
"Jadi, bagaiamana caranya supaya aku bisa menjadi seorang Dewa Pedang sejati, Tuan?" tanya Zhang Fei setelah beberapa waktu kemudian.
"Itu mudah. Kau cukup mengosongkan dirimu dan masukkanlah pedang itu ke dalam jiwa. Kosong adalah isi, dan isi adalah kosong," jawab si orang tua sambil tersenyum hangat. "Pada dasarnya, manusia itu mempunyai satu kekuatan istimewa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Tinggal bagaimana si orang itu sendiri, apakah dia bisa menggunakan kekuatan tersebut atau tidak,"
Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Sedikit banyaknya, dia mulai paham terkait apa yang telah disampaikan oleh si orang tua.
Sebenarnya setiap perkataan itu mengandung makna-makna kehidupan yang dalam. Zhang Fei mengerti akan hal tersebut. Dan sepertinya si orang tua memang sengaja memberikan kiasan-kiasan berupa teka-teki agar dia mencari jawabannya sendiri.
"Baiklah, sekarang aku mulai paham. Aku berjanji, secepatnya aku akan mencari jawaban dari semua ini," ia berkata dengan penuh semangat.
"Bagus," ucap orang tua serba putih sambil mengangguk. "Kalau sudah bisa menemukan jawaban yang sesungguhnya, maka kau pun akan bisa sepertiku,"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, tiba-tiba Zhang Fei merasakan ada satu kekuatan tak kasat mata yang sangat besar.
Kekuatan itu terasa seperti hawa pedang. Hawa pedang yang benar-benar tajam. Selama dia mengembara dalam dunia persilatan, selama dia bertarung dan bertemu dengan berbagai macam tokoh di kolong langit, rasanya Zhang Fei tidak pernah merasakan kekuatan sebesar ini.
Detik itu juga seluruh tubuhnya langsung bergetar seolah-olah kehabisan tenaga.
"Tu-tuan ... siapa ... siapa kau sebenarnya?" tanya Zhang Fei dengan bibir bergetar.
"Panggil saja aku Pendekar Naga Putih, anak Fei! Berjuanglah! Angkat kembali harkat dan martabat Keluarga Zhang. Jangan sampai kau mempermalukan leluhurmu,"
Suara itu terdengar sangat jauh. Tiba-tiba saja sosok orang tua yang tadi duduk di atas batu pun langsung menghilang entah ke mana.
Zhang Fei benar-benar kaget. Dia segera berteriak sekeras mungkin dengan harapan orang tua yang mengaku Pendekar Naga Putih itu bisa kembali lagi kepadanya.
"Tuan Pendekar Naga Putih ..."
Dia langsung kembali ke alam sadar dan seketika terbangun dari tidurnya.
"Ketua Fei? Ada apa? Apa yang terjadi?" seorang penjaga yang tadi berdiri di pintu tiba-tiba masuk dan menghampirinya.
Tidak lama setelah itu, rekannya juga ikut masuk ke dalam ruangan.
Zhang Fei memandangi mereka dengan tatapan bingung. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Ah, tidak, tidak. Mungkin aku sedang bermimpi," jawabnya setelah merasa tenang.
"Oh, baiklah, Ketua Fei," penjaga itu lalu mengambilkan minum. Setelahnya, dia berikut rekannya langsung kembali menjaga diluar.
Sementara Zhang Fei, sampai beberapa waktu, dia masih duduk dan melakukan mimpi yang baru saja dia lewati.
"Masukkanlah pedang ke dalam diri. Kosong adalah isi ... dan isi adalah kosong," Zhang Fei terus menggumamkan kata-kata itu sampai beberapa kali.
Namun beberapa saat kemudian, ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Sebab pada saat itu kepalanya terasa pusing.
###
Dua minggu sudah berlalu kembali. Keadaan di Gedung Ketua Dunia Persilatan saat ini terlihat ramai. Semua orang merasa bahagia, karena Zhang Fei telah pulih seperti sedia kala.
