Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiga Pendekar Keji


__ADS_3

"Cihh! Sombong sekali. Di mata mereka mungkin kau sangat hebat. Tapi di mata Tiga Pendekar Keji, kau tidak ada apa-apanya, gadis ******," pria tua yang berada di posisi tengah berbicara.


Dari tatapan matanya, bisa dilihat bahwa saat itu dia benar-benar merendahkan Yao Mei.


"Oh, jadi ... kalian juga mempunyai julukan? Hemm ... sayangnya, menurutku julukan itu tidak pantas. Kalian lebih pantas kalau dijuluki Tiga Tua Bangka Tak Berguna,"


"Bocah setan! Berani sekali kau menghina kami!" pria tua di sebelah kiri sangat marah. Dia tentu tidak terima setelah mendengar penghinaan barusan.


"Hehehe ... jadi kalian tidak terima? Baguslah. Aku ingin lihat, apa yang ingin kalian lakukan selanjutnya,"


Yao Mei menantang mereka secara terbuka. Setelah berkata seperti itu, dia pun langsung kembali melakukan persiapan.


"Jangan berisik. Tahan golokku!"


Wushh!!!


Pria tua itu langsung melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Kemampuan yang dia miliki ternyata tidak bisa dipandang rendah.


Yao Mei harus mengakui hal tersebut. Buktinya saja, baru beberapa kali mengambil nafas, tahu-tahu orang tua itu telah tiba di hadapannya.


Sebatang golok datang dari sebelah kanan. Golok itu membacok ke arah pundak. Yao Mei sedikit kaget karena melihat cepatnya serangan lawan.


Namun dia pun segera menghindarkan dirinya. Setelah berhasil, ia langsung memberikan serangan susulan.


Sepasang pedang kembar itu kembali bergerak bagaikan dua ekor naga. Tebasan dan tusukan pedang segera datang bagaikan hujan deras di tengah malam.


Si pria tua langsung terlihat kewalahan. Meskipun masih bisa bertahan, tapi rasanya dia tidak akan mampu bertindak lebih jauh lagi.


Dua orang rekannya yang berada di belakang mampu melihat hal itu dengan jelas. Buru-buru mereka menerjang maju dan membantunya supaya bisa mendapatkan posisi kembali.


Tiga pria tua yang mengaku berjuluk Tiga Pendekar Keji itu kini mulai menyerang Yao Mei secara bersamaan. Setelah adu jurus beberapa waktu, akhirnya mereka memutuskan untuk mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuannya.


Dua batang golok dan satu batang pedang besar datang silih berganti. Setiap jurus dan serangan yang mereka berikan selalu berbeda-beda.


Yao Mei cukup kerepotan. Apalagi setelah mengetahui bahwa jurus ketiga lawannya itu benar-benar keji.


Dalam pertarungan tersebut, mereka tiga segan-segan untuk melakukan berbagai macam kelicikan. Namun Yao Mei pun tidak mau kalah, dengan cepat dia menggelar jurus-jurus pedang kembar yang jauh lebih hebat lagi.

__ADS_1


"Sepasang Pedang Mengamuk di Padang Pasir!"


Wushh!!!


Yao Mei berteriak lantang. Jurus pedang kembar warisan dari tokoh besar di masa lalu, segera digelar.


Perang kembar itu menyerang ke arah tiga pria tua sekaligus. Kecepatan dan kelincahannya benar-benar sulit dibaca. Arah serangan dari setiap gerakan itu pun tidak bisa ditebak.


Tiga Pendekar Keji semakin kewalahan. Walaupun mereka sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya, namun ternyata hal itu masih kurang.


Yao Mei masih tetap mendominasi pertarungan. Dia bahkan bisa mendesak mereka secara bergantian.


Dalam segi pengalaman, mungkin ketiganya menang jauh. Tapi dari segi tenaga dan kelincahan, Yao Mei jauh lebih unggul dari mereka.


Pertarungan tersebut masih berlanjut. Semakin lama, makin bertambah seru lagi.


Perlahan tapi pasti, Yao Mei akhirnya bisa mendesak serius ke arah salah satu pria tua. Sepasang pedangnya terus memburu. Ke mana pun lawan menghindar, dia pasti akan mengejarnya.


