
Sepuluh hari telah berlalu kembali. Tiga orang Kaisar yang sebelumnya berada di Istana Kekaisaran Song, sudah kembali ke negerinya masing-masing sejak dua hari yang lalu.
Setelah kepergian mereka, dengan cepat Kaisar Song Kwi Bun menyebarkan surat kepada setiap Jenderal dan tokoh-tokoh persilatan yang bertugas di lapangan.
Isi dari surat itu adalah perintah tentang ditariknya para prajurit yang sebelumnya ditempatkan di setiap titik rawan perang.
Seperti yang sudah disepakati oleh empat Kaisar ketika rapat berlangsung, begitu jalan keluar dari masalah rumit ini ditemukan, maka masing-masing dari mereka harus menarik para pasukannya.
Maka dari itu, pada saat surat Kaisar disebarkan secara luas, para Jenderal dan tokoh-tokoh rimba persilatan segera menarik semua prajuritnya. Para Pendekar Aliansi Kekaisaran pun sudah kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Saat itu waktu menunjukkan tengah hari. Cuaca hari ini sangat panas. Matahari bersinar terik tanpa tertutup oleh segumpal awan.
Suasana di Gedung Ketua Dunia Persilatan terlihat sangat ramai. Hal itu disebabkan karena para pendekar aliansi telah berkumpul di sana.
Halaman depan yang biasanya sepi sunyi, sekarang telah dipenuhi oleh para pendekar yang tergabung dalam aliansi.
Mereka semua sedang duduk atau juga minum arak bersama rekannya masing-masing.
Sementara di ruang pertemuan, di sana terlihat sudah ada para tokoh utama dari kalangan persilatan. Mereka adalah Zhang Fei, Dewa Arak Tanpa Bayangan, Dewi Rambut Putih, Pendekar Pedang Perpisahan, Yao Mei dan juga Yin Yin.
Sejak beberapa saat yang lalu, orang-orang itu telah berkumpul dan membicarakan terkait hal ini. Jujur saja, baik para Datuk maupun Ketua Dunia Persilatan, mereka semua merasa kaget dengan keputusan yang diambil oleh Kaisar.
Sebab pada dasarnya, mereka masih belum mengetahui secara jelas terkait apa yang telah terjadi di Istana Kekaisaran.
"Menurut Tuan Kiang, kira-kira alasan apa yang telah membuat Kaisar Song memberikan perintah untuk menerima semua pasukan?" tanya Zhang Fei kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Semua tokoh yang ada di sana ikut memandangi orang tua itu. Mereka pun merasa penasaran terkait hal tersebut.
"Hemm ... aku belum tahu pasti, Ketua Fei. Tapi menurutku, Kaisar pasti mempunyai alasan yang sangat kuat," jawab orang tua itu. Walaupun dia sudah mencari jawaban untuk beberapa waktu, tetapi hasilnya tetap saja nihil. Dia tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan Zhang Fei.
Zhang Fei menghembuskan nafas panjang. Kalau Dewa Arak Tanpa Bayangan saja tidak mengetahui, lalu siapa yang akan tahu?
__ADS_1
Para tokoh tersebut segera terdiam. Masing-masing menundukkan kepalanya ke bawah.
"Ketua Fei, apakah alasannya adalah karena Kaisar sudah menyerah? Mengingat bahwa serangan musuh-musuh yang tidak pernah berhenti. Sehingga beliau memutuskan untuk pasrah?" tanya Yin Yin dengan polosnya.
"Tidak, tidak," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Kaisar Song bukan tipe orang seperti itu. Menurutku terlalu mustahil kalau dia menyatakan tunduk kepada musuh," Zhang Fei berkata dengan penuh rasa yakin.
Orang-orang di sisinya ikut mengangguk. Mereka tentu saja setuju dengan ucapannya.
"Ya, aku setuju dengan Ketua Fei," kata Pendekar Pedang Perpisahan dengan cepat.
"Aku juga," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Kaisar Song adalah bekas seorang patriot di masa lalu. Mana mungkin dia mau berubah menjadi seorang pengecut?"
Semua orang kembali terdiam. Sebab saat ini mereka tidak tahu harus berbicara apa.
