
Sementara itu, saat ini Zhang Fei sedang berhadapan dengan Ketua Partai Panji Hitam atau yang biasa dipanggil Dewa Sesat Tiada Tanding.
Pertarungan antara kedua tokoh kelas atas itu baru saja berhenti. Sampai sejauh ini, setidaknya mereka telah bertarung sebanyak tiga puluh jurus.
Pertarungan tersebut berjalan seimbang. Kedua belah pihak belum terlihat ada yang mau mengalah. Entah itu karena mereka belum benar-benar serius, atau memang karena kemampuan mereka yang seimbang.
"Akhirnya kita bisa berjumpa secara langsung," ucap Zhang Fei dengan suara sedingin es.
"Ya, aku pun tidak menduga bahwa kita akan bertemu," jawab Dewa Sesat Tiada Tanding dengan nada datar.
"Selama ini, aku selalu mencarimu. Sayangnya kau tidak pernah aku temukan,"
"Aku pun begitu," tokoh sesat itu menyahut dengan cepat. "Sudah banyak anak buahku yang ditugaskan untuk mencarimu. Sayangnya mereka tidak pernah mendapatkan hasil. Kau selalu bisa menyembunyikan diri di tempat yang sulit ditemukan,"
"Hahaha ... untuk mencariku, itu memang bukan hal yang mudah,"
Selama ini, masing-masing dari mereka memang selalu saling mencari satu sama lain. Masing-masing pun memiliki dendam kesumat. Yang satu mempunyai dendam karena urusannya selalu dicampuri. Dan yang satunya lagi, mempunyai dendam karena keluarganya dibantai habis.
Zhang Fei masih ingat dengan jelas rangkaian peristiwa yang menimpa orang tua dan orang-orang terdekatnya. Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah melupakan peristiwa tersebut.
Sampai kapan pun juga, dia tidak akan pernah bisa tenang sebelum para pelaku utamanya tewas di tangan sendiri.
Saat ini, adalah saatnya yang paling tepat untuk membalaskan dendam itu. Musuh bebuyutan yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya telah berada di depan mata.
Zhang Fei tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia harus mampu memanfaatkannya sebaik mungkin.
Kedua otot di tangannya keluar. Sepasang matanya menatap sangat tajam dan penuh dendam.
Dewa Sesat Tiada Tanding sempat memandang mata Zhang Fei. Dan pada saat itu, tiba-tiba yang saja dia merasakan suatu hal aneh.
Suatu hal yang tidak mungkin bisa disebutkan dengan kata-kata!
Dia merasa bulu kuduknya berdiri sendiri. Melihat tatapan anak muda itu, hampir sama seramnya dengan melihat tatapan seekor harimau yang sedang marah.
'Ada apa ini? Mengapa aku tidak berani membalas tatapannya? Benarkah dia mempunyai tenaga dalam dan tenaga sakti sehebat itu?' Dewa Sesat Tiada Tanding bertanya-tanya dalam batinnya.
__ADS_1
Dia tidak mengerti tentang apa yang menimpa dirinya saat ini. Tokoh sesat itu merasa bahwa ini adalah kali pertamanya dia merasakan keanehan.
Waktu terus berjalan tanpa berhenti. Para tokoh dunia persilatan masih berdiri tidak jauh di belakangnya. Masing-masing dari mereka menatap ke arah dua tokoh yang terlibat tersebut.
Keadaan di sana terasa begitu menegangkan. Bau amis darah dan ratusan mayat manusia yang bergelimpangan, tidak mereka hiraukan sama sekali.
Wushh!!!
Dewa Sesat Tiada Tanding tiba-tiba melesat secepat kilat. Ia kemudian mengeluarkan sebatang golok yang diselipkan di balik pinggang.
Golok itu mempunyai panjang setengah depa. Ukurannya tidak terlalu besar. Tapi ketajamannya tidak perlu dijelaskan lagi.
Ada yang bilang, saling tajamnya golok tersebut, maka besi biasa pun bisa langsung dipatahkan dengan mudah.
Dari sini saja, siapa pun yang mendengarnya pasti sudah tahu kira-kira seberapa tajam golok pusaka tersebut.
Golok milik Dewa Sesat Tiada Tanding itu mempunyai warna yang hitam legam. Sarungnya sangat hitam. Gagangnya hitam dengan ukiran berbentuk kepala naga.