Srett!!!


Darah segar menyembur. Pria tua yang menggunakan pedang besar sebagai senjatanya, kini telah roboh di atas tanah dengan darah yang menggenangi seluruh tubuh.


Sayangnya, semua usaha itu masih belum juga membuahkan hasil yang maksimal. Jurus Yao Mei terlalu sulit untuk dibaca. Ditambah lagi, mereka tidak mampu menyaksikan gerakannya secara jelas karena saking cepatnya jurus tersebut.


Bentakan nyaring dan benturan keras terjadi secara terus-menerus. Dua pria tua itu masih berusaha memberikan perlawanan.


Tetapi ketika pertarungan mencapai tiga puluh jurus, mendadak Yao Mei membentak nyaring. Tubuhnya kemudian mencelat ke atas, lalu turun dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya.


"Naga Menukik Menghancurkan Bumi!"


Wutt!! Srett!!! Srett!!!


Sepasang pedang kembar itu bergerak secara bersamaan. Dua orang pria tua tidak mampu menahannya lagi. Luka-luka akibat tebasan pedang langsung tercipta di beberapa bagian tubuhnya.


Tidak lama kemudian, kedua pria tua itu pun segera menyusul rekannya. Mereka tewas dengan kondisi yang cukup mengenaskan.


"Hahh ... akhirnya selesai juga," gumam Yao Mei sambil menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


Ia kemudian menyarungkan kembali sepasang pedang kembarnya. Yao Mei tidak langsung pergi dari sana, untuk beberapa saat, gadis cantik itu tampak memandangi korbannya secara bergantian.


Dia merasa sangat puas. Jurus-jurus pedang kembar warisan dari tokoh ternama itu sungguh dahsyat sekali.


Warisan tenaga dalam dan tenaga sakti dari ayahnya juga tidak kalah hebat. Dengan perpaduan yang sangat sempurna itu, akhirnya terciptalah seorang pendekar wanita muda yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata.


Sementara di sisi lain, tanpa Yao Mei sadari, sejak tadi sebenarnya ada seseorang yang memperhatikan pertarungannya mulai dari awal sampai akhir.


Sosok itu sangat misterius. Ia mengenakan pakaian serba putih dan kain penutup wajah dengan warna serupa. Sosok tersebut berdiri di antara celah-celah batang pohon yang cukup rapat.


Sehingga siapa pun akan sulit untuk melihat dirinya. Kalau pun Yao Mei merasakan ada kehadiran orang lain, niscaya dia tidak akan mudah bisa menemukannya.


"Bagus. Akhirnya dia telah berhasil juga menguasai jurus-jurus itu," gumam sosok tersebut sambil mengangguk girang.


Setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba sosok itu menjejakkan kakinya ke atas tanah. Dalam waktu satu kedipan mata, dia sudah menghilang tanpa bisa di diketahui ke mana perginya.


Sementara itu, setelah puas memandangi semua korbannya, Yao Mei juga segera pergi dari sana. Dia membiarkan belasan mayat itu tergeletak begitu saja.


Gadis cantik tersebut berniat untuk kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan.


###


Matahari baru saja lewat di atas kepala. Yao Mei telah kembali berada di Gedung Ketua Dunia Persilatan. Saat ini, dia sedang duduk tenang di ruang belakang.


Di sana tidak ada siapa-siapa kecuali Yao Mei. Para tokoh yang biasa berkumpul masih belum kembali dari tugasnya.


"Eh, kau sudah pulang, Nona Mei?" tanya Zhang Fei yang tiba-tiba muncul.


"Ya, aku baru saja tiba di sini," jawab Yao Mei seraya mengangguk.


"Bagaimana, setelah berjalan-jalan, apakah rasa bosanmu sudah hilang?"


"Lumayan," jawbanya sambil tertawa.


Zhang Fei segera duduk di hadapannya. Dia menuangkan arak ke dalam dua cawan.


"Silahkan diminum, Nona Mei,"

__ADS_1


Gadis itu mengangguk. Mereka kemudian bersulang arak sebanyak tiga kali.


"Nona Mei, kenapa di pakaianmu ada noda darah?" tanya Zhang Fei setelah menyadari sesuatu.


__ADS_2