
Tiga hari sudah berlalu kembali. Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Pagi ini cuaca mendung. Awan di atas sana tampak menghitam. Angin yang berhembus juga terasa lebih dingin dari biasanya.
Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan terlihat sedang duduk di depan tenda besar. Meskipun wajah mereka tampak santai, namun sebenarnya para tokoh itu sedang menunggu.
Menunggu para musuhnya datang!
"Sepertinya hari ini akan turun hujan besar," gumam Qiao Feng sambil memandangi langit.
"Benar," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. "Tapi jangankan hujan badai, bahkan kalau hari ini turun hujan batu pun, peperangan di tempat ini tetap akan berlangsung,"
"Sudahlah. Biarkan semuanya terjadi seperti seharusnya," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.
Lima orang tokoh dunia persilatan itu kembali terdiam sambil menutup mulutnya masing-masing. Sepasang mata mereka menatap jauh ke depan sana.
Di sekitarnya, ribuan prajurit Kekaisaran dengan senjata lengkap sudah siap sejak pagi hari buta. Mereka juga sedang menunggu kedatangan musuh dari Kekaisaran Zhou.
Jenderal Guan dan dua orang Jenderal lainnya telah memimpin pasukannya tersendiri.
Sekarang ini adalah saat-saat paling menegangkan. Sehingga wajar apabila wajah semua orang tampak sangat serius.
Mungkin di antara ribuan orang yang hadir, hanya lima orang tokoh dunia persilatan itu saja yang masih memasang wajah santai. Walaupun mereka tahu sebentar lagi peperangan akan berlangsung, tapi hal tersebut tidak bisa menggoyahkan ketenangannya.
Mereka tahu, dalam keadaan seperti sekarang, ketenangan adalah kunci paling utama. Apapun yang terjadi, ketenangan tetap menjadi nomor satu.
Pada saat seperti itu, waktu terasa berjalan sangat lambat. Pagi hari seolah-olah tidak pernah usai. Dunia pun terasa berhenti.
Tiba-tiba, sekelompok prajurit Kekaisaran menabuh genderang perang bertalu-talu dengan suara yang sangat keras. Suara-suara itu ibarat ledakan guntur yang menggelegar di tengah hujan deras.
"Musuh telah datang!" kata Jenderal Guan besar lantang.
Ketika mendengar teriakan tersebut, semua pasukan langsung meningkatkan persiapan dan kewaspadaan. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu musuh tiba di wilayahnya.
Kalau sudah seperti itu, maka perang pun akan pecah seketika!
Beberapa waktu kemudian, ribuan pasukan musuh dari Kekaisaran Zhou sudah semakin dekat jaraknya. Pada saat itulah, Jenderal Guan kembali berteriak dengan sangat lantang.
"Serang!"
__ADS_1
Bersamaan dengan teriakan tersebut, para pasukan dari Kekaisaran Song juga langsung maju ke depan. Mereka menyambut datangnya ribuan musuh tersebut.
Wutt!!!! Wutt!!!
Ribuan batang anak panah dilepaskan dari tali busur sekuat tenaga. Ribuan titik hitam melesat di tengah udara. Dentingan nyaring dan teriakan menahan sakit mulai terdengar meramaikan suasana.
Di tengah hamparan padang rumput, di bawah awan yang gelap, ribuan prajurit dari dua Kekaisaran saat ini sudah mulai melangsungkan pertempurannya untuk membela tanah air masing-masing.
Prajurit yang dipimpin langsung oleh Jenderal Guan tampak buas. Mereka ibarat kelompok harimau yang akan menyerang siapa saja yang berani mendekat ke arahnya.
Ternyata apa yang dikatakan oleh dia sebelumnya memang tidak salah. Walaupun jumlah pasukan musuh lebih banyak, tapi buktinya Jenderal Guan bisa menerima mereka dengan kepercayaan penuh.
Secara perlahan, pasukan yang dipimpin olehnya mulai bisa menguasai medan peperangan. Benturan antar senjata terus terjadi. Korban jiwa dari kedua belah pihak mulai berjatuhan secara beruntun.
Darah segar menggenangi hamparan padang rumput. Mayat-mayat yang bergelimpangan itu terinjak-injak oleh para prajurit yang masih terus berjuang.