Ketika golok miliknya dicabut keluar, cahaya putih keperakan seketika memancar ke empat penjuru mata angin dan sempat menyilaukan mata.
Gerakannya pada saat itu benar-benar cepat. Pendekar biasa pasti tidak akan sanggup untuk melihat, apalagi menahannya.
Walaupun usianya masih muda, tapi kemampuannya tentu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ketika bacokan golok datang dari sisi sebelah kanan, tiba-tiba ada sebatang pedang pusaka lain yang telah menahan gerakannya.
Tokoh sesat itu tentu saja kaget. Kaget setengah mati. Apalagi setelah menyadari bahwa pedang itu milik Zhang Fei!
Kapan anak muda itu bergerak? Mengapa ia tidak bisa melihatnya? Benarkah gerakannya secepat itu?
Berbagai macam pertanyaan yang serupa tiba-tiba bermunculan dalam benaknya. Dewa Sesat Tiada Tanding benar-benar dibuat terkejut.
Saat ini, golok dan pedang pusaka itu masih saling menempel satu sama lain. Kedua senjata tersebut seolah-olah tidak bisa dipisahkan.
Pemiliknya masing-masing terus menyalurkan tenaga dalam. Sehingga tarik menarik segera terjadi.
__ADS_1
Peluh sebesar biji kacang keluar dari kening Zhang Fei. Ia berusaha menyalurkan tenaganya ke Pedang Raja Dewa dengan jumlah yang lebih banyak lagi.
Dewa Pedang Dari Selatan menggertak gigi. Sesaat kemudian dia berteriak dengan keras.
Tubuh Ketua Partai Panji Hitam langsung terbang. Dia melayang ke belakang tanpa kendali.
Pada saat itu merupakan kesempatan yang sangat baik untuk melancarkan serangan balasan. Menyadari akan hal tersebut, maka detik itu juga Zhang Fei langsung menjejak tanah dan menyusulnya.
Wushh!!! Wutt!!!
Gerakan tubuhnya benar-benar cepat. Tinggal sedikit lagi, ujung Pedang Raja Dewa akan mengenai sasaran.
Tetapi siap yang menyangka, ketika jaraknya hanya tinggal tersisa sedikit, tiba-tiba dari arah lain ada lagi bayangan yang berkelebat tidak kalau cepatnya.
Para Datuk Dunia Persilatan yang menyaksikan kejadian itu ikut terkejut. Secara refleks, di antara mereka pun ada yang langsung memburu ke tengah-tengah arena pertarungan.
Blamm!!!
Benturan telapak tangan terjadi. Suara keras terdengar memekakkan telinga. Dua bayangan manusia langsung terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Masih dalam waktu yang sama, karena menyadari ada seseorang yang telah menolongnya, maka dengan cepat Zhang Fei melanjutkan kembali serangan yang sempat terhenti itu.
Seharusnya usaha itu telah membuahkan hasil. Kalau tidak langsung tewas, minimal Dewa Sesat Tiada Tanding akan mengalami luka parah.
Sayang sekali, akibat kejadian yang tidak disangka itu, usaha Zhang Fei telah menemui kegagalan.
Serangan balasannya berhasil ditangkis. Beberapa kali dia melanjutkan lagi, hasilnya tetap nihil.
Karena tidak ingin membuat tenaga dengan percuma, akhirnya dia melompat mundur sejauh tiga langkah.
Duel sengit di antara mereka kembali terhenti. Keduanya saat ini sedang menengok ke sisi lain. Masing-masing merasa penasaran terkait siapakah dua sosok tadi.
Saat dilihat lebih jelas, ternyata sosok yang berniat menyerang Zhang Fei secara tiba-tiba itu adalah Biksu Sembilan Nyawa. Sedangkan sosok yang menolongnya, bukan lain adalah Pendekar Pedang Perpisahan!
Kini, dua Datuk Dunia Persilatan aliran sesat sedang saling berhadapan satu sama lain.
__ADS_1
"Aku tidak percaya kau akan menghalangi langkahku," kata Biksu Sembilan Nyawa.
"Aku pun tidak percaya kau akan melakukan perbuatan seperti seorang pengecut," jawab Pendekar Pedang Perpisahan.