"Tenang saja, alasan kenapa Kaisar menarik semua prsjurit bukan karena menyerah kepada musuh. Melainkan karena jalan keluar dari masalah besar ini sudah ditemukan," sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Tidak lama setelah itu, pintu ruangan langsung terbuka. Disusul kemudian dengan munculnya dua orang pria tua yang sudah tidak asing lagi.
Orang Tua Aneh Tionggoan dan Pendekar Tombak Angin!
Semua tokoh yang sudah ada sejak tadi, saat ini sedang memandang ke arahnya. Mereka semua sedang menantikan ia melanjutkan ucapannya.
Namun sebelum itu, Orang Tua Aneh Tionggoan lebih dulu mengambil tempat duduk dan minum arak cukup banyak.
Ia tampak begitu tenang dan santai. Terhadap beberapa pasang mata yang terus memperhatikannya tanpa berkedip, seolah-olah orang tua itu tidak mengetahui sama sekali.
"Begini ..." lewat beberapa saat kemudian, dia melanjutkan bicaranya. "Sepuluh hari yang lalu, tiga Kaisar lain telah memenuhi undangan yang diberikan oleh Kaisar Song. Mereka sengaja datang untuk membicarakan peperangan di Tionggoan ini,"
"Lalu? Apa yang terjadi?" tanya Zhang Fei dengan cepat.
Walaupun dia sudah mendengar kabar ini sebelumnya, namun tetap saja Ketua Dunia Persilatan merasa penasaran dengan hasil rapat tersebut.
__ADS_1
"Akhirnya, tiga Kaisar telah menyatakan persetujuannya terkait jalan keluar yang diusulkan oleh Kaisar Song,"
"Apakah jalan keluar yang dimaksud, adalah pertarungan antara salah satu Datuk dan Ketua Dunia Persilatan dari negeri masing-masing?"
"Ya, tepat sekali, Ketua Fei," katanya sambil mengangguk.
Zhang Fei tidak berkata lagi. Dia hanya menghembuskan nafas panjang.
Sementara di sisi lain, Yao Mei dan Yin Yin tampak sangat terkejut dengan ucapan barusan. Kedua gadis cantik itu tidak menyangka tentang jalan keluarnya.
"Tunggu dulu, Tuan Kai!" kata Yao Mei dengan cepat. "Apakah Tuan Kai tidak salah dengar? Benarkah itu jalan keluar yang dimaksud oleh Kaisar?" ia menatap orang tua tersebut dengan tajam.
"Tentu saja tidak, Nona Mei. Aku bahkan sudah tahu hal ini sejak jauh-jauh hari,"
"Tidak bisa!" Yin Yin ikut bersuara. "Ini tidak bisa dijadikan jalan keluar,"
"Memangnya kenapa, Nona Yin?" tanya Pendekar Tombak Angin ikut nimbrung.
"Menurutku, ini tidak adil. Mengapa yang harus bertarung adalah salah satu Datuk dan Ketua Dunia Persilatan saja? Memangnya, kedua orang itu adalah ayam jantan yang pantas untuk diadu?"
Yin Yin terlihat tidak terima. Wajahnya menggambarkan kekesalan. Sepasang matanya juga tampak lebih tajam lagi.
Menurut pendapatnya, hal ini sangat tidak adil. Terutama sekali bagi Datuk dan Ketua Dunia Persilatan yang terpilih itu.
Bagaimana mungkin mereka harus bertarung sampai ke titik ini? Bukankah semua yang terjadi ini, adalah karena ulah para penguasa itu?
Orang Tua Aneh Tionggoan seketika tersenyum getir. Begitu juga dengan orang-orang di sisinya.
Apa yang disampaikan oleh Yin Yin barusan memang ada benarnya. Bahkan Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri merasa setuju.
Namun semua kembali lagi. Keputusan ini keluar langsung dari mulut Kaisar. Jadi bagaimanapun juga, mereka tetap harus menurutinya.
__ADS_1
Mau tidak mau, suka atau tidak, mereka harus tetap melaksanakannya!
"Nona Yin, sebenarnya hati kecilku juga tidak terlalu setuju dengan keputusan ini. Dan aku rasa yang lain pun sama sepertiku. Tetapi mau bagaimana lagi? Kita adalah rakyat, dan ia adalah Kaisar. Perintahnya bagaikan Tuhan! Selain menerima, memangnya apa lagi yang bisa kita lakukan?"