Dalam waktu yang sangat singkat saja, keadaan di hamparan padang rumput itu telah berubah menjadi kacau balau. Ribuan pasukan itu terus menghajar siapa pun yang berada di dekatnya.
Pertempuran tersebut sudah berlangsung selama tiga puluh menit. Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Guan semakin berada di atas angin.
Meskipun korban yang berjatuhan di antara mereka tidak sedikit, tapi hal itu masih tidak setara apabila dibandingkan dengan jumlah korban di pihak musuh.
Namun tiba-tiba, hal tersebut lenyap begitu saja. Sesuatu yang tidak diduga, mendadak terjadi.
Suara teriakan yang menyayat hati terdengar menggema ke tengah udara. Pasukan yang berada di bawah pimpinannya terlempar cukup jauh ke berbagai penjuru mata angin.
Tubuh mereka melayang seperti dedaunan kering tertiup angin. Begitu tubuhnya menyentuh tanah, nyawanya telah melayang dari raga.
"Kepung! Kepung mereka. Jangan biarkan orang-orang itu lolos!" teriak Jenderal Guan kepada pasukannya.
Sementara itu di tempat lain, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan juga sudah terjun ke arena pertempuran. Ketika pasukan musuh datang, lima orang tersebut memang sudah maju lebih dulu.
Mereka menghajar setiap musuh yang mendekat. Awalnya para tokoh tersebut berniat untuk menyerang orang-orang dunia persilatan di pihak musuh. Sayangnya saat itu mereka belum bisa menemukannya. Jadi mau tidak mau, orang-orang yang mereka hajar adalah prajurit Kekaisaran yang tidak terlalu pandai ilmu bela diri.
Ketika Jenderal Qi Guan berteriak barusan, kebetulan saat itu tokoh dunia persilatan yang ada di dekatnya adalah Zhang Fei. Karenanya tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia langsung melesat menuju ke arah sumber suara.
Tetapi pada saat dia berniat untuk pergi, tiba-tiba ada sekitar dua puluh orang pasukan musuh yang mendadak menghadang langkahnya.
__ADS_1
"Jangan harap kau bisa pergi, anak muda!" kata seorang prajurit bicara penuh percaya diri.
"Menyingkirlah. Aku tidak mau membunuh orang-orang awam seperti kalian," ucap Zhang Fei dengan nada dingin.
"Sombong! Serang bocah ini!" ujar prajurit itu mengajak rekannya.
Secara serempak dua puluh orang prajurit itu langsung menerjang dan menyerang Zhang Fei. Golok dan tombak telah bertebaran di tengah udara.
Namun sebelum serangan mereka tiba, Zhang Fei telah lebih dulu menyebutnya.
Pedang Raja Dewa segera dikeluarkan dari sarungnya. Kilatan cahaya putih keperakan memburu ke depan.
"Langit Biaskan Cahaya Surya!"
Wutt!!!
Pedang pusaka itu tiba-tiba berkelebat secepat kilat. Dua puluh senjata prajurit langsung kutung menjadi dua bagian ketika berbenturan langsung dengan Pedang Raja Dewa.
Bersamaan dengan jatuhnya senjata mereka, Zhang Fei juga kembali melanjutkan serangannya. Sepuluh tarikan nafas kemudian, dua puluh orang prajurit itu sudah kehilangan nyawanya?
Mereka tewas dengan luka sayatan pedang di beberapa bagian tubuhnya.
Ia memandangi mayatnya sekilas. Setelah itu langsung pergi melanjutkan niatnya yang sempat terhenti.
Wushh!!!
Sesaat kemudian, Zhang Fei telah tiba di dekat Jenderal Qi Guan.
"Jenderal, apakah kau melihat kehadiran tokoh dunia persilatan di pihak musuh?" tanya Zhang Fei.
"Benar, Tuan Muda," jawab Jenderal Guan sambil mengangguk.
"Di mana kau melihatnya?"
"Di depan sana!" Jenderal Guan berkata sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.
"Oh, baiklah. Terimakasih kalau begitu,"
__ADS_1
Tidak membuang waktu lebih lama, Zhang Fei langsung pergi ke tempat yang barusan ditunjuk oleh Jenderal Guan.