Satu hari sebelumnya, semua orang yang ada di Gedung Ketua Dunia Persilatan tidak ada yang percaya dengan kejadian ini. Jangankan para pekerja, bahkan para tokoh yang selalu ada di sisi Zhang Fei pun tidak percaya bahwa dia bisa sembuh hanya dalam waktu dua minggu.
Bagaimana tidak? Luka yang dia derita pada saat itu benar-benar parah. Bahkan nyawanya pun sudah diujung tanduk.
Semua orang tahu akan hal tersebut!
Namun siapa sangka, dua minggu kemudian, seluruh lukanya telah mengering. Bahkan kondisi tubuhnya juga telah kembali normal seperti sedia kala.
Kalau tidak menyaksikan secara langsung, niscaya siapa pun tidak akan ada yang percaya dengan kejadian ini!
Pada waktu itu, ketika semua orang sedang ramai memuji dan memperbincangkan dirinya, Zhang Fei justru malah mengurung di kamar pribadinya.
Dia telah memberi perintah kepada pendekar di sana agar tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya.
"Sepenting apapun, ada masalah apapun, tolong jangan ganggu aku selama tiga hari ke depan," katanya ketika dia memberi pesan kepada si penjaga.
###
Semua tokoh tidak ada yang tahu apa yang sedang dilakukan oleh Zhang Fei di kamar pribadinya itu. Hanya saja, semua orang telah setuju supaya tidak ada yang mengganggunya.
Jadi selama tiga hari ke depan, mereka hanya bisa menunggu Zhang Fei keluar dari kamar dan menanyakan apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Sementara itu, khusus untuk Zhang Fei, selama tiga hari diam di kamar, maka selama itu pula dia melakukan meditasi.
Zhang Fei sedang berusaha mencari jawaban dari teka-teki yang diberikan oleh Pendekar Naga Putih di dalam mimpinya.
Meditasi di hari pertamanya gagal. Hari kedua mulai menemukan titik terang, sampai pada akhirnya, tepat pada hari ketiga, Zhang Fei berhasil menemukan semua jawaban yang dia cari selama ini.
"Hahh ..." ia membuka mata dan bangkit berdiri. Zhang Fei segera menyeka keringat di wajahnya. Beberapa saat kemudian, dia langsung pergi untuk membersihkan diri.
Zhang Fei baru keluar dari kamar setelah matahari tenggelam dan malam mulai menyapa muka bumi.
Ia berjalan ke arah ruang belakang yang biasa digunakan untuk bersantai bagi para tokoh utama. Begitu tiba, ternyata benar dugaan sebelumnya, di sana sudah ada para Datuk Dunia Persilatan berikut dua gadis cantik yang sedang berkumpul sambil minum arak.
"Anak Fei!"
"Zhang Fei!"
Mereka berseru girang ketika melihat kedatangannya. Semua orang langsung berdiri sambil tersenyum kepadanya.
Zhang Fei membalas senyuman mereka. Dia memberikan hormat setelah berada di hadapan orang-orang penting itu.
Begitu dirinya duduk di bangku biasa, Yao Mei langsung menuangkan arak untuknya. Sementara Yin Yin langsung memberikan satu buah bakpao isi daging.
Kedua gadis itu memberi pelayanan dengan lemah lembut. Zhang Fei merasa terharu sekaligus bahagia.
Pertama dia menerima dan menghabiskan arak pemberian Yao Mei. Kemudian dirinya segera menyantap bakpao dari Yin Yin sampai habis tanpa sisa.
"Terimakasih. Kalian berdua benar-benar baik," katanya sambil tersenyum ke arah mereka.
"Kenapa kau harus berterimakasih? Ini kan sudah menjadi kewajiban kami," ucap Yao Mei sambil tertawa.
"Ya, itu benar. Jadi kau tidak perlu berterimakasih," sambung Yin Yin.
Zhang Fei langsung tertawa. Dia tidak banyak berkata lagi. Hanya sepasang tangannya saja yang mengelus-elus kepala keduanya.
"Anak Fei, bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Aku sudah merasa lebih baik, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei sambil tersenyum. Ia lalu mencoba mengeluarkan "hal barunya".
Seluruh ruangan di sana seketika langsung diselimuti oleh hawa pedang yang sangat pekat.