamu," sela Dewi Rambut Putih.


"Benar. Sebagai yang paling tua, aku yakin Tuan Kiang mempunyai pandangan yang lebih baik dari kami semua," sambung Pendekar Tombak Angin.


Yang lainnya segera menganggukkan kepala, pertanda bahwa mereka setuju dengan ucapan Pendekar Tombak Angin barusan.

__ADS_1


Sedangkan Dewa Arak Tanpa Bayangan seketika langsung memasang wajah muram. Dia sendiri justru tidak setuju dengan ucapan itu.


Karena pada dasarnya, ia adalah orang yang suka dengan kebebasan. Dewa Arak Tanpa Bayangan paling tidak suka mempunyai ikatan dengan siapapun juga.


"Tapi baiklah. Demi menyelamatkan negeri kita, terpaksa aku harus menerima usulan kalian" ujarnya sambil menghela nafas panjang.


"Hahaha ... bagus sekali," Orang Tua Aneh Tionggoan tertawa lantang sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Baiklah, sekarang kita pergi ke restoran besar. Aku akan mentraktir kalian makan minum sepuasnya. Hitung-hitung bersyukur karena kita punya pemimpin baru," ucapnya tertawa lagi.


"Sialan kau setan tua," gumam Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mendengus.


Lima tokoh dunia persilatan tersebut segera melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke pusat kota dan mencari restoran besar serta mewah yang terdapat di sana.


Setelah menemukan tempat yang cocok, mereka segera memasan ruangan khusus. Hal itu sengaja dilakukan supaya pembahasan nantinya tidak terganggu oleh orang lain.


Beberapa saat kemudian, setelah menu pesanan sudah disajikan di atas meja, tanpa membuang waktu lagi, Dewa Arak Tanpa Bayangan segera memulai pembicaraannya.


"Begini, bagaiamana kalau dalam menjalankan tugas ini, kita berpencar dan mengurus masalah masing-masing?" tanyanya sambil menatap kepada empat orang di depannya secara bergantian.


Tujuan orang tua itu melakukan langkah ini, tak lain adalah untuk mempercepat pekerjaan dan mempersingkat waktu. Seperti yang dia dengar sebelumnya dari Ketua Dunia Persilatan, di negerinya sekarang ada cukup banyak masalah penting yang tidak bisa dikesampingkan.


Jadi, rasanya kurang tepat kalau mereka harus tetap mengembara bersama.


"Aku setuju, tapi entah bagaimana jawaban yang lain," tukas Orang Tua Aneh Tionggoan dengan.


"Kami juga setuju. Karena memang itulah jalan terbaik satu-satunya. Lagi pula, di tengah perjalanan nanti kita bisa mencari kawan untuk membantu menyelesaikan tugas ini. Di samping itu, sewaktu-waktu kita juga bisa mengadakan pertemuan," sambung Dewi Rambut Putih lalu dirinya minum secawan arak.


"Aku ikut apa kata kalian saja," ujar Pendekar Tombak Angin. "Hanya saja ..."


Dia tidak melanjutkan bicaranya. Datuk Dunia Persilatan itu hanya melirik ke arah Zhang Fei. Seolah-olah dirinya ingin bicara, tapi takut menyinggung anak muda itu.


Dewa Arak Tanpa Bayangan sepertinya mengerti maksud dari ucaoan Pendekar Tombak Angin. Karena itulah dengan cepat dia menyambung pula.


"Jangan khawatir. Walaupun usianya masih muda, tapi kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Kalau kau tidak percaya, kita bisa membuktikannya," ia berkata dengan nada serius. Malah mengerahkan pula sedikit tenaga saktinya.


Pendekar Tombak Angin seketika merasa tidak enak. Apalagi setelah ia merasakan ada saluran tenaga sakti dalam ucapan tersebut.

__ADS_1


"Jangan salah paham dulu, maksudku sama sekali bukan merendahkan atau tidak yakin kepada kenapa anak Fei. Hanya saja, pengalaman dia dalam dunia persilatan masih minim, aku takut terjadi hal-hal buruk kepadanya. Kan Tuan Kiang juga tahu, bagaimana sifat orang-orang dalam rimba hijau," katanya memperjelas lagi.


__ADS_2